Sepanjang gelaran MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All-Stars 2026 bergulir, mata penonton di tribun Supersoccer Arena, nyaris selalu tertuju pada poros serangan tuan rumah, Kudus All-Stars.
Sorotan utama jatuh pada Giada Soebianto, penyerang sayap kanan blasteran dengan kuncir kudanya yang khas. Daya jelajahnya luar biasa. Larinya kencang di atas rata-rata anak seusianya dan ia selalu bermain ngotot guna membongkar pertahanan lawan.
Jika bukan Giada, riuh penonton akan pecah untuk si kembar Rara Zenita Fatin dan Rere Zenita Farza. Duet striker ini menjadi tumpuan utama lini depan Kudus dalam urusan menjebol gawang musuh.
Dalam sepak bola kelompok usia dini yang kerap mengandalkan kecepatan lari dan jumlah gol, ketiga pemain ini adalah bintang utama yang paling mudah memikat perhatian publik.

Namun, dari kursi tribun, pandangan mata saya justru tersita oleh sosok lain yang bermain jauh dari keriuhan. Ia mengenakan jersei nomor punggung 6, bernama Sabrina Dwi Ristiyana.
Berbeda dengan rekan-rekannya yang sibuk merangsek ke area penalti lawan, Sabrina bermain agak ke belakang. Posisi berdirinya menjadi pembatas terdekat dengan tiga bek sejajar.
Dalam format pertandingan tujuh lawan tujuh, bocah ini mengemban tugas berat sebagai motor penghubung antara tiga pemain belakang dan tiga pemain depan. Di dunia sepak bola modern, peran ini akrab disebut sebagai deep-lying playmaker, dirigen permainan dari lini dalam.
La Pausa yang gemar “menunda” tendang bola
Hal yang membuat saya betah memperhatikan nomor punggung 6ini adalah gaya bermainnya yang sangat tenang. Di level usia U-12, pertandingan sepak bola biasanya berjalan terburu-buru.
Situasi di lapangan sering kali mirip dengan kawanan lebah; semua pemain bergerombol mengerumuni bola ke mana pun ia bergulir. Akibatnya, benturan fisik tak terhindarkan dan rasa panik kerap bikin anak-anak langsung menendang bola ke segala arah demi menyelamatkan pertahanan.
Di sinilah letak keunikan Sabrina. Saat pemain lain memilih menyapu bola sekenanya, ia justru menampilkan kemewahan taktis. Sabrina memilih menahan bola sesaat. Ia melakukan sentuhan kecil, mendribel bola ke kanan atau ke kiri guna menjauh dari kerumunan, sembari kepalanya tegak memindai posisi kawan yang berdiri bebas. Setelah celah terbuka, barulah ia mengalirkan umpan yang akurat.

Melihat caranya menunda aliran bola demi memancing lawan keluar dari posisinya, ingatan saya langsung melayang pada sebuah istilah sepak bola: La Pausa. Sebuah keterampilan tingkat tinggi yang hanya dimiliki segelintir gelandang maestro dunia seperti Juan Roman Riquelme atau Xavi Hernandez.
Menyandangkan istilah seberat itu pada pundak bocah perempuan berusia dua belas tahun mungkin terasa berlebihan. Namun, kematangan visi bermain yang diperlihatkannya di tengah lapangan benar-benar memanggil ulang memori tersebut.
Rekan kerja yang ikut duduk di sebelah saya, bahkan sepakat bahwa gaya main nomor 6 ini sangat mirip dengan Pedri, gelandang elegan milik Barcelona.
Peran Sabrina sebagai jangkar tim memang nyaris tidak terlihat bagi penonton layar kaca yang hanya memburu cuplikan gol. Sepanjang waktu normal turnamen, ia tidak mencetak satu pun gol dan tidak pula menyumbang asis. Namanya bersih dari papan skor.

