Anton Sanjoyo menilai federasi tak memiliki roadmap pembinaan usia muda yang konkret bagi sepak bola putri di Indonesia. Sementara menurut Coach Timo, kehadiran MLSC dengan sistem pemantauan, pengembangan, dan pematangan bakat muda yang mumpuni, membuka jalan solusi atas permasalahan tersebut.
***
Super Soccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, bising oleh gema yel-yel suporter cilik pada Minggu (28/7/2026) siang. Denyut kompetisi MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All-Stars 2026 telah mencapai puncaknya.
Sebanyak 12 tim yang mewakili 12 kota bertarung di lapangan hijau. Mereka adalah barisan anak perempuan usia belasan tahun yang telah lolos saringan ketat di tingkat daerah masing-masing.
Di sela jeda pertandingan, saya sempat berbincang dengan Renanthera A. Addya Putri, punggawa andalan tuan rumah Kudus All Stars. Sepanjang turnamen, gadis belia ini mencuri perhatian lewat bakat spesifik: sepakan jarak jauh.
Sepanjang turnamen, Thera–sapaan akrabnya–berhasil mengemas dua gol. Keduanya dilesakkan dari luar kotak penalti, satu melalui free kick dan satu lagi via sepakan jarak jauh nyaris setengah lapangan.
Selain Thera, saya juga mengobrol dengan Nadia Shakila Azzahra, penyerang tajam asal Yogyakarta yang didaulat sebagai salah satu top skor dengan empat gol. Tatkala ditanya ihwal harapan terbesar mereka seusai turnamen ini, jawaban keduanya lugas dan seragam: menembus skuad Tim Nasional Indonesia.
Mendengar jawaban lugas tersebut, sebuah realitas yang kontras terpampang di lapangan. Anak-anak perempuan ini telah menuntaskan bagian mereka: berlatih keras, mencetak gol, dan merawat asa berseragam Timnas.
Namun, ekosistem yang semestinya mewadahi mimpi mereka belum sepenuhnya terbangun.

Kesenjangan antara tingginya ambisi pemain dan absennya peta jalan dari negara inilah yang memantik sorotan dari pengamat sepak bola, Anton Sanjoyo. Ia menilai, selama ini sepak bola putri Indonesia diperlakukan bak anak tiri.
Anton menyoroti fakta bahwa Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) sejujurnya tidak memiliki peta jalan (roadmap) pembinaan usia muda yang konkret bagi para atlet perempuan.
“Selama ini, janji-janji mengenai kompetisi sering didengungkan oleh federasi. Namun, wujud nyatanya di lapangan nyaris tidak ada,” kata Anton saat ditemui Mojok, Sabtu (27/6/2026).
Di tengah kosongnya peran federasi, pihak swasta hadir mengambil alih kemudi. Sejak pertengahan 2023, Bakti Olahraga Djarum Foundation membuka rute pembinaan dasar yang semestinya menjadi pekerjaan rumah negara.
Langkah ini lantas menular kepada entitas lain, seperti Bayan Peduli yang mengucurkan pendanaan pembinaan di wilayah Samarinda dan Banjarmasin.
Menariknya, arsitektur ekosistem rancangan swasta ini tidak dibangun secara serampangan. Mereka merakit sebuah piramida pembinaan berjenjang yang mengalir urut dari akar rumput hingga ke level elite.
Merawat kegembiraan bermain bola di level sekolah dasar
Pada tahap paling dasar, pembinaan tidak dimulai lewat sistem kompetisi yang kaku dan sarat tekanan. Anton menjelaskan bahwa anak perempuan di bawah kelompok umur 10 dan 12 tahun akan rusak secara psikologis apabila langsung dihadapkan pada format turnamen yang rigid.
“Tidak bisa langsung turnamen yang kaku. Format festival, yang justru harus diambil karena paling ideal,” jelasnya.
“Tujuannya, untuk memastikan anak-anak merasa gembira dan mau menyentuh bola terlebih dahulu. Dan metode ini sudah lumrah diterapkan oleh negara-negara maju yang memegang tradisi sepak bola putri yang tangguh sekalipun.”

Turnamen dengan format dan filosofi “festival” tersebut, salah satunya, dieksekusi lewat MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All Stars.
Turnamen yang bermula dari empat kota ini berkembang pesat merambah 12 kota, serta ditargetkan berekspansi menuju 15 kota pada tahun mendatang.
