Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kabar

JPPI Kritik Aturan Baru SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026: Nasib 2,3 Juta Guru Non-ASN Terancam di Ujung Tanduk

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
8 Mei 2026
A A
Guru PPPK Paruh Waktu, guru honorer, pendidikan.MOJOK.CO

Ilustrasi - Guru Muda (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) melontarkan kritik keras terhadap kebijakan terbaru pemerintah yang dinilai mengancam masa depan jutaan guru honorer.

Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026, yang membatasi masa tugas guru non-ASN di sekolah negeri hanya sampai 31 Desember 2026.

Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, menilai aturan ini sebagai bentuk lepas tangan negara terhadap nasib para guru yang selama ini menjadi tulang punggung pendidikan. Menurutnya, kebijakan ini menciptakan jurang pemisah yang semakin lebar antara guru yang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) dan guru non-ASN.

“Kebijakan ini menunjukkan negara semakin berpihak hanya kepada guru ASN,” ujar Ubaid dalam keterangan tertulisnya kepada Mojok, Jumat (8/5/2026).

“Sementara jutaan guru non-ASN yang selama ini menopang layanan pendidikan justru dibiarkan hidup dalam ketidakpastian,” imbuhnya.

Ancaman pemecatan

JPPI melihat aturan ini bukan sekadar urusan administrasi. Ia adalah langkah sistematis untuk mengeluarkan guru honorer dari sekolah negeri secara perlahan.

Meski pemerintah berdalih tidak ada pemecatan mendadak, JPPI menemukan fakta di lapangan bahwa pemecatan sudah mulai terjadi di berbagai daerah.

Ironisnya, selama puluhan tahun, guru honorer inilah yang menutup lubang kekurangan guru di sekolah-sekolah negeri karena pemerintah dianggap lalai menyediakan tenaga pendidik yang cukup.

Sekarang, saat aturan baru diterapkan, mereka justru terancam kehilangan pekerjaan tanpa ada solusi atau jalan keluar yang adil bagi semua pihak.

Kondisi ini tidak hanya menimpa guru di sekolah negeri. Ubaid menyoroti nasib sekitar 2,3 juta guru non-ASN yang tersebar di sekolah negeri, sekolah swasta, hingga madrasah.

Berdasarkan data tahun ajaran 2025/2026 yang diolah dari Kemenag dan Kemendikdasmen, angka tersebut menunjukkan betapa besarnya ketergantungan pendidikan nasional pada tenaga non-ASN.

“Mereka mengajar anak-anak Indonesia dan menjalankan tugas negara, tapi tidak mendapatkan perlindungan dan kesejahteraan yang layak. Seolah-olah hanya guru ASN yang pantas hidup sejahtera, sedangkan honorer hanya dianggap tenaga darurat yang bisa dibuang kapan saja,” tegas Ubaid.

Prioritas “makan” atau guru?

Salah satu poin tajam yang disampaikan JPPI adalah soal pengelolaan anggaran pendidikan. JPPI menilai pemerintah saat ini melakukan kesalahan dalam menyusun skala prioritas.

Dana pendidikan yang sangat besar justru banyak dialirkan untuk program-program yang bersifat populis, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Iklan

Di sisi lain, masalah mendasar seperti kesejahteraan guru dan perbaikan ruang kelas yang rusak justru terabaikan. Ubaid berpendapat bahwa krisis pendidikan di Indonesia saat ini bukan disebabkan karena siswa kekurangan asupan makanan di sekolah, melainkan karena kurangnya jumlah guru yang berkualitas dan sejahtera.

“Negara sibuk membiayai program makan-makan, sementara jutaan guru masih hidup dengan upah yang sangat tidak layak dan status kerja yang menggantung,” tambahnya.

Mendesak peta jalan pendidikan yang adil

JPPI mengingatkan bahwa amanat konstitusi adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Tugas mulia ini mustahil tercapai jika fondasi utamanya, yaitu guru, tidak diperhatikan.

