Driver ojol asal Jogja ini sempat berdebat dengan anaknya agar dia mau kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) saja, alih-alih kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), mengingat jarak dan biaya yang harus dia kirimkan jika anak perempuannya merantau. Namun, berkat beasiswa dari pekerjaan sang ayah, anak tersebut akhirnya bisa kuliah di ITB.
Mewujudkan mimpi sang anak lewat ngojol
Sebagai driver ojek online, Sunarwanto (53) selalu mengupayakan pendidikan anak perempuannya bahkan mencarikan beasiswa agar anaknya bisa kuliah. Saban sore hingga malam, dia mengendarai mobilnya untuk mencari penumpang dan menyisihkan sebagian penghasilannya guna bekal masa depan sang anak.
“Kadang kalau weekend saya bisa narik dari pagi,” kata Sunarwanto kepada Mojok, Kamis (18/6/2026).
Laki-laki asal Jogja itu berujar telah menjadi driver ojol sejak tahun 2018. Awalnya, kata dia, ngojol adalah pekerjaan sampingan, sehingga dirinya lebih fokus pada usaha keluarga. Akan tetapi, setelah Covid-19 berakhir, usaha tersebut malah tidak berjalan lancar.
“Dulu untuk penghasilan tambahan saja, tapi saat ini ngojol jadi pekerjaan utama, karena sekarang juga nggak ada pekerjaan lain,” tegasnya.
Tentu saja kondisi itu mengubah drastis pemasukan Sunarwanto. Dia khawatir tidak bisa mewujudkan mimpi anaknya untuk kuliah. Dia berharap putrinya bisa diterima di UGM. Sementara itu, Gadis Ayudya Setiawan (18), anaknya berharap bisa diterima di ITB.
Beasiswa ojol jadi salah satu jalan
“Dari dulu saya memang ingin masuk kuliah di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) di ITB, tapi bapak agak kurang setuju karena faktor jarak dan biaya. Beliau menyarankan ke Teknologi Geologi UGM saja,” ujar Gadis saat dihubungi Mojok secara terpisah, Kamis (18/6/2026).
“Namun, setelah meminta berbagai pendapat dari teman-teman dan ibu saya yang juga memberikan dukungan penuh, saya yakin bahwa FITB ITB merupakan pilihan terbaik bagi saya,” jelas Gadis sembari meyakinkan ayahnya bahwa dia akan berusaha mencari beasiswa.
Gadis ingat betul, H-1 sebelum pengumpulan berkas SNBP, dia akhirnya menangis di hadapan sang ayah untuk meminta restu agar diperbolehkan mendaftar ke FITB ITB. Kagum dengan semangat dan argumentasi anaknya, Sunarwanto akhirnya luluh sehingga mengizinkan putrinya untuk merantau.
“Setelah diskusi dengan istri, akhirnya kami setuju. Saya yakin pasti ada jalan. Sebagai orang tua, kami pasti berharap dia bisa belajar dengan sungguh-sungguh agar cita-cita yang diinginkan tercapai,” kata Sunarwanto.
Dan benar saja, jalan itu selalu ada. Salah satunya beasiswa untuk anak mitra ojol.
Malam panjang menunggu hasil pengumuman dari ITB

Di masa-masa menunggu hasil pengumuman, Gadis mengaku gusar. Ada perasaan ragu jika nantinya dia tidak lolos. Apalagi dia harus memikirkan, bagaimana caranya mendapatkan beasiswa. Meski begitu, dia berusaha meyakinkan diri bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil.
Sejak kelas 10 hingga 12 SMA, Gadis sudah berusaha mempertahankan nilai-nilai di rapornya. Bahkan dia punya target agar nilainya naik di tiap semester.
“Karena saya sudah punya keinginan masuk PTN jalur SNBP sejak kelas 10. Hal ini saya lakukan dengan belajar sungguh-sungguh dikala ujian tiba, serta turut aktif dalam pembelajaran di kelas,” ucapnya.
“Berkat doa jalur langit, usaha yang saya lakukan, serta dukungan dari kedua orang tua dan teman-teman saya, alhamdulillah saya bisa lulus,” lanjutnya.
Mencari beasiswa untuk bekal kuliah di ITB
Setelah dinyatakan lulus jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) di ITB, Gadis akhirnya bisa fokus untuk mencari beasiswa. Lewat berbagai informasi di media sosial, Gadis jadi tahu ada beasiswa dari yayasan GoTo Merah Putih (YGMP).
“Saya tidak pernah malu dengan pekerjaan bapak sebagai driver ojol. Justru saya bangga karena beliau dapat mencari nafkah untuk kami lewat pekerjaan ini, bahkan bisa mengantarkan saya pada beasiswa ini,” kata Gadis.
Melansir laman resmi Gojek, beasiswa diberikan untuk mitra dan anak mitra mereka yang mau atau sedang berkuliah. Bentuknya adalah uang kuliah tunggal (UKT) yang akan di-reimburse oleh pihak YGMP sampai mahasiswa tersebut lulus.
Selain untuk calon mahasiswa penerima jalur prestasi (SNBP) Kampus Negeri seperti Gadis yang diterima di ITB, beasiswa juga diberikan untuk calon mahasiswa penerima jalur tes (SNBT), serta mahasiswa aktif semester 2-6 di kampus negeri.
Restu bapak dan ibu yang mengantarkan mimpi Gadis
Sunarwanto yang awalnya kaget saat mengetahui beasiswa tersebut, tanpa ba-bi-bu lagi langsung menyerahkan gawainya ke Gadis. Dia lalu mengizinkan putrinya untuk mendaftar lewat akun ojolnya, sembari berharap Gadis memenuhi syarat penerima beasiswa.
“Alhamdulillah saya dan bapak saya memenuhi kriteria beasiswa ini. Pertama, karena saya memang sudah lolos SNBP. Kedua, identitas bapak saya sebagai mitra andalan,” jelas Gadis.
Mendengar hal itu, Sunarwanto tak henti-hentinya mengucap syukur. Meski sudah terbantu dengan biaya UKT, Sunarwanto tetap memberikan nasihat kepada Gadis agar selalu bekerja keras dan jangan takut untuk mencoba.
“Karena kata Bapak, gagal itu lebih baik daripada tidak mencoba,” ucap Gadis.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Perjuangan Ojol sambil Kuliah: Pernah Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan, Kini Lulus Jadi Sarjana Hukum UGM atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