Namun, bagi tim Kudus All-Stars, ia adalah detak jantung yang mengatur kapan tim harus keluar menyerang dan kapan harus merapatkan barisan.
Ujian sejati atas ketenangan khas La Pausa milik Sabrina akhirnya tiba di partai puncak, Minggu (28/6/2026). Laga sengit melawan Jakarta All-Stars berakhir imbang dan memaksa penentuan juara diselesaikan lewat drama adu penalti.
Suasana Supersoccer Arena seketika berubah tegang. Di momen penuh tekanan yang sanggup meruntuhkan mental pemain dewasa sekalipun, Sabrina maju sebagai algojo terakhir. Dengan langkah yang tenang dan tanpa riak kepanikan, ia melepaskan sepakan terukur nirselip yang menggetarkan jala gawang Jakarta.
Gol penalti itu sekaligus mengunci gelar juara nasional bagi Kudus.
MVP MLSC All Stars, gelar yang pantas
Kejutan sesungguhnya terjadi saat pembawa acara mengumumkan peraih gelar Pemain Terbaik MLSC All-Stars 2026. Nama Sabrina Dwi Ristiyana dipanggil ke tengah lapangan.
Bagi sebagian penonton yang datang hanya untuk menghitung jumlah gol, keputusan panitia memilih pemain dengan catatan nol gol sebagai MVP mungkin membingungkan. Akan tetapi, bagi saya yang sudah mengamati cara mainnya sejak awal turnamen, penghargaan tersebut sangat pantas.
Ihwal keputusan memilih Sabrina ini kemudian dijelaskan secara rinci oleh Head Coach MLSC, Jacksen F. Tiago, usai laga. Saya menanyakan satu hal sederhana: bagi awam, pemain terbaik biasanya jatuh kepada yang paling produktif di turnamen. Lantas, apa yang bikin Sabrina dipilih sebagai MVP, padahal dia nirgol dan asis?
Juru taktik kawakan asal Brasil tersebut membedah kualitas taktis Sabrina, yang barangkali luput dari catatan penonton.

Coach Jacksen menjelaskan bahwa fokus utamanya sebagai pemandu bakat adalah proyeksi jangka panjang untuk kebutuhan Tim Nasional Indonesia di masa depan, bukan sekadar statistik instan di turnamen usia dini.
“Sebenarnya kita di sini punya tugas untuk memilih pemain-pemain yang akan punya potensi, suatu waktu nanti pemain itu bisa mencapai level tim nasional senior. Itu menjadi tujuan kita,” tutur Jacksen, Minggu (28/6/2026).
Di mata Jacksen, motor permainan Kudus sepenuhnya bertumpu pada kecerdasan taktis sang nomor 6.
“Dalam sudut pandang saya, Sabrina itu anak yang bermain sangat taktikal dan dia menjadi motor permainan di Kudus. Hampir semua bola dari sektor belakang ke depan itu lewat kakinya Sabrina dan distribusi bolanya memang sangat luar biasa sekali,” tambahnya.
Mantan pelatih Persipura Jayapura itu juga memuji konsistensi Sabrina dalam menjaga penguasaan bola. Selama memantau jalannya kompetisi, Jacksen mengaku terkesan karena tidak pernah sekali pun melihat Sabrina bermain panik.
“Tidak pernah satu kali pun saya melihat anak itu tendang bola asal,” tegas Jacksen.
Ia menilai tingkat inteligensi Sabrina berada di atas rata-rata karena sang pemain selalu melakukan scanning (pemindaian lapangan) sebelum melepas umpan, dan langsung bergerak cepat mencari ruang kosong untuk mendukung rekan setimnya (support system).
Kecerdasan otak inilah yang menurut Jacksen jauh lebih berharga ketimbang kemampuan fisik semata. Ia bahkan sempat memberikan teguran halus kepada kacamata media yang kerap salah fokus dalam menilai kualitas seorang pesepak bola.
“Makanya mungkin dari sudut pandang teman-teman wartawan terkadang fokus kepada gol. Kalau saya fokus kepada bagaimana mengalirkan permainan dari sebuah tim,” ujar Jacksen.
Ia sangat yakin bahwa dengan modal ketenangan dan kemampuan mengambil keputusan yang jernih di bawah tekanan, Sabrina akan menjadi pemain yang paling cepat menembus skuad Tim Nasional Indonesia wanita di masa depan.
Gelar MVP yang didekap Sabrina membuktikan bahwa sepak bola adalah permainan isi kepala. Melalui penampilan “anggun” sang La Pausa di Supersoccer Arena, kita diajarkan sebuah seni taktis yang berharga; bahwa pemain paling vital di dalam sebuah tim terkadang bukanlah ia yang berlari paling kencang atau bikin banyak gol. Pemain terpenting, kadang, adalah ia yang tahu kapan harus berhenti sejenak untuk memindai lapangan, baru mengumpan.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Sabrina, Anak Penjual Es Krim di Pati yang Rengkuh Gelar MVP MLSC All Stars dan Tembus Skuad Elite ke Singapura atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














