Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

“Bohong” ke Keluarga Saat Mudik Lebaran: Rela Habiskan Uang Berjuta-juta agar Dicap Sukses padahal Cuma Karjimut di Jogja

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
9 Maret 2026
A A
Karjimut di Jogja yang merantau pilih tidak mudik Lebaran. MOJOK.CO

ilustrasi - karjimut di Jogja yang 4 tahun tidak mudik karena merasa nggak penting. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sudah 4 tahun ini Toha* (22) merantau dari Jambi ke Jogja. Selama itu pula ia melewatkan Lebaran di kampung halaman. Sebab, bagi anak rantau sekaligus karyawan bergaji imut (karjimut) seperti dirinya, mudik adalah beban finansial alih-alih tanggung jawab moral.

***

4 tahun yang lalu, Toha memutuskan merantau dari Jambi ke Jogja untuk kuliah. Lulus sarjana, ia tak langsung pulang ke Jambi karena mendapat kerja di Jogja. Di tengah kesibukannya itu, Toha juga harus menahan diri untuk pulang kampung.

“Aku merasa mudik tidak terlalu penting saat itu, karena masih menjadi mahasiswa dan belum ada pemasukan tetap. Aku juga merasa belum ada hal yang terlalu penting untuk pulang kampung,” ujar Toha saat dihubungi Mojok, Kamis (5/3/2026).

Toha paham mudik hanya akan menghabiskan waktu karena lamanya perjalanan untuk menyeberang pulau dari Jogja ke Jambi. Apalagi, biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Toha takut akan membebani orang tuanya. Toh, setiap hari ia selalu memastikan untuk memberi kabar orang tuanya lewat WhatsApp. 

“Untungnya, sejak Lebaran tahun pertama, orang tuaku tidak terlalu menuntut untuk pulang ke kampung halaman,” kata Toha.

Lelahnya perjalanan mudik yang jarang keluarga tahu

Namun, seiring bertambahnya usia, Toha tak memungkiri ada masa dirinya merindukan suasana rumah. Setelah lelah seharian bekerja untuk mencari uang di perantauan, rasanya Toha ingin kembali terhubung dengan orang-orang tercinta.

“Aku kangen masa-masa dimana kami sekeluarga kumpul,” ucap Toha. 

Oleh karena itu, tahun ini Toha memutuskan pulang. Sebulan sebelum Lebaran, dia sudah ancang-ancang membeli tiket agar tidak ikut war. Tapi apa mau dikata, Toha tak bisa menghindari fenomena tiap tahun itu.

“Kenyataannya, walaupun aku beli jauh-jauh hari, orang-orang lebih gercep. Aku yang awalnya ingin duduk di kursi bagian depan, malah dapat kursi nomor 11 karena yang tersisa tinggal itu,” ucapnya.

Untuk mudik dari Jogja ke Jambi, Toha membutuhkan waktu kurang lebih 2 hari di dalam bus. Misalnya, kalau ia berangkat Rabu siang, maka tibanya bisa Kamis malam atau Jumat pagi tergantung angkutan penumpang. Tak pelak otot-ototnya jadi kaku dan lelah karena harus duduk berjam-jam.

“Biasanya busku nggak ada transit walaupun kadang ada juga bus yang diminta pindah. Jadi ya untuk meregangkan badan aku cuma bisa cari kesempatan pas dia berhenti di rumah makan,” kata Toha.

Baca Halaman Selanjutnya

Rela boncos untuk pertahankan gengsi

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 9 Maret 2026 oleh

Tags: anak rantaubiaya mudikJambiJogjakarjimutLebaranmerantauMudikmudik pakai bus
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Orang Jogja Syok Merantau ke Jakarta karena Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak Mojok.co
Pojokan

Orang Jogja Syok Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak di Jakarta

16 April 2026
Tukang parkir coffe shop di Jogja, parkir liar, desa.MOJOK.CO
Catatan

Tukang Parkir di Desa Lebih Amanah Ketimbang Jukir di Kota, Tak Ada Drama Getok Harga apalagi Makan Gaji Buta

14 April 2026
Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)
Pojokan

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO
Esai

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cuci baju di laundry konvensional bikin kapok MOJOK.CO

Cuci Baju di Laundry Konvensional Lama-lama bikin Kapok, Bikin “Boncos” karena Baju Rusak dan Hilang Satu Persatu

15 April 2026
Tidak mau ikut CPNS karena tidak mau jadi PNS/ASN atau abdi negara

PNS Pekerjaan Paling Menjanjikan, tapi Ada Orang yang Memilih Tak Menjadi Abdi Negara karena Tidak Mau Menggadaikan Kebebasan

14 April 2026
Tukang parkir coffe shop di Jogja, parkir liar, desa.MOJOK.CO

Tukang Parkir di Desa Lebih Amanah Ketimbang Jukir di Kota, Tak Ada Drama Getok Harga apalagi Makan Gaji Buta

14 April 2026
Journaling

Journaling, Ringankan Beban Pikiran dan Perasaan untuk Lebih Berani Menikmati Hidup

13 April 2026
Tabiat penumpang KA Sri Tanjung yang bikin jengkel KA Sancaka. MOJOK.CO

User Kereta Eksekutif Jengkel dengan Tingkah Random User Kereta Ekonomi, Turun di Stasiun Langsung Dibikin “Prengat-prengut”

14 April 2026
Nasib pekerja gen Z dicap lembek oleh milenial

Gen Z Jadi Kambing Hitam Generasi Senior, Dicap Lembek dan Tak Bisa Kerja padahal Perusahaan yang “Red Flag”

16 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.