Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kabar

Jarak Lebar Narasi Optimisme Pemerintah dengan Kondisi Riil Masyarakat: Katanya Ekonomi Baik-baik Saja, Padahal Sebaliknya

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
20 Mei 2026
A A
Narasi optimisme pemerintah berjarak lebar dengan kenyataan kondisi tekanan ekonomi di bawah MOJOK.CO

Ilustrasi - Narasi optimisme pemerintah berjarak lebar dengan kenyataan kondisi tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Narasi optimisme yang dibangun pemerintah dirasa berjarak lebar dengan kenyataan hidup yang dihadapi masyarakat, terutama menyangkut persoalan sosial dan tekanan ekonomi. 

***

Ketika sebagian banyak masyarakat Indonesia meresahkan pelemahan nilai tukar rupiah, pemerintah dengan penuh percaya diri menyebut bahwa kondisi ekonomi Indonesia tengah baik-baik saja. 

Narasi optimisme yang coba dibangun pemerintah—melalui pejabat publiknya—bisa saja dimaksudkan agar tidak terjadi kepanikan massal. Namun, sudah semestinya diiringi dengan respons solutif dan serius untuk benar-benar menciptakan situasi “aman” bagi masyarakat. 

Sebab, kenyataan di bawah, dalam situasi ekonomi seperti sekarang, masyarakat harus berhadapan dengan naiknya harga kebutuhan pokok, menurunnya kemampuan daya beli, hingga berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan ekonomi.

Dalam diskusi Pojok Bulaksumur bertajuk Menguji Narasi Optimisme Negara di Balik Gejolak Ekonomi Nasional, dua pakar dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggambarkan situasi tersebut dengan: adanya jarak yang semakin lebar antara narasi optimisme pemerintah dengan realitas sosial-ekonomi yang dirasakan masyarakat sehari-hari. 

Pemerintah terkesan fokus jaga narasi dibanding membaca kondisi riil tekanan ekonomi

Dosen Departemen Manajemen Kebijakan Publik, Media Wahyudi Askar, menilai pemerintah saat ini (terkesan) terlalu fokus menjaga stabilitas narasi ekonomi dibanding membaca kondisi riil masyarakat di lapangan. Sementara masyarakat saat ini semakin kritis dan memiliki akses informasi yang jauh lebih baik dibanding sebelumnya. 

Karena itulah, masyarakat sadar dan merasakan langsung tekanan ekonomi yang mereka alami. Mulai dari sulitnya mencari pekerjaan, meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja, hingga menurunnya daya beli. 

Narasi optimisme pemerintah berjarak lebar dengan kenyataan kondisi tekanan ekonomi di bawah MOJOK.CO
Media Wahyudi Askar dari UGM menyebut, marasi optimisme pemerintah berjarak lebar dengan kenyataan kondisi tekanan ekonomi masyarakat. (Dok. UGM)

Dalam kondisi tersebut, kata Media, publik mulai mempertanyakan kesesuaian antara data pertumbuhan ekonomi yang disampaikan pemerintah dengan pengalaman hidup yang mereka rasakan sehari-hari. 

“Problem terbesar hari ini adalah terlalu jauh antara angka yang dinarasikan oleh pemerintah dengan realita di lapangan. Apa yang dipaparkan pemerintah tidak benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya di selasar barat Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada. Diskusi, Selasa (19/5/2026). 

Ketimpangan bagi masyarakat kelas menengah dan kelompok rentan

Lebih lanjut, Media mengatakan kalau pertumbuhan ekonomi yang terus diklaim pemerintah belum tentu mencerminkan kualitas kesejahteraan masyarakat secara luas. 

Pasalnya, pertumbuhan ekonomi saat ini dinilai lebih banyak dinikmati kelompok elite yang memiliki akses terhadap modal, aset, dan proyek-proyek strategis negara. 

Sementara itu, masyarakat kelas menengah dan kelompok rentan justru menghadapi tekanan ekonomi yang semakin besar dalam kehidupan sehari-hari. Ia menilai ketimpangan tersebut membuat publik semakin sulit mempercayai narasi optimisme ekonomi yang terus disampaikan pemerintah. 

“Ekonomi itu memang tumbuh, tapi ekonomi itu hanya dinikmati oleh kelas atas, oleh orang superkaya,” ungkap Media.

Iklan

“Pemerintah harus menghadirkan kebijakan yang mampu menjawab berbagai persoalan dan kebutuhan nyata masyarakat,” tegasnya. 

Narasi optimisme tanpa empati terhadap kondisi tekanan sosial-ekonomi masyarakat

Sementara itu, Dosen Ilmu Komunikasi, Gilang Desti Parahita, menyebut persoalan utama komunikasi pemerintah saat ini terletak pada absennya empati terhadap kondisi masyarakat. Menurutnya, komunikasi publik pemerintah cenderung dipenuhi jargon optimisme tanpa disertai pengakuan atas keresahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Sedangkan masyarakat membutuhkan pemimpin yang mampu menunjukkan empati dan memahami pengalaman sosial ekonomi yang sedang mereka hadapi. 

Bagi Gilang, dalam situasi krisis, publik tidak cukup hanya diberikan narasi bahwa kondisi negara masih baik-baik saja. 

