Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Cerita Mahasiswa Jogja Pindah dari UGM ke UNY Berharap Cepat Lulus, Malah DO di Semester 10 Gara-Gara Perkuliahannya Bikin Mumet

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
4 Juli 2024
A A
mahasiswa UGM dan UNY drop out.MOJOK.CO

Ilustrasi Cerita Mahasiswa Jogja Pindah dari UGM ke UNY Berharap Cepat Lulus, Malah DO di Semester 10 Gara-Gara Perkuliahannya Bikin Mumet (Ega/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dua semester kuliah di UGM, Alwi* (25) memutuskan pindah ke kampus tetangga, UNY, karena merasa pusing dengan materi perkuliahannya. Di kampus barunya, ia berharap kuliah yang lebih santai sehingga bisa lulus cepat dengan nilai mumpuni. Sayangnya, mahasiswa Jogja ini malah harus menerima kenyataan drop out (DO) di tahun kelima perkuliahannya.

***

Alwi sibuk membalas satu per satu pesan yang masuk ke Whatsapp-nya. Lelaki asal Jogja kini tengah melayani para pembeli akun game online yang ia jual. Di tengah kesibukannya mengelola coffee shop yang ia rintis bersama teman-temannya, berjualan akun game ia lakukan untuk mendapatkan duit tambahan.

“Sebenarnya tangan kedua aja, sih. Aku beli akun game, kemudian tak jual lagi. Lumayan satu akun bisa untung 20 ribuan,” ungkap Alwi, yang Mojok temui di kedai kopinya, Kamis (4/7/2024) siang.

Sebenarnya, saya tak terlalu paham dengan dunia gaming. Maksud saya bertemu dengannya juga tak bermaksud membahas usaha jual beli akun game yang dia geluti.

Namun, siang itu saya ingin mengobrol perihal kehidupan perkuliahan Alwi yang amat absurd. Bagaimana tidak, 2017 lalu ia diterima UGM via jalur undangan, SNBP (SNMPTN). Namun, setahun berselang, ia memilih pindah dari kampus terbaik itu menuju ke PTN tetangga, UNY, via jalur SNBT (SBMPTN).

“Sebenarnya itu fifty-fifty aja, sih,” kata Alwi. “Pas aku daftar SBMPTN lagi di UNY, aku dah komitmen: kalau ditolak ya melanjutkan hidup di UGM, kalau diterima udah pasti bakal ambil yang UNY. Eh, malah diterima pada pilihan pertama,” imbuhnya.

Masuk UGM karena hoki, malah pusing dengan perkuliahannya

Alwi mengaku, perjalanannya masuk UGM sebenarnya “terlalu mulus”. Saking mulusnya, ia sampai merasa tak mengeluarkan effort apapun buat masuk ke salah kampus terbaik di Indonesia itu.

Sebagai siswa eligible di sekolahnya, Alwi memilih mengikuti SNBP. Kata dia, dua kampus yang dipilih waktu itu ngasal saja. Memilih dua prodi UGM di pilihan pertama dan kedua, serta salah satu prodi UM Malang pada pilihan ketiga.

Ia juga mengaku tak ada pertimbangan apa-apa saat memilih kampus-kampus tersebut. “Eh malah diterima di pilihan pertama,” ujarnya.

Alwi pun masuk ke salah satu prodi di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM. Ia resmi menjadi mahasiswa baru angkatan 2017.

Karena tak terdorong oleh semangat kuliah inilah yang bikin Alwi malah tak nyaman di UGM. Menurutnya, mata kuliah di prodinya bikin mumet. Padahal itu baru semester awal.

“Aku sama sekali nggak menikmati masa-masa kuliah di UGM. Baru semester 1 aja rasanya udah nggak sanggup. Mungkin karena bukan passionnya aja kali ya.

Keinginannya untuk keluar dari UGM pun amat besar. Apalagi, biaya kuliah yang harus dibayarkan juga tak sedikit. Makanya, ia berpikir amat sia-sia kalau sudah kuliah mahal-mahal, tapi dirinya sendiri justru tersiksa.

Iklan

“Sejak akhir semester satu sebenarnya sudah mantap untuk pindah. Tapi orang tua masih ngeyakinin buat bertahan. Yah, jadinya aku semester dua kuliahnya udah ogah-ogahan, sering bolos. Jadi ya rugi bayar aja.”

Masuk UNY gara-gara “doktrin” tongkrongan yang IPK tinggi-tinggi

Sebenarnya, UNY tak pernah masuk dalam opsinya setelah keluar dari UGM. Awalnya, Alwi berpikir buat daftar kuliah di kampus luar Jogja. Swasta pun tak masalah, asalkan bagus dan sesuai passion-nya.

Namun, di tongkrongan, kebanyakan teman-temannya adalah mahasiswa UNY. Bahkan, circle-nya di SMA, kebanyakan juga kuliah di kampus Karangmalang itu.

“Pada pamer IPK, gila! Ada yang 3,5 lah, 3,6 lah. Padahal itu temen-temenku yang aslinya kuliah cuman haha-hihi aja,” kata Alwi.

Melihat hal tersebut, Alwi jadi berpikir betapa gampangnya kuliah di UNY. Modal setor muka di kelas, bisa dapat nilai tinggi. Beda sama di UGM, yang menurutnya, kuliah itu spaneng banget.

Alhasil, masuklah UNY dalam radarnya. Pada SNBT 2018, ia memilih dua prodi UNY: satu ilmu murni dan satu kependidikan dalam dua pilihan teratas. Dan, Dewi Fortuna mengiringi langkahnya: Alwi lolos pada pilihan kedua di Fakultas Ilmu Sosial (FIS) dan resmi menjadi mahasiswa UNY angkatan 2018.

