ADVERTISEMENT

“Bohong” ke Keluarga Saat Mudik Lebaran: Rela Habiskan Uang Berjuta-juta agar Dicap Sukses padahal Cuma Karjimut di Jogja

Karjimut di Jogja yang merantau pilih tidak mudik Lebaran. MOJOK.CO

Menurut Toha, bus lebih efektif dibandingkan naik pesawat. Apalagi, jarak dari kampung halamannya ke kota terbilang jauh meski tidak bisa disebut pelosok. 

“Kalau pakai bus bisa turun depan rumah, nah kalau pakai pesawat malah lebih ribet. Orang rumah jauh kalau mau jemput, apalagi bawa banyak barang,” jelasnya.

Rela boncos karena gengsi

Selain anti ribet, biaya untuk naik bus juga lebih murah dibanding pesawat. Untuk biaya pulang-pergi, Toha harus mengeluarkan uang sekitar Rp2 juta, sedangkan untuk pesawat bisa habis 2 kali lipatnya.

Namun sebetulnya, Toha tidak terlalu mempermasalahkan biaya transportasi. Malah, yang bikin dia stres adalah uang untuk bagi-bagi tunjangan hari raya (THR) ke sanak saudaranya. Sebagai pekerja rantau dengan gaji imut (karjimut) di Jogja, Toha bisa menghabiskan biaya Rp4 juta lebih.

“Tetangga-tetangga atau keluarga kan tahunya kita sebagai anak rantau itu banyak uang, sukses lah hitungannya, padahal nggak tahu saja UMP Jogja berapa (Rp2,4 juta),” kata Toha yang bisa menghabiskan uang sekitar Rp6 juta untuk mudik ke Jambi.

Tak pelak, mudik menjadi beban finansial tahunan bagi Toha alih-alih tanggung jawab moral. Meski orang tuanya tidak menuntut dia pulang, bukan tidak mungkin tetangganya akan bertanya.

“Kenapa nggak mudik saat Lebaran?”

“Kamu nggak kangen keluargamu?”

“Pulang lah, mumpung Bapak Ibu masih ada.”

Padahal, tidak mudik bukan berarti Toha tidak rindu dengan keluarganya. Tidak berbakti kepada orang tua atau lupa dengan kampung halaman. Namun, banyak hal yang harus dia persiapkan, termasuk ketahanan finansial dan mental.

Oleh karena itu, Toha berharap keputusannya mudik tahun ini tidak sia-sia yakni dapat mengobati rasa rindunya sebagai anak rantau, sekaligus lelahnya menjadi karyawan gaji imut (karjimut) di Jogja walaupun harus mengeluarkan biaya lebih.

“Semoga mudik Lebaran tahun ini bisa melepas rindu dan menghilangkan rasa sedihku ketika mendengar suara takbir sendirian di kamar kos.” Kata Toha.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Bagi Ibu, Tak Apa Membayar Tiket Mahal untuk Mudik demi Bisa Kumpul Bersama “Anak Kecilnya” yang Berjuang di Perantauan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 9 Maret 2026 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.