Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Jogja Berhenti Nyaman karena Banjir dan Jalan Berlubang yang Menyebabkan Kecelakaan Lalu Lintas

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
28 Februari 2024
A A
Jogja Berhenti Nyaman karena Banjir dan Jalan Berlubang yang Menyebabkan Kecelakaan Lalu Lintas MOJOK.CO

Ilustrasi Jogja Berhenti Nyaman karena Banjir dan Jalan Berlubang yang Menyebabkan Kecelakaan Lalu Lintas. (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dari tahun ketahun, titik banjir atau genangan banjir di Yogyakarta makin banyak. Di sisi lain, kecelakaan lalu lintas makin sering terjadi gara-gara banyaknya jalan berlubang di Jogja. Julukan “Jogja Berhati Nyaman” kelihatannya sudah berganti menjadi “Jogja Berhenti Nyaman”.

Dalam beberapa hari terakhir, media sosial ramai mengabarkan soal banjir di Ring Road Utara, tepatnya depan kampus UPN Veteran Yogyakarta. Itu terjadi saat hujan deras melanda Yogyakarta Minggu (25/2/2024). Genangan air tersebut kembali terjadi saat hujan deras melanda pada (28/2/2024). 

Di media sosial juga beredar video motor-motor dan pengendaranya yang ‘kintir’ saat banjir melanda kawasan Jalan Candi Gebang, Wedomartani, Ngemplak, Sleman.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Merapi Uncover (@merapi_uncover)

Kepada wartawan, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Makwan mengatakan banjir di Jalan Raya Candi Gebang penyebabnya karena drainase yang tersumbat. 

Akibatnya air tidak bisa masuk ke gorong-gorong dan tumpah ke jalan. Aliran air yang deras menyebakan aspal mengelupas dan menyebabkan jalan berlubang. 

Kecelakaan karena jalan berlubang di jalan desa beraspal

Seorang guru di Sleman, Zaki (25) merasakan sendiri menjadi korban kecelakaan tunggal gara-gara jalan berlubang. “Saya mencoba menghindari jalan berlubang, tapi jalannya kan berpasir jadi saya jatuh. Ini sudah mulai sembuh,” katanya kepada Mojok, Rabu (28/2/2024). 

Zaki yang warga Donoharjo, Ngaglik, Sleman mengatakan meski lokasi ia mengalami kecelakaan tergolong jalan desa, tapi ia melihat ada yang salah dalam perbaikan jalan-jalan di Jogja. 

“Jalan nasional, jalan provinsi, Jalan kabupaten, jalan desa kan itu kewenangan masing-masing, tapi saya lihat jalan berlubang ini banyak di Jogja,” katanya.

Menurut Zaki salah satu jalan yang ia sering lewati adalah Jalan Palagan. Di jalan tersebut, ia melihat ada hal yang tidak pas dalam perbaikan jalan. “Jalan yang diaspal ulang malah jalan yang masih bagus, tapi ada jalan-jalan yang berlubang malah tidak diperbaiki,” ujarnya. 

Menurut Zaki ia melihat tidak ada langkah yang dari pengambil kebijakan, apakah itu pengelola jalan nasional, jalan provinsi, atau jalan kabupaten untuk membuat pemetaan dalam perbaikan jalan. Harusnya dengan pemetaan tersebut perbaikan jalan bisa tepat penanganannya.

Iklan

Soal banyaknya titik banjir yang muncul di Yogyakarta, Zaki menilai bukan semata-mata salah pemerintah. Ia melihat justru masyarakat harus peduli dengan lingkungannya. “Setelah penutupan TPST Piyungan, masyarakat kan banyak yang buang sampah sembarangan,” kata Zaki. Masyarakat yang membuang sampah sembarangan itu menurutnya menjadi salah satu sebab drainase tersumbat sehingga terjadi banyak titik genangan air. 

Jogja berhenti nyaman karena jalan berlubang dan kecelakaan

Soal kondisi berlubang ini memang menjadi persoalan gawat di Yogyakarta. Beberapa waktu lalu, Mojok pernah mengangkat liputan bagaimana lubang di Jalan Gedongan – Klangon mencabut nyawa seorang ibu muda yang sedang pulang kerja pada Jumat (2/2/2024). Ruas Jalan Gedongan-Klangon, Jalan Pencabut Nyawa di Sleman yang Memakan Korban Jiwa Ibu Muda.

Korban yang bernama YL terjatuh saat menghindari lubang di ruas Jalan Gedongan – Klangon, Kapanewon Moyudan,. Namun, naas ia kemudian tertabrak kendaraan yang datang dari arah berlawanan.  