Anton menegaskan, fase ini merupakan fondasi paling krusial guna menjaring bakat terpendam di sekolah-sekolah. Sekolah menjadi titik mula dari siklus pembinaan ideal, sebelum nantinya mengalir ke SSB, akademi, dan akhirnya bermuara di klub profesional.
MLSC menang di sistem
Tatkala minat bermain bola tumbuh masif di kelompok usia dini, para lulusan MLSC kemudian diarahkan ke jenjang berikutnya.
Pada rentang usia 14 hingga 18 tahun, kegembiraan atau festive bermain tadi mulai dikonversi menjadi pemahaman taktik yang serius. Guna mewadahi fase ini, digagaslah kompetisi reguler bertajuk Hydro Plus Soccer League khusus kelompok umur 15 dan 18 tahun.
Menurut pelatih kepala MLSC, Timo Scheunemann, cetak biru pembinaan ini dirancang dengan berkiblat pada skema pemantauan bakat milik Jerman dan Prancis. Pemilihan dua raksasa Eropa tersebut didasari satu alasan kuat: mereka memiliki jaringan titik pantau yang tersebar rapi di berbagai daerah.
Sistem ini memastikan tidak ada satu pun talenta di pelosok yang luput dari jangkauan radar pelatih nasional.
Pendekatan terstruktur inilah yang coba direplikasi oleh Timo dan timnya di MLSC. Ia menyadari sebuah realitas di lapangan; jumlah pesepak bola putri berlisensi di Indonesia jauh lebih sedikit dibanding negara-negara Eropa.
Namun, ketimpangan kuantitas itu sanggup diakali apabila Indonesia menerapkan proses kurasi seketat Jerman dan Prancis. Inilah landasan berpikir dari konsep “kalah jumlah, tapi menang sistem”.

Timo lantas membedah logikanya dengan amat sederhana. Menurutnya, sebanyak apapun populasi sebuah negara, pada akhirnya pemain yang bertanding di atas lapangan hijau hanyalah sebelas orang. Oleh karena itu, federasi dituntut berhenti membanggakan angka 270 juta penduduk Indonesia.
“Tugas mutlak sebuah negara adalah memoles belasan talenta terbaik melalui sistem saringan yang berlapis, alih-alih pasrah menunggu lahirnya ‘keajaiban’ dari populasinya yang padat,” jelasnya, Sabtu (27/6/2026).
“Kalau sepak bola bagus diukur dari jumlah populasi negara, lihat saja Cape Verde hari ini. Populasi mereka sedikit, jauh di bawah kita, tapi bisa merancang sistem terbaik untuk mendapatkan 11 pemain terbaik. Dan mereka kini main di Piala Dunia.”
MLSC punya 15 titik pemantauan bakat muda
Guna mewujudkan saringan berlapis tersebut, ia mengaku tidak sekadar melempar wacana. Penerapan dari sistem ini dieksekusi lewat pembangunan 15 titik pemantauan (scouting points) yang tersebar di berbagai kota penyelenggara MLSC.
Jaringan ini secara spesifik mereplikasi model pemusatan regional ala Clairefontaine di Prancis–yang melahirkan bakat seperti Nicolas Anelka hingga Kylian Mbappe.
Namun, ada satu filosofi penting yang digarisbawahi Timo dalam sistem ini: anti-monopoli. Titik pantau tersebut murni berfungsi sebagai tempat latihan tambahan atau extra training berstandard nasional. Pihaknya sama sekali tidak berniat merampas anak-anak berbakat untuk digabungkan ke dalam sebuah klub baru.
Anak-anak perempuan ini dibiarkan tetap bernaung di bawah bendera klub atau Sekolah Sepak Bola (SSB) lokal daerah masing-masing. Mereka hanya diwajibkan datang ke titik pantau secara rutin guna menerima suntikan kurikulum ekstra.
“Menurut saya, langkah terintegrasi ini dapat memastikan ekosistem pembinaan berjalan sehat. SSB di akar rumput tetap hidup dan bangga atas anak didikan mereka, sementara sang atlet mendapat jalan yang mudah menuju panggung elite,” jelas Timo.
View this post on Instagram
Menguji mental hingga bangku kuliah
Selanjutnya, para pemain yang menunjukkan grafik perkembangan istimewa dari sistem kepelatihan Timo akan disaring kembali ke dalam skuad elite All-Star. Lapisan teratas ini memperoleh privilese melakoni uji coba internasional, salah satunya dikirim ke Singapura.
