Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
13 Januari 2026
A A
Ilustrasi naik bus, bus sumber alam.MOJOK.CO

Ilustrasi - Naik bus (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bus Sumber Alam penuh kenangan bersama ayah

Salah satunya, yang masih ia ingat betul, adalah hari ketika lulus SMA. Pagi itu, ayahnya mengantar ke terminal untuk pertama kali merantau ke Jakarta. Bukan naik kereta, bukan pesawat. Bus Sumber Alam yang mereka pilih. 

“Almarhum ayah saya bilang, ini bus yang aman, yang biasa dipakai orang-orang,” kenang Eka.

Iklan

Di kursi bus itulah, ia duduk dengan ransel sederhana dan kepala penuh harapan. Ayahnya ikut naik sebentar, membantu menyimpan barang, lalu turun sebelum bus berangkat. 

Tidak ada pesan panjang, tidak ada pelukan dramatis. Hanya anggukan kecil dan lambaian tangan dari balik kaca.

“Saya ingat betul suara pintu bus ditutup. Rasanya campur aduk,” katanya. Sejak saat itu, setiap kali naik Sumber Alam, potongan ingatan itu selalu muncul. Bukan sebagai kesedihan, tapi sebagai pengingat dari mana ia berasal.

Sumber Alam mengingatkan pada dapur di rumah

Selain rute dan kenangan, ada satu hal lain yang membuat Sumber Alam terasa dekat bagi Eka: makanan. 

Memang, bagi sebagian penumpang, servis makan di rumah makan bus itu kadang tak berkesan apa-apa. Sebagaimana menu yang disajikan PO ini, sangat sederhana: nasi, telur dadar, sayur, sambal. 

Tidak istimewa, bahkan sering dianggap biasa saja. Namun, bagi Eka, kesederhanaan itu justru terasa personal. 

“Karena sederhana itu, rasanya kayak makan di rumah,” katanya. 

Bukan karena menunya luar biasa, melainkan karena tidak dibuat-buat. Baginya, sambalnya pedas apa adanya, sayurnya sederhana, porsinya cukup. Tidak berusaha tampil modern.

Ia mengakui, banyak bus lain menawarkan makanan yang lebih variatif atau tampilan lebih rapi. Namun, justru di rumah makan Sumber Alam, ia merasa tenang. Duduk di bangku panjang, makan bersama penumpang lain yang sama-sama lelah, lalu kembali ke bus tanpa tergesa.

***

Pengalaman itulah yang membuat Sumber Alam sering disebut sebagai bus “orang biasa”. Bukan karena kualitasnya rendah, melainkan karena ia tidak berjarak dengan kehidupan penumpangnya. Tidak mengejar pujian, tapi kepercayaan.

Saya jadi bicara dengan diri saya sendiri: “Benar sih, kayaknya jarang sekali mendengar kontroversi bus ini. Beda dengan PO raksasa lainnya.”

Iklan

Di tengah industri transportasi yang makin kompetitif, Sumber Alam mungkin kalah mencolok. Namun, bagi Eka dan banyak penumpang lain, bus ini menyimpan sesuatu yang tidak bisa ditiru oleh armada baru sekalipun: rasa akrab. 

Rasa bahwa perjalanan jauh tidak selalu harus cepat dan mewah. Kadang cukup aman, tenang, dan memberi ruang untuk mengingat.

Kini, PO ini terus meremajakan armadanya. Fasilitas juga terus di-upgrade tanpa mengurangi value sebagai “busnya orang biasa”. Saya sendiri jadi penasaran untuk kembali naik bus ini, dan merasakan sensasi “melambat” di jalur selatan.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Naik Bus Mira karena Pengin Nikmati Perjalanan dengan Harga Murah, Malah Menderita karena “Keanehan” Penumpangnya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 14 Januari 2026 oleh

Tags: busbus sumber alamjalur selatannaik buspilihan redaksipo buspo sumber alamSumber Alam
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Gen Z, membaca, buku.MOJOK.CO
Urban

Gen Z di Indonesia, Generasi Paling Aktif Membaca tetapi Paling Tak “Terliterasi”

24 Juni 2026
Nasib desainer grafis di desa kabupaten: jasa desain logi dianggap gratisan, pindah Jakarta kaget ternyata cuannya menjanjikan MOJOK.CO
Sehari-hari

Jasa Desain Logo di Desa Kabupaten Dianggap Sepele hingga Jadi Gratisan, Pindah Jakarta Kaget 1 Logo Cuannya Menjanjikan

23 Juni 2026
dosen.MOJOK.CO
Sekolahan

Butuh Biaya Puluhan Juta Demi Ijazah S2-S3, tapi Negara Malah “Melegalkan” Dosen Digaji di Bawah UMR

23 Juni 2026
PNS di desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi PNS di Desa Memang Hidup Makmur, tapi Bikin Tak Berkembang karena Budayanya Toksik dan Membosankan

22 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) meraih penghargaan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Program E-Learning Aparatur Negara (ASN) Berintegritas MOJOK.CO

ASN Jateng Dididik agar Tidak Berperilaku Menyimpang untuk Jaga Marwah Instansi, KPK Beri Penghargaan

18 Juni 2026
Persiapan Resign di Usia 30 Supaya Tidak Menderita dan Gila MOJOK.CO

Kebodohan atau Keberanian: Inilah yang Saya Siapkan ketika Memutuskan Resign Menjelang Usia 30 dan Hidup Sebagai WNI Kelas Menengah Supaya Tidak Berakhir Menderita dan Gila

18 Juni 2026
Ableisme parodikan difabel di medsos. MOJOK.CO

Ableisme: Saat Konten “Plenger” di Medsos Mengantarkan Tawa Penonton tapi Dibayar dengan Trauma dan Depresi Teman Difabel

18 Juni 2026
Mas Uceng sebagai narasumber Festival Melawan-Melawan. Ia menyampaikan perlawanan masyarakat sipil perlahan telah terbunuh oleh rezim.

Zainal Arifin Mochtar: Perlawanan Masyarakat Sipil Perlahan Telah Dibunuh

18 Juni 2026
Derita 17 Hari Naik Honda Revo Jadi Penagih Utang MOJOK.CO

17 Hari Menjadi Penagih Utang dengan Risiko Kehilangan Nyawa Naik Honda Revo Biru Sudah Cukup Membuat Saya Menyerah

23 Juni 2026
Bisa kuliah di ITB berkat beasiswa ojol. MOJOK.CO

Menangis di Hadapan Bapak yang Sehari-hari Ngojol agar Diizinkan Kuliah di ITB, Gadis Malah Dapat Beasiswa dari Pekerjaan Sang Ayah

24 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.