Narasi optimisme pemerintah berjarak lebar dengan kenyataan kondisi tekanan ekonomi di bawah MOJOK.CO
Gilang Desti Parahita dari UGM menyebut, narasi optimisme pemerintah berjarak lebar dengan kenyataan kondisi tekanan ekonomi di bawah. (Dok. UGM)

“Yang tidak ada dalam banyak narasi pemerintah adalah penyebutan apa yang dirasakan rakyat. Misalnya keadaan negara memang sedang tidak terlalu baik, harga kebutuhan pokok naik, itu harus direkognisi terlebih dahulu. Itu menunjukkan empati terhadap apa yang terjadi pada rakyat,” beber Gilang. 

Maka, pemerintah harus lebih empati. Sebab, menurut Gilang, jika narasi optimisme tanpa empati terus diulang, justru berpotensi menciptakan jarak antara pemerintah dan masyarakat. 

“Yang pertama akan terasa seperti delusional, yang kedua akan seperti instruksional, karena dua-duanya tidak ditemani empati dan pengakuan terhadap apa yang dirasakan publik. Jadi masyarakat merasa apa yang mereka alami seperti tidak benar-benar didengar,” ujarnya.

Saat kritik dan masukan dianggap ancaman

Gilang dan Media sama-sama sepakat, bahwa pemerintah harus lebih terbuka terhadap kritik masukan. Karena kritik dan masukan tersebut berangkat dari keresahan dan keadaan yang benar-benar dialami sendiri oleh masyarakat. 

“Pemerintah juga harus menghentikan pola komunikasi yang justru memunculkan ketidakpastian di ruang publik,” tegas Media.

Sementara itu, Gilang menekankan bahwa kritik yang disampaikan akademisi dan masyarakat sipil seharusnya dipandang sebagai bagian penting dalam demokrasi. 

Pasalnya, kampus memiliki peran untuk menjaga nalar kritis dan menghadirkan perspektif alternatif terhadap kebijakan negara. Kritik yang muncul dari akademisi bukan bentuk pesimisme terhadap bangsa, melainkan upaya menjaga agar kebijakan publik tetap berpihak pada masyarakat luas. 

Oleh karena itu, pemerintah dirasa perlu membuka ruang dialog yang lebih sehat. Agar narasi publik tidak hanya didominasi negara dan kelompok elite. 

“Kita tidak bisa membiarkan narasi itu hanya dipegang oleh satu pihak, yaitu negara. Kalau suara kritis dianggap ancaman, demokrasi justru kehilangan ruang dialognya,” pungkas Gilang.

Sumber: Universitas Gadjah Mada (UGM)

BACA JUGA: Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 20 Mei 2026 oleh

Tags: kondisi ekonominarasi pemerintahpersoalan ekonomitekanan ekonomiUGM
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Hasil riset FEB UGM: workaholic alias kera berlebihan tidak selalu merusak kebahagiaan MOJOK.CO
Kabar

Riset: Kerja Berlebihan (Workaholic) Tidak Selalu Merusak Kebahagiaan, Asalkan Dapat 2 Situasi Ini di Lingkungan Kerja

6 Juni 2026
Frugal Living, healing, MOJOK.CO
Sehari-hari

Salah Kaprah soal Healing: Anak Muda Terjebak Keborosan, padahal “Penyembuhan Sejati” Itu Gratis dan Sering Kali Tak Estetik

26 Mei 2026
Usia 68 Tahun Merasa Gaptek dan Tertinggal dari Anak Muda demi Gelar S2, Akhirnya Lulus dengan IPK 3,98 di UGM MOJOK.CO
Sekolahan

Usia 68 Tahun Merasa Gaptek dan Tertinggal dari Anak Muda demi Gelar S2, Akhirnya Lulus dengan IPK 3,98 di UGM

22 Mei 2026
Anak tunggal dari pengusaha toko kelontong diterima di UGM. MOJOK.CO
Sekolahan

Lolos UGM Justru Dilema karena Tak Tega Tinggalkan Ibu untuk Merantau dan Buka Toko Kelontong Sendirian

21 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

10 Juni 2026
Syifa, WNI yang kuliah di Jagiellonian University, Krakow, Polandia, Eropa. MOJOK.CO

Nekat Daftar Beasiswa Luar Negeri ke Kampus “Kurang Terkenal”, Kini Bisa Keliling Eropa dengan Gaji yang Bikin Sumringah

8 Juni 2026
Tempat kerja, Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

3 Juni 2026
Salah paham terhadap paket intimate wedding di wedding organizer (WO) MOJOK.CO

Salah Paham pada Paket Intimate Wedding di WO: Dikira Tekan Biaya padahal Bisa Tetap Mahal, Karena Intimate dan Biaya Itu Dua Hal Berbeda

4 Juni 2026
Jawa Tengah dan Bappenas bersinergi dalam percepatan pembangunan infrastruktur di Pantura dan Pansela MOJOK.CO

Pembangunan Infrastruktur Pantura dan Pansela Jadi Prioritas karena Jateng Punya Banyak Potensi Ekonomi

9 Juni 2026
Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.