Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Niat Daftar LPDP Berujung Kena Mental, Malah Diserang Personal oleh Pewawancara dan Tak Diberi Kesempatan Bicara

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
20 Februari 2026
A A
Wawancara beasiswa LPDP

Ilustrasi - Wawancara beasiswa LPDP (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

LPDP jadi beasiswa paling cepat terlintas di pikiran kalau butuh sokongan dana buat lanjut sekolah lagi. Daftar LPDP jadi semacam “harapan” kalau negara mau memfasilitasi, tapi yang terjadi sering sebaliknya, khususnya dalam tahap wawancara.

Skema wawancara LPDP yang berbeda-beda

Tahap wawancara LPDP diisi oleh tiga pewawancara. Biasanya, formasi pewawancara akan terdiri dari akademisi, praktisi, dan psikolog. Setiap pendaftar, meskipun membidik jurusan dan kampus yang sama, bukan mustahil akan mendapatkan pewawancara yang berbeda. Inilah yang membuat faktor “bejo” (keberuntungan) juga dimainkan dalam tahap akhir ini.

Iklan

Pasalnya, keragaman pewawancara ini berarti akan ada pewawancara yang objektif dalam menilai. Juga, ada pewawancara yang subjektif, bahkan judgemental.

Melati (24) adalah salah satu yang mengalaminya. Ia dipertemukan dengan pewawancara yang menyerang personal alih-alih mengulik potensinya.

Ada yang berjuang habis-habisan, malah diserang personal di akhir seleksi

Wawancara adalah tahapan akhir seleksi. Ini berarti, tahap ini menjadi harapan “terakhir” juga buat Melati (bukan nama sebenarnya) yang berusaha penuh selama proses seleksi.

Bagi yang belum tahu, LPDP terdiri dari tiga tahapan seleksi: seleksi administrasi, seleksi bakat skolastik (TBS), dan seleksi substansi (wawancara). 

Dalam seleksi administrasi, pendaftar perlu mengumpulkan seluruh berkas yang diminta. Memastikan berkas ini terpenuhi saja sudah cukup sulit, Melati harus menghubungi dosen di kampus sebelumnya, juga menuliskan esai panjang tentang diri dan rencana kontribusi.

Selanjutnya, karena Melati sudah mengantongi surat penerimaan (LoA), ia bisa melewati tahapan TBS. Namun, Melati tidak bisa melangkahi wawancara dan langsung menjadi penerima—disebut awardee—begitu saja.

Inilah langkah terakhir yang menjadi penentunya bagi Melati. Wawancara adalah tahap sekaligus harap terakhirnya.

Namun, harapan Melati dimusnahkan. Ia ditolak mentah-mentah, bahkan sebelum bisa berusaha meyakinkan bahwa dirinya layak menerima LPDP. Melati menggambarkan situasi ini terjadi dalam tensi yang tinggi, menempatkan dirinya dalam serangan personal dari berbagai celah yang memungkinkan.

“Aku merasa pas wawancara itu tensinya sangat tinggi karena semua yang diserang secara personal,” kata Melati kepada saya, Jumat (20/2/2026) siang.

Menjatuhkan mental bisa jadi trik wawancara, tapi bukan berarti adil

Meskipun disambut dengan suasana yang tidak nyaman, Melati mencoba memahami. Ia bilang, sudah pernah mendengar ulasan wawancara LPDP yang seperti ini sebelumnya. Ia tidak sendiri—bukan hanya Melati yang mengalami, sehingga mencoba menerima.

“Walaupun waktu itu, aku pernah dengar siapa gitu ngomong kalau emang [serangan personal] itu tuh sengaja. Sebuah trik supaya bisa melihat apakah kita bener-bener ready untuk melanjutkan dan menyelesaikan studi S2. Jadi, bukan untuk menyerang personal,” katanya.

Namun setelah sudah mempersiapkan diri untuk menerima wawancara sebagai bagian seleksi yang lebih profesional, Melati tidak bisa menerima.

Iklan

Ia membayangkan wawancara LPDP akan seperti wawancara kerja bersama HR yang ditujukan untuk menggali potensi calon pekerja. Bukan untuk “menguliti” seperti seorang hakim.

Terlebih, pertanyaan yang diterima Melati langsung merujuk pada latar belakangnya sebagai lulusan UGM, salah satu kampus di Jogja, bergengsi di Indonesia. Melati yang ingin kembali ke UGM dipertanyakan, padahal mengingat posisi “terbaik” kampusnya itu adalah keputusan yang masuk akal.

“Tapi, aku tetap merasa terserang secara personal karena kayak gimana ya, bahkan aku tidak disuruh perkenalan tuh seingatku langsung ditembak ‘Kenapa pengin lanjut UGM lagi?’,” ujarnya menirukan gaya pewawancara yang menanyainya dengan sinis.

Baca halaman selanjutnya…

Dihakimi dan dicap “buruk” dalam wawancara LPDP karena tidak penuhi ekspektasi

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 21 Februari 2026 oleh

Tags: beasiswa lpdpkuliah s2kuliah S2 UGMlolos LPDPLPDPpilihan redaksisyarat LPDPwawancara LPDP
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Hal-hal yang bisa ditemukan di warung madura tapi tidak dimiliki di Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih MOJOK.CO
Catatan

Hal-hal yang Bisa Ditemukan di Warung Madura tapi Tidak Ada di Koperasi Desa (Kopdes), Cukup “Berlainan” jika Disandingkan

28 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Esai

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder MOJOK.CO

Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder

31 Juli 2026
Tuduhan Londo Ireng di Tengah Kekerasan yang Terus Berulang MOJOK.CO

Tuduhan Londo Ireng di Tengah Kekerasan yang Terus Berulang

27 Juli 2026
cut off pertemanan. MOJOK.CO

10 Tahun Persahabatan Berujung Cut Off Mengajari Saya Satu Hal: Kita Bukan Jahat, tapi Memang Sudah Tak Sejalan

31 Juli 2026
Peserta Pekan Budaya Difabel di Jogja. MOJOK.CO

Pekan Budaya Difabel 2026: Saat Anak-anak Terbebas dari Stigma lewat Seni dan Terapi di Ruang Inklusif

29 Juli 2026
Yamaha Sigma motor kelas bawah tapi paling bisa diandalkan MOJOK.CO

Yamaha Sigma adalah Motor pertama di Jogja hasil lungsuran dari bapak dan jadi saksi momen-momen paling serius dalam hidup saya

28 Juli 2026
kesehatan mental dan stigma odgj mojok.co

Indonesia Darurat Depresi pada Remaja: Jangan Pernah Takut Mencari Bantuan Masalah Kesehatan Mental

31 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.