Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Aktual

Rupiah Anjlok, Pakar UGM Wanti-wanti Kenaikan Harga Sembako 

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
7 Mei 2026
A A
Dolar ke Rupiah Tembus 17 Ribu Krisis Ekonomi di Depan Mata? MOJOK.CO

Ilustrasi Dolar ke Rupiah Tembus 17 Ribu (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus melemah hingga menembus angka Rp17.400. Kondisi ini menuntut masyarakat untuk bersiap-siap. Pasalnya, pelemahan rupiah ini diyakini akan memicu kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, hingga tarif energi dalam waktu dekat.

Akademisi dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Rijadh Djatu Winardi, menjelaskan bahwa anjloknya nilai rupiah kali ini bukanlah kejadian biasa. Ini merupakan hasil dari “tumpukan masalah” yang terjadi di luar dan di dalam negeri secara bersamaan.

“Dari sisi global, ada ketegangan konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian ekonomi dunia. Akibatnya, banyak investor mencari aman dengan memborong dolar AS,” kata Rijadh, sebagaimana dilansir dari laman resmi UGM, Kamis (7/5/2026).

Ketika dolar AS banyak diburu di seluruh dunia, nilainya otomatis naik, dan sebaliknya nilai rupiah menjadi tertekan dan turun.

Sementara dari dalam negeri, pelemahan ini dipicu oleh musim pembayaran dividen atau pembagian keuntungan kepada investor asing. Untuk membayar dividen tersebut, banyak perusahaan di Indonesia membutuhkan dolar AS dalam jumlah besar. Permintaan dolar yang tinggi di dalam negeri ini semakin menekan nilai rupiah.

Ditambah lagi, ada kekhawatiran pasar terhadap anggaran negara yang makin terbatas. Gabungan masalah dari luar dan dalam negeri inilah yang membuat nilai tukar rupiah anjlok cukup tajam.

Dampak langsung pelemahan rupiah ke kantong masyarakat

Lalu, bagaimana pelemahan rupiah bisa membuat harga barang naik? Rijadh menjelaskan fenomena ini sebagai inflasi impor. Artinya, harga barang di dalam negeri naik karena biaya untuk mendatangkan barang dari luar negeri menjadi lebih mahal.

Banyak pabrik dan perusahaan di Indonesia yang masih sangat bergantung pada bahan baku impor. Ketika bahan baku itu harus dibeli menggunakan dolar AS yang sedang mahal, otomatis modal yang dikeluarkan perusahaan membengkak.

Pada bulan-bulan pertama, perusahaan mungkin masih bisa bertahan menggunakan sisa stok bahan baku lama. Namun, saat stok habis dan rupiah belum juga menguat, pabrik mau tidak mau harus menaikkan harga jual produknya kepada masyarakat. Jika tidak, mereka akan merugi.

“Masyarakat akan mulai merasakan dampaknya dalam bentuk harga kebutuhan pokok yang meningkat, biaya transportasi yang naik, hingga harga produk kesehatan yang ikut terdampak. Penyesuaian harga ini umumnya akan diteruskan kepada konsumen dalam satu hingga beberapa bulan ke depan,” jelas Rijadh.

Beban negara ikut membengkak

Tidak hanya menyusahkan masyarakat, pelemahan rupiah juga membuat beban pengeluaran negara tiba-tiba membesar.

Salah satu sektor yang paling parah terkena dampaknya adalah subsidi energi, seperti Bahan Bakar Minyak (BBM). Karena sebagian besar BBM kita berasal dari impor, pemerintah harus merogoh kocek lebih dalam untuk membayar selisih harganya agar harga BBM di SPBU tidak ikut naik tajam.

Selain subsidi, beban utang luar negeri Indonesia juga otomatis membengkak. Meskipun jumlah utang dalam dolar AS tidak bertambah, namun ketika dikonversi ke rupiah, jumlah pokok utang dan bunga yang harus dibayar negara menjadi jauh lebih besar.

Rijadh mengingatkan bahwa kondisi ini sangat berbahaya. Jika uang negara terlalu banyak tersedot untuk menambal subsidi energi dan cicilan utang, maka anggaran untuk sektor penting lainnya bisa terpotong.

Iklan

Dana yang seharusnya dipakai untuk pendidikan, kesehatan, atau bantuan sosial bagi masyarakat bisa menjadi sangat terbatas.

Langkah penyelamatan rupiah

Menghadapi situasi yang sulit ini, Bank Indonesia (BI) dan pemerintah harus segera mengambil tindakan yang tepat. Saat ini BI berada dalam posisi yang sulit. Di satu sisi, BI ingin menjaga bunga bank tetap rendah agar ekonomi masyarakat terus berputar. Namun di sisi lain, BI juga harus menjaga nilai tukar rupiah agar tidak makin hancur.