Pemerintah diminta berhenti memberikan perlakuan berbeda atau diskriminatif terhadap guru berdasarkan status kepegawaiannya.

Sebagai solusi, JPPI mendesak pemerintah segera menyusun roadmap atau peta jalan pengangkatan dan perlindungan guru non-ASN yang jelas. Hal ini mencakup guru di sekolah negeri maupun swasta.

Pemerintah juga diminta menyiapkan skema pendanaan yang pasti untuk menjamin kesejahteraan mereka.

Jika negara terus membiarkan 2,3 juta guru ini hidup dalam ketidakpastian, JPPI menilai pemerintah telah mengkhianati amanat konstitusi dan secara sengaja memperburuk masa depan pendidikan di Indonesia.

“Jangan korbankan nasib guru dan masa depan jutaan murid hanya karena kebijakan yang tidak matang,” pungkas Ubaid.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: WNI Jadi Guru di Luar Negeri Dapat Gaji 2 Digit, Pulang ke Indonesia Malah Sulit Kerja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 8 Mei 2026 oleh

Tags: gaji guru honorerguruguru honorerjppinasib guru honorerPendidikanpendidikan indonesia
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Skandal Kopenhagen dan Travel Grant: Mengapa Sistem Akademik Indonesia Justru Melahirkan Conference Hunter Palsu? MOJOK.CO
Esai

Skandal Kopenhagen dan Travel Grant: Mengapa Sistem Akademik Indonesia Justru Melahirkan Conference Hunter Palsu?

29 Mei 2026
Horor Pendidikan di Jogja: Balita Dianiaya, Mahasiswa Dilecehkan MOJOK.CO
Tajuk

Horor Pendidikan di Jogja: Balita Dianiaya, Mahasiswa Dilecehkan

25 Mei 2026
Harga Kopi dan Ketakutan Dosen Bergelar Doktor pada Portal Error Menjelang Deadline MOJOK.CO
Esai

Harga Kopi dan Ketakutan Dosen Bergelar Doktor pada Portal Error Menjelang Deadline

25 Mei 2026
Catatan Getir Dosen Kalcer: Tampil Keren, tapi Cemas Mahasiswanya Jadi Sarjana Menganggur MOJOK.CO
Esai

Catatan Getir Dosen Kalcer: Tampil Keren, tapi Cemas Mahasiswanya Jadi Sarjana Menganggur

20 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Memori 20 tahun gempa Jogja di SMAN 1 Kalasan: tak ingin wariskan trauma dan ketakutan MOJOK.CO

Memori 20 Tahun Gempa Jogja di Kalasan: Rumah Ambrol hingga Jeritan di Jalanan, Trauma yang Tak Ingin Diwariskan ke Generasi Sekarang

23 Mei 2026
buku remy sylado.MOJOK.CO

Remy Sylado Menelanjangi Toxic Masculinity melalui Trabar Batalla: Saat Kekerasan Jadi Ajang Pamer Kejantanan

25 Mei 2026
Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026. MOJOK.CO

Bangkitnya Sepeda Roda Raksasa yang Menyatukan Ribuan “Onthelis” dari Penjuru Dunia di Klaten

26 Mei 2026
makan mie ayam di Solo. MOJOK.CO

Curiga dengan Pedagang Mie Ayam di Dekat Rutan Solo, Beli Seporsi tapi Tak Diminta Bayar. Eh, Ternyata Intel Lagi Nyamar

28 Mei 2026
Gedebage, Bandung.MOJOK.CO

Bandung Kota Overrated dan Penuh Masalah, Anak Mudanya Tetap Waras karena Persib

24 Mei 2026
Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Cara Generasi Sandwich Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun

26 Mei 2026

Video Terbaru

Antara Stabilitas Kerja dan Jalan Berkarya, Cerita Perunggu Menjadi Musisi Penuh Waktu

Antara Stabilitas Kerja dan Jalan Berkarya, Cerita Perunggu Menjadi Musisi Penuh Waktu

14 Mei 2026
Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.