Sudah jatuh ditimpa tangga, dihakimi dan dicap “buruk” dalam wawancara LPDP
Setelah itu, Melati mengatakan, dirinya langsung menerima “cap” dari pewawancara LPDP. Padahal, wawancaranya baru saja berlangsung.
Keputusan Melati untuk melanjutkan kuliah di UGM lagi malah jadi bumerang baginya yang disebut “tidak mau berpetualang” karena berasal dari Jawa Tengah, lalu melanjutkan studi di Jogja lokasinya masih bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua.
Selama kariernya, Melati juga menjejali Jawa Tengah-Jogja. Bisa dikatakan, Melati berkontribusi penuh terhadap Jawa Tengah-Jogja.
Namun, bukannya menjadi nilai lebih karena “berkesinambungan”, ia dicap buruk begitu saja.
“Karena kan aku S1-nya UGM. Jadi, pertanyaan pertamanya itu. Nah, habis itu, terus di-judge bahwa aku punya kecenderungan untuk nggak mau ‘berpetualang’,” kata Melati.
Padahal, calon penerima beasiswa seperti Melati inilah yang akan berdedikasi penuh apabila diberi kesempatan. Salah satu poin pernyataan pendaftaran LPDP mensyaratkan peserta untuk kembali ke Indonesia dan berkontribusi di Indonesia selama 2 kali masa studi ditambah 1 tahun setelah selesai studi.
Dalam kondisi, calon penerima sudah punya jejak karier di wilayah asal, lalu memilih mengulang studi di kampus yang sama (yang juga terbaik di Indonesia) dengan rencana kontribusi di lokasi yang tidak jauh dari sana. Artinya, ia akan memanfaatkan beasiswa sebaik-baiknya, bukan justru menyalahgunakan seperti sebagian oknum.
Pewawancara LPDP sudah punya ekspektasi, wawancara hanya basa-basi
Tidak sampai di sini, Melati masih menerima pertanyaan panjang yang membuatnya mempertanyakan diri sendiri.
Salah satu yang paling membekas adalah ketidakselarasan rencana dan pengalaman Melati, menurut pewawancaranya. Kedua hal ini dilihat berbeda dengan sejarah Melati yang lebih condong sebagai praktisi, tetapi ingin beralih menjadi akademisi.
“Aku juga dipertanyakan kenapa selama S1 tidak ikut konferensi yang sifatnya ilmiah banget gitu? Kenapa tidak ada publikasi segala macem, padahal rencana ke depan katanya mau jadi akademisi,” bebernya.
Melihat daftar pencapaian Melati, bukan tidak pernah Melati berkontribusi dalam ranah akademis. Ia pernah menjejal pengalaman sebagai guru. Ia juga pernah melakukan publikasi, meski tidak akademis—tetapi punya potensi untuk ditempa demikian kalau bisa lanjut S2.
Selain itu, mengingat akademisi punya tiga tugas pokok Tridharma, yakni mengajar, meneliti, dan mengabdi. Melati punya pengalaman panjang dalam pengabdian kepada daerah asalnya. Namun bagaimanapun, seluruh keunggulannya ini seakan-akan tidak berarti.
“Habis itu, aku juga dibilang sebenarnya kamu tuh rekam jejaknya cenderung ke sana, tapi penginnya ke sini,” ujarnya.
“Di dalam waktu mendesak dan situasi yang tensinya tinggi seperti itu, tentu saja aku nggak bisa terlalu berpikir jernih, kurasa sebenarnya mereka sudah punya jawaban, tapi memastikan apakah jawabanku sama dengan ekspektasi mereka kayak gitu,” kata Melati menambahkan gambaran situasinya saat itu.
Karena itu, Melati jadi merasa rendah diri. Ia merasa pencapaiannya yang tidak relevan, berarti tidak ada pencapaian—sebab, tidak dipertimbangkan. “Jadi, menurut mereka, nggak oke kalau aku mau lanjut S2, tapi dengan rencana kontribusi menjadi akademisi itu, tapi apa yang udah aku perbuat di S1 tuh kayak tidak mengarah ke sana gitu,” tambahnya.
Setelah wawancara berakhir, barulah Melati yang bisa menenangkan dirinya menyadari. Bukan salahnya diberi “cap tidak layak” dalam wawancara, melainkan kesempatan yang tidak pernah benar-benar diberikan.
Menurutnya, alasan-alasan yang dilontarkan untuk tidak menerimanya adalah alasan-alasan untuk menerimanya. Ia bisa memutarbalikkan itu kalau saja tidak dihakimi lebih dulu dan diserang habis-habisan secara personal.
“Aku lupa nggak menyampaikan bahwa itulah kenapa aku pengin S2, karena knowledge gap-nya di situ yang mau aku isi, makanya kasih aku chance gitu, tapi kan sudah di-judge duluan,” tutupnya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang dan artikel liputan Mojok lainnya dalam rubrik Liputan













