Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Setelah Punya Anak Sadar “Nongkrong Basi-Basi” Itu Nggak Guna: Rela Dicap Suami Takut Istri, karena Urusan Keluarga Memang di Atas Segalanya

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
11 Mei 2026
A A
bapak-bapak nongkrong.MOJOK.CO

Ilustrasi menjadi bapak-bapak (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi Fahri (28), dulunya nongkrong adalah agenda wajib. Saat masih bujangan, ia hampir tidak pernah absen kalau ada teman yang mengajak kumpul sepulang kerja. 

Duduk berjam-jam di kedai kopi sekadar buat membahas hal yang tidak penting, dan tertawa-tawa hingga larut malam adalah rutinitas normalnya. Teman menelepon mengajak pergi, Fahri biasanya langsung gas.

Namun, semua kebiasaan itu berubah total. Sejak anak pertamanya lahir pada akhir tahun 2025 lalu, karakter “anak nongkrong” dalam diri Fahri seperti hilang tidak bersisa. 

Sekarang, jangankan untuk ikut datang, baru melihat pesan masuk di grup WhatsApp yang isinya ajakan kumpul saja rasanya sudah lelah duluan. Apalagi kalau dia tahu kumpul-kumpul itu ujungnya hanya untuk basa-basi, atau sekadar membicarakan keburukan orang lain. 

“Dulu sih awal-awal masih nyari-nyari alasan buat nolak,” kata Fahri, Sabtu (9/5/2026). “Tapi kalau sekarang mah udah santai bilang lagi nggak mood nongkrong.”

Nongkrong cuma buang-buang uang

Tentu saja bukan tanpa alasan Fahri tiba-tiba berubah menjadi orang yang malas nongkrong, atau lebih sering pulang cepat. Di posisinya sekarang sebagai seorang ayah, ikut nongkrong di kafe berarti harus siap merogoh kantong. 

“Minimal ada lah sekali nongkrong habis 50 ribuan. Buat kopi, rokok,” ujarnya.

Bagi Fahri, membuang uang sebesar itu hanya untuk mendengarkan obrolan basi-basi atau omong kosong terasa sangat konyol. Baginya, uang Rp50 ribu hari ini lebih penting di-spend buat kebutuhan anak atau istri.

“Uang segitu mending buat tambahan beli popok, atau jajanin makanan kesukaan istri. Jelas lebih ada gunanya,” kata Fahri.

Sering kangen anak dan lebih empati ke istri

Namun, alasan penolakannya bukan semata-mata karena perhitungan uang. Sekalipun ada teman yang memaksa mentraktir kopi dan makanannya, Fahri tetap merasa gelisah kalau harus duduk berlama-lama di luar. Ada rasa bersalah yang mengganjal kuat di dadanya.

Saat dia asyik bersantai dan tertawa di tempat nongkrong, dia tahu betul istrinya di rumah mungkin sedang kewalahan. Dia terbayang istrinya kelelahan menenangkan anak yang sedang rewel, atau menahan kantuk sendirian. 

Selain rasa empati kepada sang istri, tarikan rindu juga sangat kuat. Tubuhnya mungkin ada di kafe, tapi pikirannya ingin cepat sampai rumah agar bisa bermain dengan bayinya sebelum anak itu tertidur lelap.

Melihat perubahan drastis pada diri Fahri, saya jadi menyadari satu hal penting. Ternyata, Fahri sama sekali tidak sendirian. Saya memiliki beberapa teman lain di usia akhir 20-an yang kelakuannya persis seperti Fahri setelah mereka berstatus sebagai seorang ayah.

Kondisi ini seolah menjadi fase evolusi yang pasti dialami oleh banyak bapak-bapak kelas menengah. Teman-teman saya yang dulunya tahan duduk nongkrong sampai jam satu atau jam dua pagi, perlahan-lahan berubah. 

Iklan

Mereka tiba-tiba menjadi orang yang selalu rajin melirik jam tangan. Kalau waktu sudah menunjukkan pukul delapan atau sembilan malam, mereka mulai gelisah mengecek layar HP untuk melihat pesan dari istri. 

Alasan mereka saat berpamitan pulang duluan pun selalu seragam: tidak enak membiarkan istri mengurus anak sendirian di rumah.

Dicap “suami takut istri” karena jarang nongkrong

Di media sosial, fenomena bapak-bapak yang menolak nongkrong basa-basi ini juga menjadi topik yang ramai dibahas. Di platform seperti Facebook dan Threads, beberapa orang mengaku sering berada di posisi yang serba salah.

Ironisnya, keputusan wajar mereka untuk pulang cepat dan menghindari nongkrong yang tidak penting ini seringkali memancing cibiran. Mereka justru sering diledek oleh lingkaran pertemanannya sendiri, terutama oleh teman-teman yang masih lajang atau belum berkeluarga. 