Di Negeri Singa, anak-anak ini sengaja diadu melawan tim yang usianya satu atau dua tahun lebih matang, serta diwajibkan bermain di lapangan besar ukuran reguler.
“Agenda ini kami rancang untuk melatih mental bertanding mereka. Membiasakan tubuh dengan iklim kompetisi mancanegara, sekaligus memberi pengalaman psikologis yang sebenarnya vital bagi atlet daerah, yakni naik pesawat,” ungkap Timo.
Sementara bagi mereka yang ingin terus mengejar karier di lapangan hijau hingga usia dewasa tanpa mengorbankan pendidikan formal, ekosistem MLSC memberi jembatan berupa Campus League di tingkat perguruan tinggi.
Dengan demikian, alur pembinaan dari tingkat SD, beralih ke klub, hingga bangku kuliah telah terpetakan secara berkesinambungan melalui sistem ini.

Seluruh saringan berlapis dan pemusatan latihan di daerah ini tentu harus bermuara pada satu titik. Bagi pihak penyelenggara, puncak dari arsitektur pembinaan ini tentu masuk ke dalam skuad Timnas Garuda. Sebab, pipa pembinaan MLSC secara spesifik memang dirancang untuk menyuplai bibit-bibit pesepak bola putri bagi timnas kelompok umur U-15 dan U-17.
Fokus pada kelompok umur tersebut didasari oleh perhitungan yang matang. Konfederasi sepak bola dunia, FIFA, baru saja meresmikan agenda turnamen internasional tahunan untuk kategori usia 15 tahun. Artinya, ada panggung dunia yang kini rutin menanti.
“Indonesia tidak boleh lagi merakit tim secara dadakan. Kita wajib memiliki stok pemain yang siap tempur kapan saja,” tegas Timo.
Timo, yang bertindak sebagai jembatan penghubung antara pihak swasta dan PSSI, memastikan kurikulum daerah tersinkronisasi penuh dengan kebutuhan pelatih Timnas. Inisiatif terstruktur ini bahkan telah mendapat dukungan langsung dari Ketua Umum PSSI, Erick Thohir.
“Kami membuka jalan roadmap (pembinaan) yang benar. Harapannya bisa ditiru pihak-pihak lain, termasuk PSSI.”
Tantangan terakhir ada di level klub profesional
Sistematisnya ekosistem di jenjang usia dini yang dibikin MLSC, lantas berhadapan dengan satu ujian riil di lapangan: klub profesional Liga 1.
Di gerbang terakhir inilah rantai pembinaan terancam terputus. Secara faktual, mayoritas klub di kasta tertinggi sepak bola Indonesia belum mendirikan akademi maupun tim putri yang dikelola secara mandiri.
Anton Sanjoyo menyoroti anomali ini. Ia mengkritik kebiasaan sejumlah klub Liga 1 yang kerap menempuh jalan pintas. Mereka ditengarai sekadar menyewa atau meminjam pemain dari berbagai SSB lokal tatkala jadwal turnamen putri bergulir, semata demi menggugurkan syarat lisensi klub profesional.
“Selepas peluit turnamen berakhir dibunyikan, tim putri dadakan tersebut langsung dibubarkan,” kata Anton.
Praktik instan semacam ini jelas mencederai nalar pembinaan jangka panjang. Ribuan pesepak bola belia yang kini digembleng lewat turnamen swasta kelak membutuhkan pelabuhan karier yang jelas.
Bagi Anton, jika klub-klub elite terus menolak berinvestasi pada akademi putri, talenta-talenta emas yang telah disaring ketat melalui belasan titik pantau daerah tadi hanya akan layu sebelum berkembang.
Di titik kritis inilah Anton mendesak PSSI selaku pemegang otoritas tertinggi guna menggunakan wewenang mutlaknya. Federasi dituntut berhenti memberi kelonggaran.
“Di Eropa, sepak bola putri sama gairahnya dengan sepak bola putra. PSSI wajib memaksa seluruh kontestan Liga 1 membangun tim putri yang permanen guna menyerap limpahan pemain didikan turnamen usia muda.”
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Coach Jacksen F. Tiago: Pendekatan Psikologis Pemain Muda Putri Harus Didahulukan Ketimbang Fisik dan Taktik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














