Penjaga warung madura memang tidak menjalani latihan dasar militer (Latsarmil) sebagaimana calon manajer KDMP. Namun, jangan salah. Para penjaga toko kelontong serba-ada tersebut sebenarnya juga harus terlatih di tengah jam operasi 24 jam non-stop.
***
Sebuah konten di media sosial mencoba membandingkan penjaga warung madura dengan pegawai KDMP. Tanpa latihan militer yang menelan korban jiwa, penjaga warung madura nyatanya teruji dalam mengoperasikan toko kelontong yang sudah menjamur di berbagai wilayah di Indonesia.
Meski hanya terkesan duduk menanti pembeli sembari sesekali menata etalase atau botol-botol minuman kemasan di lemari es, penjaga toko kelontong 24 jam non-stop tersebut sebenarnya merupakan “orang-orang terlatih” loh.
Istilah itu keluar dari dua orang penjaga warung madura di Jogja yang saya temui secara terpisah. Awalnya terdengar bercanda, tapi kalau dipikir-pikir, memang harus terlatih sih untuk menjaga lini bisnis dengan banyak pesaing dan bahkan berada jauh dari kampung halaman itu.
Lihat postingan ini di Instagram
Penjaga warung madura harus adaptif dan berdamai dengan kebosanan
Bagi anak muda seperti Nuri (24), tinggal di kampung halamannya di Sumenep, Madura, tentu jauh lebih nyaman ketimbang di perantauan. Meski bertugas di Jogja pun tidak buruk-buruk amat bagi Nuri.
Kasur di kamar rumahnya di Sumenep pun, meski sekadarnya, juga jelas terasa lebih empuk jika dibanding dengan kasur lantai yang ia tiduri di bilik sempit warung madura yang ia jaga.
Dalam konteks ini, kata Nuri, hal pertama yang harus dilatih oleh penjaga warung madura adalah kemampuan beradaptasi. Meski koneksi antar penjaga warung madura di berbagai daerah sebaran sangat kuat, tapi perbedaan kultur di setiap daerah jelas memberi tantangan tersendiri.
“Misalnya di Jogja ini. Aku harus adaptasi sama gimana karakter orang-orangnya. Di sini orangnya cenderung santun, berarti untuk menarik pelanggan, juga harus memberi kesan seperti itu. Biar langganan,” ucap pemuda itu saat saya ajak berbincang di sebuah warung madura di Sleman, Jogja, belum lama ini.
Belum lagi persoalan sempitnya ruang privasi—kamar untuk istirahat—di warung madura. Nuri beruntung karena di bagian belakang warung yang ia jaga ada bilik kecil. Tapi ada juga warung yang tidak memiliki bilik, sehingga aktivitas sehari-hari memang harus dilakukan di ruang utama untuk menjaga toko.
Faktor cuaca juga menuntut ketahanan fisik. Tentu butuh adaptasi dari iklim madura yang cenderung panas-kering ke daerah yang misalnya punya iklim lebih dingin.
“Yang nggak kalah penting, mengatasi kebosanan. Karena sehari-hari kan di toko. Terus beda sama di kampung yang kita bisa ngopi atau main-main dengan sebaya. Jadi memang harus tahan-tahanan bosan,” beber Nuri.
Di awal-awal menjaga warung, Nuri memang mengaku jenuh sekali. Karena di sela melayani pembeli, ia mentok hanya bisa main game, nonton YouTube, atau teleponan dengan teman atau keluarga di kampung.
Seiring waktu, Nuri pun memutuskan berdamai. Sebab, dalam benaknya, tidak masalah harus hidup berkutat di dalam toko kelontong. Karena memang dari situlah sumber cuannya mengalir.
Selain itu, jika tidak sedang shift jaga, Nuri biasanya melipir ke warung madura lain. Memang lagi-lagi hanya di warung madura, tapi setidaknya ia menemukan suasana lain dari suasana warung yang ia jaga. Dan lebih penting adalah ada teman berbincang selain istrinya yang sehari-hari membantunya jaga.
Mental baja, tak gentar karena lakukan hal benar
Seumur-umur, Nuri mengaku belum pernah adu jotos dengan orang lain. Ia juga tidak punya keterampilan bela diri khusus seperti silat atau karate.
Namun, dalam kultur para perantau asal Madura, mentalitas menjadi variabel penting yang harus ditempa. Sehingga, jika dalam konteks membela harga diri dan hal benar, tidak lantas merasa gentar.
