Banyak orang kira, jalan tercepat melahirkan pemain sepak bola putri yang tangguh adalah langsung menggenjot ketahanan fisik, serta menjejalkan taktik rumit sejak dini. Di Super Soccer Arena, Kudus, Jacksen F. Tiago mematahkan anggapan tersebut.
Sebagai Pelatih Kepala MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All Stars 2026, sosok yang dahulu merajai Liga Indonesia lewat gaya bermain keras bersama Persipura ini justru menerapkan kaidah kontras. Baginya, membenahi psikologis dan merawat gerak tubuh pemain jauh lebih penting ketimbang pemahaman taktikal.
Dalam memantau pesepak bola putri usia belasan, Coach Jacksen menolak cara-cara instan. Pengamatannya di tepi lapangan membuktikan satu aturan mendasar. Tanpa memberi rasa aman secara emosional dan memahami keunikan motorik perempuan terlebih dahulu, kurikulum taktik secerdas apa pun hanya akan menguap sia-sia.
Teriakan orang tua di pinggir lapangan bisa bikin down
Bagi Coach Jacksen, masa persiapan tim sepak bola putri menempatkan aspek mental jauh mendahului urusan teknis ataupun fisik. Pertimbangan ini lahir dari pengamatan riil di pinggir lapangan.
Menurutnya, anak-anak perempuan usia belasan tahun ini tidak cuma bertarung melawan sebelas pemain lawan. Mereka juga bertanding di bawah bayang-bayang tekanan ekspektasi eksternal, terutama jeritan instruksi dari orang tua mereka sendiri yang menonton di tribun.
“Saat pemain muda ini melakukan eror di lapangan, mereka langsung merasa frustrasi karena terbebani ekspektasi. Sangat manusiawi jika di tengah laga mereka ada yang menangis,” ujarnya saat ditemui di sela-sela turnamen MLSC All Stars di Super Soccer Arena, Sabtu (27/6/2026).
“Yang memprihatinkan lagi, komentar dari tribun kerap kali memperparah mental si anak,” imbuhnya.

Apa yang disampaikan Coach Jacksen ini selaras dengan temuan studi psikologi yang dipimpin Camilla J. Knight dari Swansea University. Melalui riset berjudul “Parental Behaviors in Team Sports: How do Female Athletes Want Parents to Behave?”, Knight menemukan kecenderungan bahwa atlet remaja, terutama perempuan, bakal menjadi rapuh ketika ada suara dari pinggir lapangan yang meneriaki kesalahannya–sekalipun itu kalimat-kalimat yang bersifat dukungan.
Menurut temuan Knight, teriakan tersebut hanya akan membuat pemain putri sadar bahwa seluruh stadion baru saja menyoroti kegagalannya. Pada detik-detik yang rapuh itu, atlet perempuan sejatinya hanya menginginkan satu respons: diam.
Di sinilah Coach Jacksen menuntut pergeseran figur pelatih. Baginya, juru taktik haram bertindak sebagai mandor yang hobi berteriak garang. Di level usia dini putri, pelatih wajib menurunkan ego, menjelma menjadi pendengar yang baik, serta membuka ruang aman tempat para pemain mencurahkan keluh kesah.
Baginya, kedekatan personal adalah fondasi utama.
“Jika pemain perempuan sudah menaruh kepercayaan penuh kepada pelatihnya, ia bersedia melakukan apa saja di lapangan. Kepercayaan emosional inilah yang membuka jalan bagi pelatih untuk menyuntikkan strategi teknis maupun taktis,” jelasnya.
Perbedaan dan keunikan motorik pemain sepak bola putri
Tatkala hati pemain berhasil dimenangkan, tantangan berikutnya bergeser pada keunikan tubuh pemain perempuan itu sendiri.
Secara teori dasar, kurikulum untuk melakukan operan, menggiring bola, hingga menembak sama sekali tidak berbeda antara pemain putra dan putri. Namun, satu ihwal yang sering dilewati mayoritas pelatih lokal adalah detail gerak motorik alami perempuan.
Secara biologis, gerak motorik perempuan memegang karakteristik tersendiri. Coach Jacksen menyitir contoh sederhana seperti cara menaiki anak tangga; pergerakan sendi dan tumpuan kaki perempuan kerap terlihat berbeda serta tidak seenteng laki-laki.
“Perbedaan natural inilah yang membuat aspek motorik pada pesepak bola putri wajib mendapat porsi perhatian khusus dalam penyusunan program latihan,” jelas Coach Jacksen.

