Bagi sebagian orang, perjalanan dengan bus adalah soal kecepatan, fasilitas, dan nama besar PO. Oleh karena itu, pemain-pemain besar menyajikan pelayanan premium melalui sleeper seat, dekorasi interior yang tampak seperti kabin pesawat, dan layanan mewah lainnya. Namun, di jalur selatan Jawa, ada bus yang tetap mengaspal dengan caranya sendiri. Tanpa gegap gempita promosi seperti PO besar lainnya, tanpa klaim kemewahan, tapi selalu dirindukan. Namanya: Bus Sumber Alam.
Harga Rp150 ribuan sudah dapat jatah makan
Saya sendiri baru sekali menggunakan jasa bus yang katanya “andalan orang biasa” ini. Kira-kira pertengahan 2023 lalu untuk perjalanan Jogja-Jakarta. Alasan saya menggunakan armada ini, tak lain dan tak bukan karena harganya miring.
Seingat saya, cuma Rp155 ribu saat itu, dan sudah mendapatkan voucher sekali makan.
Saya memang tak terbiasa melakukan perjalanan jauh via bus. Lebih banyak mengandalkan kereta api. Namun, karena kehabisan tiket murah, seorang kawan merekomendasikan bus ini mengingat harganya masih ramah di kantong.
Yang saya ingat, saat itu perjalanan start pukul 06.00 pagi di garasi PO Sumber Alam Jogja. Lokasinya tak jauh dari Terminal Giwangan. Yang bikin saya kaget, ternyata yang saya naiki itu adalah bus penghubung menuju kantor pusat Sumber Alam di Kutoarjo.
Meskipun cuma bus transit, bagi saya armadanya sudah sangat oke untuk harga segitu. Fasilitas standard, lah ya. Namun, yang bagi saya paling unik, adalah keberadaan smoking area di bagian belakang yang didesain cerdas. Ia memiliki jendela yang bisa dibuka agar asap keluar, tapi tetap dilengkapi AC sehingga suhu kabin tetap terjaga dan tidak pengap.
Setelah tiba di Kutoarjo, saya diarahkan buat oper ke bus utama yang akan membawa ke Jakarta. Bus ini menggunakan sasis Mercedes-Benz (Mercy) 1525 dengan bodi dari karoseri Laksana.
Walaupun bus tersebut sudah tidak lagi berusia muda, interiornya terasa sangat segar dan bersih.
Sepanjang perjalanan? Untuk bus seharga Rp155 ribu dengan fasilitas sekali makan, menurut keyakinan saya itu sudah sangat memuaskan. Saya punya standard kecil untuk menentukkan kenyamanan naik transportasi umum jarak jauh: asal tidak mual, artinya itu bus nyaman.
Jalur selatan memang “jelek”, tapi selalu ada cerita
Perasaan serupa, bahkan jauh lebih berkesan, juga dirasakan Eka (30), seorang pekerja swasta yang rutin bepergian dari Jogja ke Jakarta. Di tengah banyaknya pilihan bus di rute yang sama, Sumber Alam baginya tak tergantikan.
“Kalau mau jujur, saya bisa saja naik bus lain. Lebih cepat, lebih baru. Tapi rasanya beda,” katanya, kepada Mojok, Sabtu (9/1/2026) lalu.
Rasa beda itu, menurut keyakinan Eka, bermula dari jalur yang dipilih. Sumber Alam setia melintasi jalur selatan–via Banyumas, Kebumen, hingga Songgom.
Jalur ini memang bukan rute ideal bagi mereka yang mengejar waktu. Pasalnya, banyak ruas jalan berlubang. Belum lagi proyek perbaikan jalan yang memaksa bus melambat.
“Tapi kita dapat pemandangan desa, yang berjalan pelan. Tapi justru di situlah letak kesenangannya,” ungkapnya. “Kadang ketemu sawah, sungai, pasar kecil. Kadang macet, kadang mulus. Tapi selalu ada yang bisa dilihat.”
Ia mengakui, jalur selatan bukan jalur ideal. Bahkan, kalau mau pakai kata yang frontal, “jalur jelek”. Namun, bagi Eka, perjalanan yang tidak terburu-buru memberi ruang bagi kenangan untuk muncul.
Baca halaman selanjutnya…
Penuh kenangan bersama ayah. Sekaligus mengingatkan pada dapur rumah.














