Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Perguruan Silat seperti PSHT Kerap “Buru-buru” Angkat Bocah SMP Jadi Guru alias Warga, Mental Belum Matang Alhasil Jadi Tukang Onar

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
1 Agustus 2024
A A
Guru Silat alias Warga yang Masih Muda di PSHT bikin Resah MOJOK.CO

Ilustrasi - Guru silat alias warga yang umurnya masih muda bikin resah, termasuk di peguruan bela diri PSHT. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Status guru pencak silat atau yang lebih akrab dengan sebutan “warga”  bisa didapat di usia sangat belia. Di bawah 15 tahun pun bisa atau sekitar usia SMP. Misalnya yang Mojok temui di PSHT dan Ki Ageng Pandan Alas. Dua perguruan silat yang sama-sama berasal dari Madiun, Jawa Timur.

Namun, pengangkatan guru atau warga silat di usia belia tentu memiliki sisi minor. Karena mental yang belum matang, hal tersebut membuat si warga yang masih sangat muda itu cenderung sok jagoan. Di titik tertentu  bahkan bisa menjadi penyebab onar.

***

Pera pelaku pencat silat, khususnya dari PSHT, kembali jadi sorotan karena membuat onar di Jember, Jawa Timur. Pada Senin (22/7/2024) lalu, pesilat PSHT yang tengah konvoi mengeroyok polisi hanya karena ditegur lantaran menutup jalan.

Citra PSHT makin buruk di mata publik. Citra yang turut merembet ke peguruan-perguruan silat yang lain.

Ada keterangan menarik saat saya kemudian berbincang dengan Adri (21), salah satu guru silat atau warga PSHT asal Nganjuk, Jawa Timur.

Ia menyebut, keonaran yang kerap ditimbulkan oleh PSHT bisa diatasi dengan membenahi sistem pengangkatan atau pengasahan warga. Sebab, ia masih menjumpai beberapa PSHT di beberapa daerah di Jawa Timur yang mengangkat warga di usia belia: belasan tahun.

Guru pencak silat muda cenderung sok jagoan

Adri sendiri disahkan menjadi guru silat atau warga di PSHT Nganjuk saat memasuki kelas 1 SMA. Namun, sebelum itu, ia mengaku sempat diajar silat oleh warga yang usianya masih di bawah 15 tahun (anak SMP).

“Untuk urusan mengajar (jurus-jurus), harus kuakui sangat bagus. Itu juga yang jadi motivasi agar aku makin giat berlatih demi lekas menjadi warga,” ujar Adri dalam obrolan hangat di pagi yang mendung di Jogja, Kamis (1/8/2024).

Akan tetapi, dalam sisi manajemen emosi, ia tak begitu cocok. Sebab, si warga PSHT yang masih lebih muda tersebut cenderung sok jagoan. Suka gradak-gruduk. Suka ngetes ilmu (petentang-petenteng): dikit-dikit labrak, dikit-dikit ayo gelut.

Menurut Adri, hal semacam ini lah yang sangat mungkin memicu kerusuhan. Karena Adri sendiri juga kerap melihat kasus warga yang lebih muda darinya berani memanas-manasi perguruan silat yang lain. Misalnya yang sering terjadi adalah pada rivalnya: SH Winongo. Alhasil bentrok pun tak terhindarkan.

Pengesahan jadi warga harus diperketat, terutama di PSHT

Di PSHT tempat Adri menimba ilmu bela diri, proses pengesahan menjadi warga terbilang cepat. Dalam kurun satu tahun sudah bisa menjadi warga asal sudah menguasai jurus-jurus yang diajarkan dari tingkat ke tingkat.

“Ada total lima sabuk. Dulu setiap tiga bulan sudah bisa naik sabuk. Materi uji saat pengesahan juga hanya seputar jurus-jurus,” tutur Adri.