Pemahaman anatomi ini berkelindan erat dengan intensitas permainan yang kian tinggi, yang otomatis memperbesar risiko cedera. Guna memitigasi ancaman fisik tersebut, ia mewajibkan penerapan program pencegahan cedera setiap hari sebelum kegiatan lapangan bergulir.
Mengadopsi rutinitas pemain top Eropa, anak-anak perempuan di MLSC dibiasakan melakoni pemanasan, salah satunya, menggunakan alat bantu karet elastis.
Secara ortopedi, masa pubertas membuat panggul anak perempuan melebar. Memunculkan anomali biomekanik yang disebut sudut-Q (Q-angle), yakni kondisi yang memberi tekanan tiga kali lipat lebih berat pada sendi lutut perempuan dibanding laki-laki tatkala berbelok kencang.
Riset medis terbitan British Medical Journal mengonfirmasi bahwa pemanasan neuromuskular berbasis resistensi, seperti yang diterapkan Coach Jacksen, sanggup menekan cedera lutut parah pada atlet putri hingga 45 persen.
Jenjang usia kurikulum pelatihan dalam sepak bola putri
Setelah mental tangguh dan tubuh dirawat secara sains, barulah kerangka kepelatihan berjenjang berdasarkan usia diterapkan disiplin. Untuk anak-anak rentang usia 6 hingga 13 tahun, fokus pelatihan murni dihabiskan bagi pembenahan teknik dasar.
“Pada fase ini, wajar jika anak-anak masih kerap keliru melakukan sentuhan pertama atau mengontrol bola yang memantul. Pelatih dituntut sabar,” katanya.
Pergeseran besar baru terjadi saat pemain menginjak usia 13 hingga 17 tahun. Di fase inilah kecerdasan bermain (football intelligence) mulai diasah.
Apa itu kecerdasan bermain? Coach Jacksen memberi analogi terkait hal ini. Jika berbicara tentang keterampilan individu, pemain asal Brasil mungkin adalah yang terbaik dengan Jogo Bonito-nya. Namun, sepak bola modern Eropa kerap mampu menjinakkan Brasil lantaran mereka unggul dalam pengertian kolektif terhadap permainan.
“Pemain Eropa tahu persis kapan harus mengambil keputusan yang tepat pada momen krusial. Skill individu di atas rata-rata tidak akan membantu apabila tidak diimbangi dengan pengambilan keputusan yang pas. Inilah yang disebut football intelligence.”

Kecerdasan mengambil keputusan inilah yang membedakan pemain kaliber tinggi dari sekadar pemain pengandal improvisasi. Anak-anak di MLSC diajarkan mengolah ruang. Mereka tidak cuma diberi instruksi saat memegang bola, tetapi juga dilatih bergerak membuka ruang tanpa bola, hingga menentukan posisi ideal tatkala terjadi umpan silang.
“Setelah melewati usia 17 tahun, para pemain dianggap matang secara sistem dan siap dituntut untuk bermain ideal,” tegasnya.
MLSC, panggung yang tepat untuk bersinar
Seluruh pendekatan ini, pada dasarnya bermuara pada satu tujuan konkret. Berdasarkan pantauan ketat selama turnamen MLSC All Star yang digelar 23-28 Juni 2026, Coach Jacksen mengaku telah mengantongi 16 nama pemain berbakat kelompok umur kelahiran 2014-2015.
Di sisi lain, Pelatih Kepala MLSC Timo Scheunemann menyimpan 18 nama bagi kelompok umur kelahiran 2012-2013.
Daftar berisi total 34 nama pesepak bola masa depan Indonesia ini masih dirahasiakan. Anak-anak terpilih tersebut tengah dipersiapkan melakoni turnamen internasional Singa Cup di Singapura pada November 2026 mendatang.

Menariknya, keberlanjutan karier mereka pascaturnamen tidak dirancang sembarangan. Coach Timo, yang ditemui di Super Soccer Cafe, Sabtu (27/6/2026), menjelaskan bahwa pembentukan 15 titik pemantauan (scouting points) di berbagai kota penyelenggara berfungsi sebagai sasana pemusatan latihan tambahan.
Pihak penyelenggara tidak merampas pemain guna membentuk klub baru yang memonopoli talenta. Anak-anak dibiarkan tetap bernaung di klub atau Sekolah Sepak Bola (SSB) lokal masing-masing, tetapi rutin mendapat suntikan kurikulum ekstra.
Filosofi merangkul akar rumput tersebut dibuktikan lewat kerja sama strategis antara penyelenggara dan berbagai SSB daerah, termasuk jaringan pembinaan usia muda milik Borneo FC.
Langkah terintegrasi ini memastikan pembinaan berjalan dua arah: SSB lokal tetap berhak bangga atas atlet didikan mereka, sementara sang atlet memperoleh jalan lapang menuju panggung internasional.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














