Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Niat Daftar LPDP Berujung Kena Mental, Malah Diserang Personal oleh Pewawancara dan Tak Diberi Kesempatan Bicara

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
20 Februari 2026
A A
Wawancara beasiswa LPDP

Ilustrasi - Wawancara beasiswa LPDP (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sudah jatuh ditimpa tangga, dihakimi dan dicap “buruk” dalam wawancara LPDP

Setelah itu, Melati mengatakan, dirinya langsung menerima “cap” dari pewawancara LPDP. Padahal, wawancaranya baru saja berlangsung.

Keputusan Melati untuk melanjutkan kuliah di UGM lagi malah jadi bumerang baginya yang disebut “tidak mau berpetualang” karena berasal dari Jawa Tengah, lalu melanjutkan studi di Jogja lokasinya masih bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua.

Iklan

Selama kariernya, Melati juga menjejali Jawa Tengah-Jogja. Bisa dikatakan, Melati berkontribusi penuh terhadap Jawa Tengah-Jogja.

Namun, bukannya menjadi nilai lebih karena “berkesinambungan”, ia dicap buruk begitu saja.

“Karena kan aku S1-nya UGM. Jadi, pertanyaan pertamanya itu. Nah, habis itu, terus di-judge bahwa aku punya kecenderungan untuk nggak mau ‘berpetualang’,” kata Melati.

Padahal, calon penerima beasiswa seperti Melati inilah yang akan berdedikasi penuh apabila diberi kesempatan. Salah satu poin pernyataan pendaftaran LPDP mensyaratkan peserta untuk kembali ke Indonesia dan berkontribusi di Indonesia selama 2 kali masa studi ditambah 1 tahun setelah selesai studi.

Dalam kondisi, calon penerima sudah punya jejak karier di wilayah asal, lalu memilih mengulang studi di kampus yang sama (yang juga terbaik di Indonesia) dengan rencana kontribusi di lokasi yang tidak jauh dari sana. Artinya, ia akan memanfaatkan beasiswa sebaik-baiknya, bukan justru menyalahgunakan seperti sebagian oknum.

Pewawancara LPDP sudah punya ekspektasi, wawancara hanya basa-basi

Tidak sampai di sini, Melati masih menerima pertanyaan panjang yang membuatnya mempertanyakan diri sendiri.

Salah satu yang paling membekas adalah ketidakselarasan rencana dan pengalaman Melati, menurut pewawancaranya. Kedua hal ini dilihat berbeda dengan sejarah Melati yang lebih condong sebagai praktisi, tetapi ingin beralih menjadi akademisi.

“Aku juga dipertanyakan kenapa selama S1 tidak ikut konferensi yang sifatnya ilmiah banget gitu? Kenapa tidak ada publikasi segala macem, padahal rencana ke depan katanya mau jadi akademisi,” bebernya.

Melihat daftar pencapaian Melati, bukan tidak pernah Melati berkontribusi dalam ranah akademis. Ia pernah menjejal pengalaman sebagai guru. Ia juga pernah melakukan publikasi, meski tidak akademis—tetapi punya potensi untuk ditempa demikian kalau bisa lanjut S2. 

Selain itu, mengingat akademisi punya tiga tugas pokok Tridharma, yakni mengajar, meneliti, dan mengabdi. Melati punya pengalaman panjang dalam pengabdian kepada daerah asalnya. Namun bagaimanapun, seluruh keunggulannya ini seakan-akan tidak berarti.

“Habis itu, aku juga dibilang sebenarnya kamu tuh rekam jejaknya cenderung ke sana, tapi penginnya ke sini,” ujarnya.

“Di dalam waktu mendesak dan situasi yang tensinya tinggi seperti itu, tentu saja aku nggak bisa terlalu berpikir jernih, kurasa sebenarnya mereka sudah punya jawaban, tapi memastikan apakah jawabanku sama dengan ekspektasi mereka kayak gitu,” kata Melati menambahkan gambaran situasinya saat itu.

Iklan

Karena itu, Melati jadi merasa rendah diri. Ia merasa pencapaiannya yang tidak relevan, berarti tidak ada pencapaian—sebab, tidak dipertimbangkan. “Jadi, menurut mereka, nggak oke kalau aku mau lanjut S2, tapi dengan rencana kontribusi menjadi akademisi itu, tapi apa yang udah aku perbuat di S1 tuh kayak tidak mengarah ke sana gitu,” tambahnya.

Setelah wawancara berakhir, barulah Melati yang bisa menenangkan dirinya menyadari. Bukan salahnya diberi “cap tidak layak” dalam wawancara, melainkan kesempatan yang tidak pernah benar-benar diberikan.

Menurutnya, alasan-alasan yang dilontarkan untuk tidak menerimanya adalah alasan-alasan untuk menerimanya. Ia bisa memutarbalikkan itu kalau saja tidak dihakimi lebih dulu dan diserang habis-habisan secara personal.

“Aku lupa nggak menyampaikan bahwa itulah kenapa aku pengin S2, karena knowledge gap-nya di situ yang mau aku isi, makanya kasih aku chance gitu, tapi kan sudah di-judge duluan,” tutupnya.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang dan artikel liputan Mojok lainnya dalam rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 21 Februari 2026 oleh

Tags: beasiswa lpdpkuliah s2kuliah S2 UGMlolos LPDPLPDPpilihan redaksisyarat LPDPwawancara LPDP
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

SSB MAS merawat bibit-bibit muda sepak bola Kota Jogja meski dari Lapangan Minggiran yang tidak rata MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

SSB Tertua di Kota Jogja Merawat Bibit-bibit Muda Meski dari Lapangan Bola Tidak Rata

11 Juli 2026
Orang tua, ibu.MOJOK.CO
Urban

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO
Catatan

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pertama kali beli mesin cuci di rumah desa, kena julid tetangga MOJOK.CO

Pertama Kali Beli Mesin Cuci di Rumah Desa: Terharu Ringankan Beban Ibu hingga Dianggap Buang Duit oleh Tetangga Julid

10 Juli 2026
Dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum, Najwa Shihab berpesan pada para mahasiswa penerima Djarum Beasiswa Plus agar terus menulis (esai) apapun profesinya MOJOK.CO

Pesan untuk Gen Z: Menulislah Apapun Kelak Profesinya, Tak Lupa Akar di Manapun Posisinya

7 Juli 2026
Pelajaran mahal setelah menjual saham ANTM lalu membeli BBRI MOJOK.CO

Pelajaran mahal yang saya dapat setelah menjual saham ANTM lalu membeli BBRI: Saya pikir sudah berhitung dengan benar tapi pasar berpendapat lain

9 Juli 2026
Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi MOJOK.CO

Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi 

13 Juli 2026
Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten. MOJOK.CO

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026
Saat mengantar anak mencari kos untuk persiapan kuliah di PTN Jogja: anak antusias jadi mahasiswa baru (maba), orang tua justru menyimpan kecemasan yang tidak hanya persoalan UKT mahal MOJOK.CO

Saat Antar Anak Cari Kos dan Tak Sabar Jadi Maba, Ortu Tampak Antusias tapi Diam-diam Sembunyikan Cemas

8 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.