Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
14 Maret 2026
A A
Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO

Ilustrasi - Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Hidup di tengah keluarga tamak dan suka pamer memang menguras emosi. Tahunya cuma adu pencapaian tentang karier mentereng, gaji besar, aset materiil, dan capaian-capaian yang kasat mata. Sementara usaha dan kerja keras mati-matian tidak dihargai. 

***

Film Tunggu Aku Sukses Nanti dengan tokoh utama Arga yang diperankan Ardit Erwandha memang belum tayang serentak di bioskop. Namun, ada cuplikan dari film tersebut—yang menjadi materi promosi di media sosial—yang terasa begitu dekat dengan realitas. 

Salah satunya yakni ketika Arga—yang masih struggle mencari pekerjaan—dicecar dengan pertanyaan, “Emangnya kamu nggak malu gini-gini terus?”. 

Saat cuplikan tersebut melintas di beranda Instagram Zayn (27), ia sontak berseru kecil, “Bajingan!”. Pertama, karena pertanyaan itu memang terdengar bajingan bagi Zayn. Kedua, model anggota keluarga seperti itu ternyata juga merecoki hidup Zayn: anggota keluarga yang suka adu pencapaian dengan standar sukses ala mereka sendiri.

Diperlakukan seperti aib keluarga gara-gara budaya adu pencapaian

Zayn mungkin lebih beruntung dari karakter Arga. Pasalnya, secara ekonomi, orang tua Zayn yang pegawai cenderung lebih stabil ketimbang orang tua Arga yang digambarkan mengalami kesulitan finansial. Ya walaupun sebenarnya hanya pegawai rendahan. 

Namun, persoalannya, keluarga besar Zayn hidup dengan standar sukses yang harus dikejar oleh siapapun di dalam anggota keluarga tersebut.

“Sukses artinya ya kerja mentereng, karier mentereng, gaji besar, dan punya aset sendiri dari gaji itu,” ucap pemuda asal Tangerang itu bercerita, Jumat (13/3/2026). 

Sayangnya, perjalanan Zayn tidak mudah. Selepas lulus kuliah, Zayn agak kesulitan mencari pekerjaan formal. Alhasil ya dibanding-bandingkan. 

Pasalnya, beberapa saudara Zayn terpantau bisa langsung kerja begus selepas lulus kuliah S1. Kalau tidak di perkantoran swasta ya instansi negeri.

“Walaupun aku tahu, sebenarnya ada dari mereka yang pakai relasi ordal (orang dalam). Sementara bapakku kan pegawai rendahan, jadi ya nggak mungkin lah aku bisa ngakses kerjaan dengan gampang,” ucap Zayn. 

Zayn mengaku kerap mendapat cibiran pedas:

“Sudah dikuliahkan mahal-mahal masa nggak jadi apa-apa.”

“Nggak serius sih cari kerjanya.”

Iklan

“Kalau kelamaan nganggur, kasian bapakmu, nanti ikut malu.”

“Saudara-saudaramu aja bisa langsung kerja, masa kamu nggak bisa.” Tak pelak jika Zayn merasa dirinya sebagai aib keluarga. 

Pasti kalah kalau adu pencapaian

Setelah mendapat pekerjaan, apakah cibiran itu selesai? Ternyata tidak. Sebab, dalam lingkungan keluarga dengan standar sukses materiil yang hobi adu pencapaian, kamu tidak boleh jadi biasa-biasa saja atau lebih rendah dari pencapaian orang lain. 

Zayn pada akhirnya memang bisa bekerja di sektor swasta. Gajinya di angka Rp4 jutaan. Tapi itu tidak cukup. 

“Selalu ada momen saling adu pencapaian. Pasti aku kalah di situ. Karena standar sukses itu terus bertambah,” gerutu Zayn. 

Gambarannya begini: awalnya tuntutan pada Zayn adalah agar lekas kerja. Setelah Zayn kerja, yang menjadi sorotan adalah karier mentereng atau tidak? Kalau tidak pada karier, maka pertanyaannya ada pada gaji (besar atau berapa?). Tapi kemudian gaji menjadi tidak penting lagi. Sebab, yang paling penting bagi keluarga besar Zayn adalah: bisa apa kamu dengan gaji itu? 

“Kalau rumah tetep nggak kebeli, mobil baru nggak kebeli, hp masih merek lama, ya tetap akan dianggap gitu-gitu aja, belum memenuhi standar sukses,” ucap Zayn. “Jelas aku kalah terus kalau adu pencapaian.”

Orang tua tidak menenangkan, justru menambah beban 

Beban lain yang Zayn pendam: ia belum bisa memastikan, apa yang sebenarnya ada di benak orang tuanya sendiri? Apakah mereka juga berpikiran sama seperti keluarga besar? 

Orang tua Zayn memang tidak pernah menuntut Zayn macam-macam. Kalau mendapat pertanyaan soal perkembangan karier Zayn, orang tua Zayn sering kali menjawab, “Masih usaha. Sambil didoakan lah semoga bisa sukses.”

Sementara ibu Zayn selalu berpesan kepada Zayn, “Pelan-pelan aja, Zayn. Nanti juga ada jalannya.” 

Zayn bingung menangkap isyarat-isyarat tersebut. Bisa saja memang orang tua Zayn tidak pernah memasang standar sukses sebagaimana keluarga besar lainnya. Tapi bisa juga mereka diam-diam memendam malu karena langkah Zayn yang tertinggal dan terbilang lamban. 