Menurutnya, jika sekadar menghafal jurus, tentu akan sangat mudah untuk menjadi guru silat alias warga. Namun, yang seharusnya tak luput adalah bagaimana mematangkan mental para calon-calon warga tersebut. Meliputi manajemen emosi, manajemen konflik, dan sejenisnya.

Iklan

Dalam proses latihan hingga menuju warga, menurut Adri, sebenarnya secara tidak langsung sudah terjadi penempaan mental.

Akan tetapi, penempaan mental yang terjadi hanya di level permukaan: sebatas tahan banting dan tahan kerasnya latihan. Sementara untuk bagaimana saat menghadapi konflik atau konfrontasi, belum terlalu tersentuh secara khusus.

“Maka sudah saatnya PSHT di berbagai wilayah mulai memberi perhatian soal hal ini. Kita ini kan “Persaudaraan”. Ya seharusnya harus memunculkan nilai-nilai persaudaraan, bukan keonaran,” sambungnya.

“Dari yang kubaca dan kudengar dari warga-warga tua, dulu era 90-an itu untuk naik sabuk bisa sekitar satu tahunan. Artinya jadi warganya masih sangat panjang. Sekarang satu tahun latihan loh bisa jadi warga. Perbedaan waktunya terlalu jauh,” terang Adri.

Menurut Adri, momen untuk naik warga yang lama seperti era dulu secara tak langsung juga menggodok emosi dan melatih kesabaran dari para calon guru silat. Alhasil, saat ia sudah sah menjadi warga, kondisi mentalnya benar-benar sudah sangat matang.

Baca halaman selanjutnya…

Ketika bocah SMP jadi guru silat: suka semena-mena dan kekanak-kanakan

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 1 Agustus 2024 oleh

Tags: bela diriguru silatki ageng pandan alaspencak silatperguruan silatperguruan silat madiunPSHTsilatwarga silat
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Tapak Suci Unair. MOJOK.CO
Sehari-hari

Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran

21 April 2026
Atlet pencak silat Unair, Faryska Ozi Faradika. MOJOK.CO
Kampus

UKM Pencak Silat Unair Selamatkan Mimpi Atlet PSHT, Gelanggang Pertandingan Lebih “Menyeramkan” daripada Ruang Kelas Kuliah

20 April 2026
Ribetnya urusan sama pesilat. Rivalitas perguruan pencak silat seperti PSHT dan PSHW (SH Winongo) bikin masalah sepele jadi alasan rusuh MOJOK.CO
Ragam

Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

7 April 2026
Atlet pencak silat asal Kota Semarang, Tito Hendra Septa Kurnia Wijaya, raih medali emas di SEA Games 2025 Thailand MOJOK.CO
Kilas

Menguatkan Pembinaan Pencak Silat di Semarang, Karena Olahraga Ini Bisa Harumkan Indonesia di Kancah Internasional

22 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 jenis pengendara motor di pantura seperti Rembang yang harus dilarang nyetir motor di jalan raya MOJOK.CO

4 Jenis Pengendara Motor di Pantura yang Harus Diwaspadai di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan!

23 April 2026
Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya Mojok.co

Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya

24 April 2026
Romantisasi bunuh diri di Jembatan Cangar Mojokerto harus dihentikan MOJOK.CO

Ironi Jembatan Cangar Mojokerto: Berubah Jadi Titik Bunuh Diri Gara-gara Salah Kaprah Diromantisasi hingga Menginspirasi

24 April 2026
Ibu terpaksa menitipkan anak di daycare karena orang tua harus bekerja

Ibu Menitipkan Anak di Daycare Bukan Tak Tanggung Jawab, Mengusahakan “Aman” Malah Diganjar Trauma Kekerasan

26 April 2026
Campus Leagu: kompetisi olahraga kampus untuk masa depan atlet mahasiswa MOJOK.CO

Campus League Musim 1: Kompetisi Olahraga Kampus untuk Fondasi Masa Depan Atlet Mahasiswa, Menempa Soft Skills Krusial

22 April 2026
Pelari kalcer, fenomena olahraga lari

Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka

27 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.