“Aku itu belum pernah mengalami (hal buruk). Tapi kalau ada hal buruk, misalnya pemalakan, aku berani kelahi. Kalau perlu carok, ya carok, kalau memang merugikan,” kata Nuri sembari menunjukkan sebuah carok (celurit khas Madura) yang terselip di dinding belakang toko kelontong yang ia jaga.
Keberadaan carok memang nyaris selalu bisa ditemui di warung madura. Ada yang diletakkan tersembunyi tapi strategis, tapi ada juga yang memajangnya blak-blakan sebagai bentuk peringatan: jangan macam-macam.
Nuri pun mendapat beberapa cerita dari penjaga warung madura lain: jika ada pemalakan, pasti si penjaga tidak segan menggamit caroknya untuk memberi peringatan.
“Bukan kami pengin bikin ribut. Tapi kami ini kan cari nafkah secara halal. Mencari nafkah baik-baik. Jadi sesama mencari hidup, janganlah saling merecoki,” kata Nuri.
Menata etalase dan peka terhadap kebutuhan pelanggan itu keterampilan
Selain Nuri, saya juga berbincang dengan penjaga warung madura lain di daerah Kota Jogja. Ia minta dipanggil Cak Dul, pria berusia menjelang 40-an tahun.
Cak Dul punya pandangan serupa dengan Nuri perihal dua hal di atas. Namun, hal lain yang lebih sederhana dan tidak boleh disepelekan adalah “keterampilan” menata etalase.
“Masnya bisa tahu kalau sebuah toko kelontong adalah warung madura dari mana? Ya dari etalase rokoknya kan, selain pom mini?” ujar Cak Dul retoris.
Memang tidak ada SOP khusus perihal penataan berbungkus-bungkus rokok di etalase. Namun, Cak Dul pribadi punya kesenangan dalam menata etalase, terutama etalase rokok. Ia sering melakukan modifikasi warna dari berbagai merek dan bungkus rokok. Sehingga jika dilihat dari kaca depan, etalasenya tampak memikat.
Tak hanya itu, bagi Cak Dul, kepekaan terhadap kebutuhan pelanggan juga harus diasah. Sebab, jika tidak, pelanggan bisa-bisa tidak balik lagi.
“Misalnya, kalau di tempatku, merek rokok yang paling banyak dicari. Berarti stoknya harus ada terus. Atau ada orang yang tanya soal barang A, dan lain-lain lah,” beber Cak Dul.
Misalnya lagi, selain keberadaan pom mini yang sangat membantu di jam-jam tengah malam atau di tempat yang jauh dari SPBU, ada sejumlah warung madura yang menyediakan hal-hal penyelamat. Contohnya: jas hujan kresek (menolong pengendara yang kehujanan tanpa mantel), bahkan pompa angin tersedia untuk jaga-jaga jika ada pengendara yang ban motornya kempes sementara tambal ban masih jauh.
Penjaga warung Madura harus melatih tawakkal dan ridha
Tidak pernah ada rasa takut tersaingi di kalangan pemilik dan penjaga warung madura. Sekalipun dengan keberadaan KDMP dan menjamurnya garai-gerai modern.
Bagi Cak Dul, dalam konteks ini, dimensi spiritual para penjaga warung madura memang harus diasah betul.
“Masa nggak percaya sama rezeki Allah? Sudahlah, yakin saja rezeki nggak bakal tertukar. Tawakkal, ridho sama qada dan qadar Allah. Itu kunci hidup agar selamat,” tegas Cak Dul. “Yang penting kan kita sudah ikhtiar.”
Untungnya, kata Cak Dul, urusan tawakkal dan ridha sama Allah sudah menjadi menu latihan spiritual orang-orang Madura sejak kecil. Karena memang Madura punya kultur pesantren dan keberagamaan yang kuat. Apalagi di Sumenep yang dikenal dengan menjamurnya banyak pendidikan keagamaan.
“Orang kalau nggak bisa tawakkal, hidupnya malah terasa rumit. Jadi selain soal ilmu bisnis, tawakkal itu ada di atasnya,” pungkas Cak Dul.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: “Nguping” dan Mengulik Topik Obrolan Penjaga Warung Madura hingga Kuat Teleponan Berjam-jam, Tidak Ada Habisnya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