Ledekan standar seperti, “Suami takut istri”, atau “Bapak-bapak yang udah nggak asyik lagi,” adalah makanan sehari-hari.

Padahal, kalau mau melihat realitasnya, sikap itu sama sekali bukan karena mereka takut pada istri. Ini murni tentang prioritas hidup yang sudah bergeser. 

Bagi para bapak baru ini, waktu luang dan sisa tenaga mereka setelah memeras keringat di tempat kerja sudah terlalu mahal. Sangat sayang rasanya jika energi yang tinggal sedikit itu harus dibakar habis hanya demi menjaga gengsi dan mencari validasi di meja tongkrongan.

“Kalau aku paling sering dibilang nggak asyik lagi. Tapi ya udah lah ya. Udah dewasa juga udah tahu prioritas,” ujar Fahri.

Tetap nongkrong, tapi dengan catatan khusus

Meski sudah banyak menghindari acara kumpul-kumpul, Fahri meluruskan bahwa dirinya tidak lantas menjadi orang yang antisosial. Dia masih mau keluar rumah dan berbaur, tetapi sekarang “filternya” lebih ketat.

Kalau ajakan ngopi di luar itu berkaitan dengan urusan pekerjaan, bertemu klien, atau obrolan yang mendatangkan peluang penghasilan, Fahri pasti akan menyempatkan diri untuk datang. Dia paham betul bahwa itu adalah investasi jaringan kerja yang ujungnya untuk keluarga juga. 

“Sama teman-teman yang memang sangat dekat, udah jadi sahabat lah, juga masih sering. Meskipun aku udah komitmen di awal kalau nggak bisa sampai malam banget,” jelasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pertemanan di Usia 30 Memuakkan: Transaksional dan Isinya Cuma Adu Nasib, tapi Paling Mengajarkan Arti Ketulusan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 11 Mei 2026 oleh

Tags: bapak-bapakkehidupan setelah menikahNongkrongnongkrong di coffee shoppilihan redaksipunya anaksuamisuami takut istritongkrongantongkrongan bapak-bapak
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Tongkrongan bapak-bapak, nongkrong.MOJOK.CO
Catatan

Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga

11 Mei 2026
Nasihat rezeki dan keuangan dari ibu-ibu penjual angkringan di Jogja yang bisa haji 2 kali MOJOK.CO
Sosok

Wejangan Rezeki dan Uang dari Ibu Penjual Angkringan, Membalik Logika Ekonomi Anak Muda yang Anxiety in this Economy

11 Mei 2026
Tidak memberi utang saat teman pinjam uang selalu dicap jahat dan dijauhi dari pertemanan MOJOK.CO
Sehari-hari

Pertemanan Memuakkan: Tak Beri Utang Teman Dijauhi dan Dicap Jahat, Berteman Cuma Diperalat Jadi Dana Darurat

8 Mei 2026
Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin MOJK.CO
Esai

Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin

8 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dolar ke Rupiah Tembus 17 Ribu Krisis Ekonomi di Depan Mata? MOJOK.CO

Rupiah Anjlok, Pakar UGM Wanti-wanti Kenaikan Harga Sembako 

7 Mei 2026
Anak Indonesia bicara soal isu perkawinan anak dan kekerasan di forum dunia. MOJOK.CO

Anak-anak Indonesia Muak Dipaksa Kawin tapi Jarang Didengar, Kini Kesal dan Mengadu ke Forum Dunia

8 Mei 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, guru honorer, pendidikan.MOJOK.CO

JPPI Kritik Aturan Baru SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026: Nasib 2,3 Juta Guru Non-ASN Terancam di Ujung Tanduk

8 Mei 2026
Orang tua lebih rela jual tanah dan keluarkan biaya puluhan juta untuk anak LPK kerja di Jepang daripada lanjut kuliah di perguruan tinggi MOJOK.CO

Ortu Lebih Rela Jual Tanah buat Modal Anak Kerja di Jepang, Rp40 Juta Mending buat LPK ketimbang Rugi Dipakai Kuliah

6 Mei 2026
SMARAI rilis album "Semai" berisi tentang perjuangan hidup, salah satunya perjuangan guru honorer MOJOK.CO

Potret Himpitan Hidup Guru Honorer dalam Lagu “Optimis” di Album “Semai”, SMARAI Ajak Belajar Menghadapi Kesulitan dan Kegagalan

7 Mei 2026
Petani di Delanggu, Klaten maju berkat sistem permakultur. MOJOK.CO

Belajar Bertani dari Dasar, Akhirnya Hidupkan Ketahanan Pangan dari Lahan Kosong di Delanggu Klaten

6 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.