Rijadh menyarankan BI untuk mengambil langkah campuran. BI perlu turun langsung ke pasar valuta asing untuk menstabilkan rupiah, dan di saat yang sama mengeluarkan surat berharga untuk menarik masuk modal dari luar negeri.

Sementara itu, pemerintah dituntut untuk lebih berhemat dan disiplin dalam belanja negara. Pemerintah juga harus mulai serius mengurangi ketergantungan barang impor, terutama untuk urusan pangan dan energi. Selain itu, momen saat dolar sedang mahal ini sebenarnya bisa dimanfaatkan oleh pengusaha lokal untuk menggenjot ekspor barang ke luar negeri.

Langkah terakhir dan yang paling penting menurut Rijadh adalah melindungi masyarakat bawah.

“Program bantuan sosial atau perlindungan sosial harus tetap kuat dan menyesuaikan keadaan. Kelompok masyarakat rentan inilah yang biasanya paling cepat dan paling menderita saat harga-harga barang naik,” tegasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Bahaya Dolar ke Rupiah Makin Gila dan Tembus 17 Ribu, Lalu Menjadi Gambaran Negara Sakit yang Semakin Kritis, Masyarakat Kecil dan Perintis Perlahan Mati atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 11 Mei 2026 oleh

Tags: Dolardolar asmata uangmata uang rupiahnilai tukar rupiahRupiahRupiah Melemah
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Bahaya Dolar ke Rupiah Tembus 17 Ribu Negara Makin Gila! MOJOK.CO
Cuan

Bahaya Dolar ke Rupiah Makin Gila dan Tembus 17 Ribu, Lalu Menjadi Gambaran Negara Sakit yang Semakin Kritis, Masyarakat Kecil dan Perintis Perlahan Mati

2 Mei 2026
Pejuang LDR Jogja-Jakarta makin nelangsa karena harga tiket kereta api mahal. MOJOK.CO
Ragam

Nelangsa Pejuang LDR Jogja-Jakarta, Tersiksa karena KAI dan “Hengkangnya” Sri Mulyani

11 September 2025
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok. Pakar ekonomi UGM tetap anjurkan investasi agar uang tidak tergerus inflasi MOJOK.CO
Ragam

Waktu yang Tepat untuk Investasi meski Harga Saham Anjlok, Jika Uang Disimpan buat Konsumsi Nanti Tergerus Inflasi

10 April 2025
Dolar ke Rupiah Tembus 17 Ribu Krisis Ekonomi di Depan Mata? MOJOK.CO
Esai

Dolar ke Rupiah Tembus 17 Ribu: Penyebab, Risiko, dan Strategi Menghadapi Potensi Krisis Ekonomi

8 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

WHV di Australia ternyata berat. MOJOK.CO

Kerja Mati-matian di Australia, Tabungan Sampai Setengah Miliar tapi Nggak Bisa Dinikmati dan Terpaksa Pulang usai Kena Mental

4 Mei 2026
Penumpang KRL Jakarta lebih manusiawi dibanding penumpang KRL/Commuter Line Jogja

KRL Jakarta Memang Bikin Stres, tapi Kelakuan Penumpangnya Masih Lebih Manusiawi daripada KRL Jogja

4 Mei 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, guru honorer, pendidikan.MOJOK.CO

JPPI Kritik Aturan Baru SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026: Nasib 2,3 Juta Guru Non-ASN Terancam di Ujung Tanduk

8 Mei 2026
Kuliah menjadi mahasiswa di PTN PTS Malang bikin merasa tersesat karena fenomena menginapkan pacar di kos hingga kumpul kebo MOJOK.CO

Kuliah di Malang karena Label Kota Pelajar: Berujung “Tersesat” karena Menormalkan Perilaku Tak Wajar Mahasiswa

4 Mei 2026
Orang tua lebih rela jual tanah dan keluarkan biaya puluhan juta untuk anak LPK kerja di Jepang daripada lanjut kuliah di perguruan tinggi MOJOK.CO

Ortu Lebih Rela Jual Tanah buat Modal Anak Kerja di Jepang, Rp40 Juta Mending buat LPK ketimbang Rugi Dipakai Kuliah

6 Mei 2026
usaha mie ayam wonogiri.MOJOK.CO

Buka Usaha di Luar Pulau Jawa Kerap Gagal Bukan karena Klenik “Dikerjain” Akamsi, Ada Faktor Lain yang Lebih Masuk Akal

6 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.