Saleh, salah satu pekerja migran Indonesia yang pernah kerja di Jepang, merasakan sebuah ironi. Ia sudah kerja keras dan banting tulang di negeri orang demi tabungan masa depannya.
Sayangnya, setelah sukses, ia seperti tak bisa menikmati apa-apa. Hasil jerih payahnya selama kerja di Jepang terasa sia-sia dan tak berguna.
Kerja di Jepang jadi primadona di kalangan anak muda Indonesia
Bagi banyak anak muda di Indonesia, mencari pekerjaan setelah lulus sekolah menengah kejuruan (SMK) bukanlah hal yang mudah. Seringkali, lowongan pekerjaan meminta syarat pengalaman kerja yang belum mereka miliki. Gaji yang ditawarkan di dalam negeri juga terkadang belum cukup untuk mengubah nasib keluarga secara cepat.
Karena alasan itulah, banyak pemuda desa yang akhirnya memilih jalan keluar dengan kerja ke Jepang. Alasan mereka sangat masuk akal dan masuk hitungan. Persyaratan untuk berangkat ke Jepang cenderung lebih mudah ditembus, terutama bagi lulusan SMK yang bisa disalurkan lewat program magang atau kerja keahlian khusus.
Selain itu, negara Jepang saat ini memang sedang sangat membutuhkan banyak tenaga kerja dari luar negeri. Penduduk asli mereka banyak yang sudah tua, sehingga pabrik dan rumah sakit di sana kekurangan orang. Ditambah lagi, gaji di Jepang terbilang lumayan besar jika ditukar ke dalam mata uang Rupiah.
Fakta ini membuat jumlah warga negara Indonesia yang mengadu nasib di Negeri Sakura terus bertambah. Berdasarkan catatan laporan ketenagakerjaan, hingga akhir tahun 2025 bahkan ada hampir 150 ribu orang Indonesia yang bekerja dan magang di Jepang.

Alasan kerja di Jepang, biar bisa mapan sebelum usia 30
Salah satu dari ratusan ribu orang yang mencari harapan di Jepang itu adalah Saleh. Saat ini, usia Saleh baru saja menginjak 30 tahun.
Ia pertama kali terbang ke Jepang pada tahun 2015 silam. Saat itu umurnya baru 21 tahun, terhitung masih sangat muda. Itu adalah tahun ketiga setelah ia menerima ijazah kelulusan dari sebuah SMK.
Saleh membenarkan semua anggapan orang tentang enaknya kerja di Jepang. Ia berangkat karena tergiur gaji yang besar dan jalan keberangkatan yang jelas. Namun, tidak seperti beberapa temannya yang ingin ke luar negeri hanya untuk gaya-gayaan atau jalan-jalan, Saleh punya rencana hidup yang sangat matang.
“Sebelum berangkat, saya punya ambisi pribadi yang harus dicapai,” ujarnya, saat dihubungi Mojok, Minggu (23/2/2026).
Saleh berjanji pada dirinya sendiri, sebelum umurnya menyentuh angka 30 tahun, ia harus sudah mapan. Baginya, arti mapan itu sangat sederhana, tapi butuh uang banyak.
“Saya ingin sudah punya rumah sendiri yang layak, punya tabungan banyak di bank, sehingga bisa membahagiakan bapak dan ibu di kampung. Karena selama ini hidup kami sudah pas-pasan.”
Karena ambisi besar itulah, hari-hari Saleh di Jepang hanya diisi dengan rutinitas bekerja. Ia sangat fokus mengumpulkan uang. Setiap bulan setelah menerima gaji, ia langsung membagi uangnya dengan ketat.
Ia hanya menyisakan sedikit uang untuk biaya makan seadanya dan membayar sewa tempat tinggal di Jepang. Sebagian lagi ia masukkan ke rekening tabungan pribadi.
Sisanya, yang merupakan jumlah paling besar, langsung ia transfer ke rekening orang tuanya di kampung halaman. Uang kiriman itu dipakai untuk biaya hidup bapak ibunya sehari-hari, sekaligus digunakan untuk mencicil pembelian bahan bangunan.
“Alhamdulillah, sedikit demi sedikit, uang hasil kerja di Jepang itu lama-lama jadi pondasi, tembok, genteng.”
5 kali lebaran tak pulang
Kerja keras dan sikap berhemat Saleh menuntut pengorbanan yang tidak main-main. Demi menjaga agar uangnya tidak cepat habis, Saleh rela tidak pulang ke Indonesia selama lima kali Hari Raya Idulfitri berturut-turut.
Bagi orang Indonesia, tidak pulang saat Lebaran adalah kesedihan besar. Namun, Saleh punya hitungan sendiri. Harga tiket pesawat bolak-balik dari Jepang ke Indonesia saat musim libur Lebaran sangatlah mahal.
Uang belasan juta rupiah itu terasa sayang jika hanya dihabiskan untuk ongkos perjalanan. Saleh lebih memilih menahan rindu agar uang tiket itu bisa dipakai untuk meneruskan pembangunan rumahnya di desa.
Meski tak pernah pulang, Saleh mengaku…
Baca halaman selanjutnya…
Banyak uang, sukses, tapi merasa tak ada gunanya lagi.