“Aku pernah iseng tanya, apakah aku mengecewakan mereka? Mereka jawabnya diplomatis sih, bilang kalau semua ada waktunya. Usaha nggak mengkhianati hasil. Jadi aku nangkepnya, mereka sebenarnya juga berharap suatu saat aku bakal sampai ke pencapaian yang bisa mereka pamerkan,” beber Zayn. 

Jadi, alih-alih merasa ditenangkan, Zayn justru merasa orang tuanya juga memberi beban agar Zayn tetap mengejar pencapaian berdasarkan standar sukses yang dipasang keluarga besar. 

Usaha dan kerja keras terasa sia-sia

Seingat Zayn, tidak ada saudaranya yang secara eksplisit menyebut nominal gaji masing-masing. Hanya saja, aset mereka kelihatan. Misalnya pilihan merek hp, aset kendaraan pribadi, dan cerita perburuan rumah bagus yang bagi Zayn sebenarnya terdengar seperti bualan belaka. 

Zayn curiga, jangan-jangan, ada kepalsuan di balik apa yang kasat mata. Akan tetapi, realitasnya, Zayn dianggap masih tertinggal dari banyak sisi: gaji dianggap tidak seberapa besar, karier pun tidak mentereng amat. 

“Aku akhirnya memahami, usaha keras, kerja mati-matian, itu nggak ada artinya. Itu nggak penting. Yang paling penting, kalau mau menang dalam momen adu pencapaian, adalah siapa yang paling gede aspek materiilnya. Kalau kerja kerasnya aja yang gede, nggak dianggep,” tutur Zayn. 

“Belum nanti soal nikah. Ada standarnya loh di mereka. Ada batas minimum status sosial keluarga orang yang dinikahi,” imbuhnya.

Sebenarnya, setelah bekerja tetap dan mengambil beberapa pekerjaan freelance, Zayn bisa menyisihkan uang untuk mengejar list-list pencapaian. Namun, hasrat itu selalu tertahan dengan kalkulasi rasional: bukankah menyiapkan tabungan atau investasi jauh lebih penting untuk masa mendatang ketimbang memberi makan ego konsumtif? 

“Kerja segitu kerasnya tapi nggak kelihatan hasilnya. Uangnya dikemanain, sih?.” Ah, paling-paling kalimat seperti itu yang akan diberondongkan ke wajah Zayn. Bajingan memang, kalau kata Zayn. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Anak Perempuan Pertama Mengorbankan Masa Muda demi Hidupi Orang Tua Miskin dan Adik Tolol, Tapi Tetap Dihina Keluarga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 14 Maret 2026 oleh

Tags: adu pencapaiangaji besarkarier menterengkerjakerja keraspencapaianpilihan redaksistandar sukses
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Derita orang Jember kerja di Jakarta: teralienasi karena dianggap tertinggal MOJOK.CO
Urban

Orang Jember Kerja di Jakarta: Mencoba Berbaur tapi “Tersisihkan”, Dianggap Tertinggal dan Tak Tersentuh Pendidikan

16 April 2026
Ribetnya punya mobil di desa. Bisa menjadi musuh masyarakat perkara parkir. Rawan jadi korban iseng bocil-bocil nakal MOJOK.CO
Catatan

Repotnya Punya Mobil di Desa: Bisa Jadi “Musuh Masyarakat” Perkara Parkir dan Garasi, Masih Rawan Jadi Korban Kenakalan Bocil-bocil

15 April 2026
kuliah, wisua, sarjana di desa.MOJOK.CO
Edumojok

Jadi Sarjana di Desa, Bangga sekaligus Menderita: Dituntut Bisa Segalanya, tapi Juga Tak Dihargai Tetangga dan Dicap “Beban Keluarga”

15 April 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO
Sehari-hari

Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri

14 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gagal kerja di Jakarta sebagai musisi. MOJOK.CO

Nekat ke Jakarta Hanya Modal Ambisi sebagai Musisi, Gagal dan Jadi “Gembel” hingga Bohongi Orang Tua di Kampung

11 April 2026
kuliah, wisua, sarjana di desa.MOJOK.CO

Jadi Sarjana di Desa, Bangga sekaligus Menderita: Dituntut Bisa Segalanya, tapi Juga Tak Dihargai Tetangga dan Dicap “Beban Keluarga”

15 April 2026
Sampit, Kota yang Dianggap Tertinggal tapi Nyatanya Jauh Lebih Maju dari Kebanyakan Kabupaten di Jawa.MOJOK.CO

Sampit, Kota yang Dianggap Tertinggal tapi Nyatanya Jauh Lebih Maju dari Kebanyakan Kabupaten di Jawa

13 April 2026
Vera Nur Fadiya, kuliah di jurusan sepi peminat (Matematika) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, jadi jalan wakili mimpi orang tua MOJOK.CO

Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah

11 April 2026
Musisi Tak Lagi Punya Nyali: Saat Lagu Indonesia Kehilangan The Mercy’s, Slank, dan Iwan Fals MOJOK.CO

Musisi Tak Lagi Punya Nyali: Saat Lagu Indonesia Kehilangan The Mercy’s, Slank, dan Iwan Fals 

15 April 2026
Skripsi Jurusan Antropologi Unair susah. MOJOK.CO

Kecintaan Mengerjakan Skripsi di Jurusan Antropologi Unair, Malah Jadi “Donatur Tetap” dan Tersadar karena Nasihat Timothy Ronald

14 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.