Sabrina, anak dari penjual es krim di Pati, berhasil menggapai mimpi. Keluar sebagai pemain terbaik turnamen MilkLife Soccer Challange (MLSC) All Stars 2026, gelandang elegan ini bakal bergabung bersama tim elite untuk mewakili Indonesia dalam gelaran Singa Cup di Singapura, November mendatang.
***
Setiap sore usai berkeliling memutar roda sepedanya menjajakan es krim potong di sekolah-sekolah, Sabat Aristyono selalu dihadapkan pada satu rutinitas yang mustahil ia tolak. Di halaman rumah mereka di Pati, putrinya, Sabrina Dwi Ristiyana, sudah berdiri menanti dengan bola di kaki.
“Anak saya itu, kalau di rumah, nggak ada yang lain selain main bola,” ujar Sabat, saat ditemui Mojok seusai laga final MLSC All Stars di Super Soccer Arena, Minggu (28/6/2026) lalu.
Sabat sejujurnya buta ihwal taktik sepak bola. Ia bukan pemain bola, bukan juga penonton kasual yang paham nama-nama pemain kekininan.
Namun, pria ini menolak menyerah. Ia meladeni putrinya bertukar umpan, beradu gocek, hingga tertawa bersama memperebutkan bola.
Bagi Sabat, rutinitas ini tidak pernah diniatkan sebagai sesi latihan tambahan agar anaknya mahir secara teknis. Keringat di halaman rumah itu adalah bahasa cintanya selaku ayah guna menebus waktu yang habis di jalanan.
Yang tak dia sangka, adu gocek sederhana tersebut kelak mengantarkan putri kecilnya memotong serangan lawan di partai final nasional, merengkuh gelar individu prestisius, hingga mengepak koper menuju Singapura.

Mencintai sepak bola karena video TikTok Ronaldo
Kecintaan Sabrina terhadap lapangan hijau tidak lahir dari paksaan orang tua. Semuanya bermula dari layar ponsel.
Tatkala usianya baru menginjak delapan tahun, anak perempuan pada umumnya mungkin lebih akrab dengan boneka atau permainan masak-masakan.
Sabrina memilih jalur kontras. Ia rutin menggulir video TikTok yang menampilkan kompilasi gol Cristiano Ronaldo.

“Suka aja lihat Ronaldo. Suka lihat video-videonya waktu masih di Madrid,” kata Sabrina.
Kekaguman yang bermula dari TikTok itu, menular ke dunia nyata. Sabrina mulai bergabung bermain bola bersama anak-anak laki-laki di lapangan kampung.
Di ruang tamu rumahnya, ia sering memamerkan selebrasi ikonis “Siuuu” ala Ronaldo di hadapan ayah dan ibunya.
Sempat khawatir anak perempuannya main bola
Pada awalnya, Sabat dan sang istri menaruh kekhawatiran besar. Mereka memang membebaskan Sabrina bermain apa saja bersama teman-temannya, asalkan permainan tersebut minim benturan fisik.
Sepak bola jelas masuk dalam daftar olahraga keras. Beradu kaki dengan anak laki-laki di lapangan tanah berisiko menghadirkan cedera bagi tubuh kecilnya.
“Jujur saja saya nggak pernah melarang anak mau main apa saja. Yang penting, main yang aman-aman saja. Kalau bola kan sering benturan, Mas,” akunya.

