Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
16 Maret 2026
A A
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO

Ilustrasi - Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ambisi untuk menjadi PNS pada awalnya tidak lain adalah untuk “mengamankan hidup”. Setidaknya ada pemasukan tetap hingga jaminan pensiun. Namun, hidup serasa penuh petaka gara-gara keluarga tahu konsep gadai SK. 

***

Iklan

Bukan tanpa alasan kenapa Sunni (29), bukan nama asli, berambisi betul agar diterima menjadi PNS. Motif utamanya jelas karena jaminan “hidup aman”. 

Meski begitu, langkah Sunni tidak sepenuhnya mudah. Ia sempat sekali gagal dalam seleksi CPNS (saat usia 23 tahun, baru awal-awal lulus kuliah). Lalu sempat kerjai di sektor swasta selama setahun, sampai akhirnya perempuan asal Jawa Timur itu lolos pada percobaan kedua di usia 25 tahun. 

Sunni pun bukannya tidak paham iming-iming menggiurkan setelah menjadi PNS. Selain gaji tetap dengan angka layak, jaminan pensiun, ada juga kemudahan dalam mengajukan pinjaman di bank melalui sistem gadai SK. 

“Tapi sejak SK turun, jujur aku nggak pernah kepikiran buat gadai SK. Istilah orang-orang “nyekolahke SK (sekolahkan SK)”. Karena aku paham, itu jebakan,” ujarnya saat dihubungi, Minggu (15/3/2026), setelah berbagi cerita melalui Threads.

Tak cukup dibanggakan doang, tapi harus kelihatan ber-uang

Menjadi PNS jelas membuat Sunni dibanggakan oleh orang tuanya. Karena di desa asal Sunni, PNS masih menjadi salah satu jenis pekerjaan mentereng dan disegani. 

Persoalannya kemudian, sistem sosial di desa tersebut berazas “serba tidak cukup”. Tidak cukup hanya membanggakan status PNS, tapi harus menunjukkan hasil konkret dari pekerjaan mentereng tersebut. 

Dengan kata lain, agar kelihatan ber-uang dan semakin disegani tetangga, maka harus mampu membeli “barang-barang besar dan mewah” menurut standar masyarakat setempat. 

“Aku awalnya kan nggak pernah dengar omongan-omongan tetangga itu. Karena tugasku ada di kota sebelah, bukan di kabupaten sendiri. Tapi kalau orang tua nelepon, pasti ngomongin, keluarga kami lagi jadi omongan tetangga karena dianggap PNS kere. Masa PNS nggak punya apa-apa?” Beber Sunni. 

Sunni sebenarnya santai saja. Sebab, baginya, ngapain termakan omongan orang. Toh secara keuangan, keluarga mereka aman-aman saja. Sunni masih bisa membagi sebagian gajinya untuk sesekali membantu kebutuhan tertentu orang tua di rumah. Dan ia juga bisa menanggung hidupnya sendiri tanpa merepotkan orang tua lagi. 

Orang tua Sunni memiliki toko kelontong kecil di desa. Pemasukannya sudah tidak sebesar dulu, karena sekarang pesaingnya makin banyak. Oleh karena itu, Sunni biasanya menyisihkan gaji untuk menambal-nambal kekurangan kebutuhan rumah. 

Dipaksa gadai SK PNS demi puaskan tetangga

“Kamu dibanding-bandingkan tetangga yang punya saudara PNS. Katanya belum setahun sudah bisa beli mobil sampai bangun rumah,” ujar sang ibu suatu kali. 

Sunni tahu arah kalimat itu. Sangat jelas ibu Sunni ingin Sunni bisa membeli mobil keluarga. “Kuminta beliau jawab, kalau mobil nanti juga terbeli,” kata Sunni. 

Iklan

Sialnya, ternyata jawaban itu membuat Sunni kerap ditagih tiap ada kesempatan pulang ke desa. Ada saja tetangga atau saudara jauh yang nyindir-nyindir soal janji Sunni membeli mobil.