“Konyolnya adalah, pas PKKMB [ospek] temen-temenku banyak yang jadi panitia. Asli itu lucu banget, diospek temen tongkrongan.”

Tak kuat kuliah jurusan kependidikan, memilih drop out di semester 10

Saya berkelakar ke Alwi, “Gimana, enak ‘kan kuliah di kampus calon guru?”

Ia menyambut pertanyaan saya itu dengan tawa kencang. 

Alwi sendiri “cuma” bertahan 5 tahun, alias 10 semester, di UNY. Pindah dari UGM ke UNY dengan harapan mendapat kemudahan selama kuliah, eh, hasilnya sama saja. Ia tetap mengkis-mengkis selama kuliah.

“Nggak lagi deh. Kapok. Hahaha!,” tegas mahasiswa yang drop out di semester 10 ini.

Alwi bercerita, kuliah di jurusan kependidikan ternyata tak semudah yang ia bayangkan. Awal-awal kuliah, ia mengaku masih cukup mengikuti materi perkuliahan. Namun, memasuki semester tua, ia mulai kesulitan. Apalagi saat perkuliahan tiba-tiba full online karena pandemi, Alwi mengaku tingkat stresnya berlipat ganda.

“Jurusan pendidikan di UNY ada micro teaching, magang kependidikan, dan bayangin itu semua kudu kita lakuin di zaman Covid. Gimana enggak stres.”

Saking stresnya, memasuki semester 6 Alwi memilih buat cuti karena kesulitan mengikuti perkuliahan selama pandemi. 

“Itu pandemi jahanam banget, sih. Gara-gara itu kuliahku berantakan,” ujarnya, keras.

Singkat cerita, memasuki semester 10 pada 2023 lalu, Alwi mencapai titik lelahnya. Ia merasa sudah tak mampu melanjutkan kuliah. Beban kuliahnya masih terlalu banyak untuk masa kuliah yang mepet drop out.

“Jatah kuliahku tinggal 2 tahun. Dengan beban kuliah sebanyak itu, rasanya nggak bakal kekejar. Sia-sia dong aku bayar UKT 4 semester kalau ujung-ujungnya tetap DO [drop out],” jelasnya. Alhasil, sejak 2023 lalu Alwi memutuskan buat mengundurkan diri.

Penulis: Ahmad Effendi 

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Gagal Kuliah di Undip Semarang karena Masalah Ekonomi, Perjuangkan CPNS Demi Buktikan ke Ayah yang Menelantarkan

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 4 Juli 2024 oleh

Tags: DOdrop outMahasiswa Jogjamahasiswa ugmmahasiswa UNYUGMuny
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Hasil riset FEB UGM: workaholic alias kera berlebihan tidak selalu merusak kebahagiaan MOJOK.CO
Kabar

Riset: Kerja Berlebihan (Workaholic) Tidak Selalu Merusak Kebahagiaan, Asalkan Dapat 2 Situasi Ini di Lingkungan Kerja

6 Juni 2026
Frugal Living, healing, MOJOK.CO
Sehari-hari

Salah Kaprah soal Healing: Anak Muda Terjebak Keborosan, padahal “Penyembuhan Sejati” Itu Gratis dan Sering Kali Tak Estetik

26 Mei 2026
Usia 68 Tahun Merasa Gaptek dan Tertinggal dari Anak Muda demi Gelar S2, Akhirnya Lulus dengan IPK 3,98 di UGM MOJOK.CO
Sekolahan

Usia 68 Tahun Merasa Gaptek dan Tertinggal dari Anak Muda demi Gelar S2, Akhirnya Lulus dengan IPK 3,98 di UGM

22 Mei 2026
Anak tunggal dari pengusaha toko kelontong diterima di UGM. MOJOK.CO
Sekolahan

Lolos UGM Justru Dilema karena Tak Tega Tinggalkan Ibu untuk Merantau dan Buka Toko Kelontong Sendirian

21 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Harga Pertamax Naik Lagi, dan Kali Ini Kita Tidak Boleh Diam dan Pasrah Lagi

Harga Pertamax Naik Lagi, dan Seperti Biasa, Kelas Menengah Jadi Korban, Lagi dan Lagi

10 Juni 2026
Sejumlah titik ruas jalan rusak di Jawa Tengah (Jateng) dapat perbaikan di 2026 MOJOK.CO

Jalan Rusak di Jawa Tengah Dapat Perbaikan di 2026: Rusak Berat Diprioritaskan, Pengerjaan Dilarang Asal-asalan

5 Juni 2026
Nestapa Anjing di Jogja: Dibuang Sarjana yang Baru Wisuda atau Jadi Sengsu di Atas Meja MOJOK.CO

Nestapa Anjing di Jogja: Dibuang Sarjana yang Baru Wisuda atau Jadi Sengsu di Atas Meja

8 Juni 2026
Cara Jawa Tengah (Jateng) menjaga inflasi dan ketersediaan pangan MOJOK.CO

Cara Jawa Tengah Jaga Inflasi dan Ketersediaan Pangan agar Harga Terkendali dan Keterjangkauan Pangan bagi Masyarakat Terjamin

10 Juni 2026
pabrik semen, pracimantoro, wonogiri.MOJOK.CO

Babak Baru Perlawanan Warga Wonogiri Tolak Pabrik Semen di Pracimantoro, Bawa Ancaman Karst Gunungsewu ke Markas UNESCO

9 Juni 2026
Audiensi antara KPUS dan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi terkait anjloknya harga telur di Jateng MOJOK.CO

Upaya Merespons Situasi Harga Jual Telur di Jateng yang Anjlok dan Tidak Terserap

10 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.