Namun, rasa khawatir itu akhirnya runtuh. Sabat melihat gairah putrinya terlalu besar untuk dipadamkan. Ia menyadari satu hal penting: membatasi ruang gerak anak yang sedang menemukan hasrat terbesarnya justru berpotensi membunuh karakter sang anak itu sendiri.
Restu lantas diberikan. Sabrina diizinkan merumput, didukung penuh, dan halaman rumah mereka resmi beralih fungsi menjadi tempat latihan pribadi setiap pagi atau sore hari.
Pembuktian gelandang cilik di MLSC All Stars
Restu orang tua terbayar lunas. Sabrina membuktikan dirinya memegang bakat yang melampaui teman-teman sebayanya. Di level pendidikan dasar, ia rutin mewakili SDN Jambean 02 Pati melakoni berbagai turnamen antarsekolah.
Grafik perkembangannya melesat tajam. Puncaknya, ia sukses menembus saringan ketat skuad MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All-Stars Kudus sejak tahun 2025.
Di dalam skuad elite regional inilah transformasi permainannya terjadi. Terinspirasi oleh Cristiano Ronaldo, Sabrina awalnya berambisi menjadi penyerang haus gol.
Realitas taktik di lapangan berkata lain. Pelatih melihat kecerdasan membaca ruang yang menonjol dalam diri Sabrina. Ia lantas diplot mengisi pos gelandang bertahan, peran yang kerap memaksanya turun ke bawah beroperasi sebagai bek.

Berada di pos pertahanan tidak membuat Sabrina menjelma menjadi tukang jagal yang kasar. Ia justru menghadirkan anomali. Gaya mainnya amat tenang. Ia menolak membuang bola secara sembarangan saat ditekan lawan.
Sabrina mengaku amat menyukai momen memegang kendali; menahan bola sesaat, melakukan gocekan tipis guna melewati penjagaan, lantas melepaskan operan nirselip ke garis depan.
Gaya main elegan tersebut mengingatkan saya pada sosok Pedri atau Rodri, dua maestro lini tengah asal Spanyol yang menjadikan ketenangan sebagai senjata paling mematikan. Sabrina bertugas mengatur tempo.
Ia menjadi metronom yang menentukan kapan Kudus harus berlari spartan menyerang, dan kapan timnya harus merapatkan barisan menahan gempuran.
Melepas anak ke Singapura setelah jadi MVP MLSC All Stars
Ketangguhan mental Sabrina menemui ujian sejatinya pada ajang MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All-Stars 2026. Turnamen ini bukanlah kompetisi usia dini biasa.
Dihelat di Super Soccer Arena sejak 23 hingga 28 Juli 2026, MLSC merupakan manifestasi nyata dari ekosistem pembinaan sepak bola putri tingkat nasional. Turnamen raksasa ini mempertemukan 12 tim yang mewakili 12 kota, berisi ratusan talenta belia yang telah disaring ketat dari tingkat daerah.
Di panggung raksasa inilah Sabrina bersinar paling terang. Ia sukses mengantarkan All-Stars Kudus berdiri tegak di partai puncak. Ketajamannya membaca arah serangan lawan, ditunjang ketenangan mengeksekusi keputusan di momen krusial, membuatnya diganjar penghargaan individu tertinggi.
Di akhir turnamen, Sabrina Dwi Ristiyana resmi dinobatkan sebagai Pemain Terbaik (Best Player) MLSC All-Stars 2026.
Pencapaian tersebut menghadirkan efek domino. Nama Sabrina otomatis masuk ke dalam daftar elite MilkLife Strikers Girls U-12 rancangan Pelatih Kepala MLSC, Jacksen F. Tiago.
Pada November mendatang, bek elegan asal Pati ini akan diberangkatkan mewakili Indonesia guna bertarung di ajang internasional SingaCup di Singapura.
View this post on Instagram
Bagi Sabat Aristyono, kabar tersebut memantik dua kutub emosi yang saling bertabrakan. Sebagai seorang ayah yang terbiasa bertukar umpan di halaman rumah setiap sore, ada rasa berat merelakan putri kecilnya pergi menyeberangi lautan.
Namun, sebagai pria yang menjadi saksi pertama selebrasi “Siuuu” di ruang tamu beberapa tahun silam, ia menyadari waktunya telah tiba.
“Ada rasa takut, Mas. Soalnya melepas anak putri yang masih kecil ke luar negeri. Tapi kalau demi masa depannya, saya percaya saja sama coach. Ini pasti yang terbaik,” kata dia. “Biar bapaknya yang jualan es krim, anaknya kudu jadi pemain bola,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Coach Jacksen F. Tiago: Pendekatan Psikologis Pemain Muda Putri Harus Didahulukan Ketimbang Fisik dan Taktik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