Jogja Berhenti Nyaman karena Banjir dan Jalan Berlubang yang Menyebabkan Kecelakaan Lalu Lintas MOJOK.CO
Lubang jalan di Jalan Raya Candi Gebang selepas tergerus air. (BPBD Sleman)

Kapolsek Moyudan AKP Bowo Susilo SH kepada Mojok di ruang kerjanya mengatakan, ruas Jalan Gedongan – Tempel terutama sampai perempatan Klampis jalannya memang sempit, bergelombang dan banyak berlubang, sehingga kalau hujan airnya menggenang, dan lubang tidak kelihatan.

“Satu lagi, Jalan Gedongan Klangon, penerangannya kurang. Kalau malam jalannya gelap. Sudah jalannya rusak, gelap, jadi kerawanan pasti meningkat,” ujarnya. Kondisi ini tentu bukan sekadar membuat Jogja berhenti nyaman, tapi mengancam jiwa.

Mahasiwa UNY Lidia (22) sepakat bahwa Yogyakarta seperti berhenti nyaman karena banyaknya jalan-jalan yang berlubang. “Paling takut itu naik motor pas hujan terus jalannya banjir, kita nggak tahu ada lubang atau nggak,” ujarnya, Rabu (28/2/2024).

Selain Jalan Gedongan Klangon, salah satu jalan di Yogyakarta yang juga banyak keluhan adalah Jalan Godean. Saya sendiri yang sering melewati jalan ini malam hari harus ekstra hati-hati, apalagi saat kondisi hujan. 

Anggota DPRD DIY, Muhammad Yazid memberikan julukan “jalur neraka” pada Jalan Godean karena banyaknya lubang di jalan ini.

“Jalan Godean ini sudah menjadi jalur neraka. Banyak korban berjatuhan. Dua hari lalu, ada tiga kejadian kecelakaan lalu lintas. Satu orang pengendara diketahui meninggal,” ucap anggota Komisi C DPRD DIJ Muhammad Yazid pada Radar Jogja pada Selasa (17/1/2023) silam.

Tahun 2024, belum jelas perbaikan Jalan Godean

Anggota legislatif ini sering mendapat pengaduan terkait kondisi jalan sepanjang 15,6 kilometer tersebut. Aduan itu kerap disampaikan saat jumpa langsung dengan masyarakat maupun lewat pesan WhatsApp. Salah satu area yang ia soroti ada ruas antara Jalan Godean hingga Jembatan Ngapak yang sudah bertahun-tahun tidak mendapat perbaikan.

Mengenai Jalan Godean, setelah mendapat banyak sorotan termasuk di media sosial, Kepala Dinas PUP ESDM DIY Anna Rina Herbranti akhirnya angkat suara. Pada 2023, pihaknya akan melakukan perbaikan ruas Jalan Godean sepanjang 1,5 kilometer.

Perbaikan jalan tersebut akan dilakukan dengan mengganti pondasinya. Hal itu lantaran upaya penambalan rutin selalu cepat rusak kembali.

Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (PUP ESDM) Pemda DIY, Kwaryantini Ampeyanti Putri mengatakan, selama tahun 2023 yang mereka lakukan di Jalan Godean sebatas pemeliharaan rutin karena anggaran yang terbatas. Untuk perbaikan jalan di Jalan Godean memerlukan anggaran Rp7 miliar per kilometer. Sedangkan anggarannya saat ini Rp1,8 miliar sehingga yang bisa dilakukan adalah pemeliharaan saja.

Hingga awal tahun 2024, belum jelas apakah Jalan Godean masih akan menggunakan skema perbaikan seperti tahun-tahun sebelumnya yang hanya sekadar menambal saja. 

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA Keluh Korban Jalan Rusak di Jalur Neraka Yogyakarta: Ibu Saya Harus Opname 3 Hari

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 29 Februari 2024 oleh

Tags: jalan berlubangjalan rusakJogjaJogja Berhenti nyaman
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis di Mojok.co, suka bercocok tanam.

Artikel Terkait

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO
Aktual

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO
Pojokan

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

26 April 2026
Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO
Aktual

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026
Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya Mojok.co
Pojokan

Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya

24 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jurusan kuliah di perguruan tinggi yang kerap disepelekan tapi jangan dihapus karena relevan. Ada ilmu komunikasi, sejarah, dakwah, dan manajemen MOJOK.CO

4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun

27 April 2026
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
pasar wiguna.MOJOK.CO

Pasar Wiguna Sukaria Edisi 102 Padati Vrata Hotel Kalasan, Usung Semangat “Wellness” dan Produk Lokal

26 April 2026
YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”, Definisi Rindu Itu Bersifat Universal.MOJOK.CO

YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”: Definisi Rindu Itu Bersifat Universal

28 April 2026
Ibu terpaksa menitipkan anak di daycare karena orang tua harus bekerja

Ibu Menitipkan Anak di Daycare Bukan Tak Tanggung Jawab, Mengusahakan “Aman” Malah Diganjar Trauma Kekerasan

26 April 2026
Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman Mojok.co

Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman

27 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.