“Kalau kamu punya mobil kan enak, Sun. Kita kalau mau sambang saudara jauh bisa ikut mobilmu,” begitu seloroh seorang saudara. Sunni hanya bisa membatin, “Lah kenapa nggak kamu sendiri aja yang beli mobil? Ngapain harus nunggu aku yang beli?”

Sampai di titik itu pun Sunni sebenarnya tidak mau memasukkannya ke dalam hati. Santai saja. Akan tetapi, orang tuanya seperti mendesak Sunni: kalau ada uang lebih, kebeli lah mobil-mobil bekas. Kakak laki-lakinya—yang selama ini menjadi beban keluarga—pun ikut urun suara: memberi rekomendasi mobil-mobil bekas yang cocok untuk keluarga. 

“Aku bilang, ya aku nabung dulu lah. Tapi kakakku yang nggak guna itu nyahut: ngapain nabung, kan bisa cepet kalau gadai SK PNS di bank?,” beber Sunni. 

Makdeg! Gawat sudah. Kakak Sunni ternyata paham ada konsep gadai SK PNS untuk mendapat pinjaman uang dengan mudah di bank. 

Baca halaman selanjutnya…

Hidup terasa tercekik karena tanggung cicilan bank sendirian

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 17 Maret 2026 oleh

Tags: cicilan bankCpnsgadai sk pnspilihan redaksipinjam uang bankPNSSK PNS
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Apem ya qowiyyu: kue apem khas Jatinom Klaten berusia 400 tahun. Bukan sekadar warisan kuliner tradisional tapi simbol kesalehan sosial MOJOK.CO
Eksplor

Apem Ya Qowiyyu: Kue Khas Jatinom Klaten Berusia 400 Tahun, Bukan Semata Warisan Kuliner tapi Kesalehan Sosial

10 Agustus 2026
Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO
Catatan

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026
Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO
Eksplor

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026
Karnaval sound horeg getarkan Jawa Timur tiap Agustusan. Dosa jariah di balik gengsi antardesa, dalih selawatan, hingga perputaran ekonomi di bawah MOJOK.CO
Sehari-hari

Jatim Bergetar Tiap Agustusan: Dosa Jariah Sound Horeg di Balik Gengsi Antardesa hingga Selawatan Sambil Berjoget Seksi

3 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Andai ormas-ormas lain seperti Yakuza Maneges Kediri. Bukan tukang malak tapi garda depan berantas kekerasan seksual di pondok pesantren MOJOK.CO

Andai Ormas Lain seperti Yakuza Maneges Kediri: Dulu Dihina tapi Buktikan Sangat Berguna

5 Agustus 2026
Hadapi 777 cv lamaran kerja untuk 1 posisi. IPK dan nama besar kampus tak penting lagi di mata HR MOJOK.CO

Hadapi 777 CV Lamaran Kerja untuk 1 Posisi, HR Tak Peduli IPK-Asal Kampus karena Urusan di Atas Kertas Bukan Jaminan Etos Kerja

8 Agustus 2026
Derita lansia pakai cashless seperti QRIS. MOJOK.CO

Derita Lansia Tak Bisa Beli Roti Hanya karena QRIS yang Menghantui

4 Agustus 2026
Mahasiswa KKN di desa

Suasana KKN Tak Seindah Konten di TikTok: Banyak Drama Sesama Mahasiswa, hingga Tangis Palsu Saat Perpisahan dengan Warga Desa

5 Agustus 2026
buku siswa sekolah.MOJOK.CO

Jangan Jadikan Pergantian Buku Pelajaran sebagai Proyek Politik Tahunan 

10 Agustus 2026
Berkaca dari Kasus Yurizal, Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya punya empati MOJOK.CO

Berkaca dari Kasus Yurizal: Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya Berempati

7 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.