Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Ironi Kerja di Jepang: Banting Tulang Hingga 5 Kali Lebaran Tak Pulang, tapi Setelah Sukses Hasilnya Tak Bisa Dinikmati

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
23 Februari 2026
A A
kerja di jepang, merantau.MOJOK.CO

Ilustrasi - Kerja di Jepang (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Meski tidak pernah pulang, Saleh mengaku namanya sangat harum di kampungnya. Ia dilihat sebagai contoh nyata pemuda sukses. Setiap kali Lebaran tiba dan tetangga bertanya kenapa Saleh tidak pulang, bapak dan ibunya selalu menjawab dengan senyum bangga. 

“Bahagianya, bapak sama ibu sering cerita kalau orang-orang desa yang muda-muda itu pengen seperti saya kerja di luar negeri,” ungkapnya.

Iklan

Mereka tidak sedih, karena mereka tahu anak laki-lakinya sedang berjuang di negara orang demi masa depan keluarga.

Uang banyak tapi tak ada gunanya

Rencana hidup Saleh sebenarnya berjalan sangat lancar. Sesuai jadwal, kontrak kerjanya di Jepang akan benar-benar selesai pada akhir tahun 2022. Saat itu, usianya sekitar 28 tahun.

Hitungannya sudah pas: di akhir tahun 2022 ia akan pulang ke Indonesia, tabungannya sudah penuh, rumahnya sudah selesai dibangun, dan ia tinggal mencari calon istri.

Sayangnya, rencana sematang apa pun bisa hancur oleh keadaan. Pada tahun 2020, wabah virus Covid-19 menyebar ke seluruh dunia. Aturan perjalanan antarnegara ditutup rapat. Saleh ikut terjebak di Jepang dan tidak bisa ke mana-mana. Karena semuanya serba tidak pasti, ia hanya bisa terus bekerja di sana.

Puncak dari segala kejadian ini terjadi pada tahun 2021. Di saat Saleh sedang giat-giatnya menabung, kabar buruk datang dari kampung. Bapak dan ibunya terkena virus Covid-19. Kondisi kesehatan mereka terus memburuk dengan cepat. Tidak lama kemudian, kedua orang tuanya meninggal dunia.

“Saya sangat hancur,” ujarnya, mengingat kejadian pahit itu. “Waktu itu cuma bisa menangis melihat prosesi pemakaman kedua orang tua melalui video call di handphone. Baru sadar saya, gaji yang besar ini tidak berharga lagi.” 

Tabungannya memang banyak, tapi uang itu tidak bisa digunakan untuk membeli tiket pesawat karena aturan larangan terbang selama pandemi. Ia tidak bisa pulang untuk melihat wajah orang tuanya untuk yang terakhir kali.

Akhirnya, waktu yang ditunggu tiba. Pada akhir tahun 2022, aturan penerbangan mulai kembali normal. Kontrak kerja Saleh juga telah berakhir. Ia pun pulang ke kampung halamannya di Indonesia.

Kini di usianya yang ke-30, jika dilihat dari luar, hidup Saleh sangat sempurna. Jumlah tabungannya di bank pun sudah sangat cukup untuk disebut sebagai pria mapan. Rumah besar yang dulu ia cicil dengan uang keringatnya dari kerja di Jepang juga sudah berdiri kokoh.

Ia kini mulai membangun usaha di Surabaya. Namun, bagi Saleh, semua pencapaian itu terasa kosong dan sia-sia. Rumah besar itu sepi semenjak ayah dan ibunya tiada.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

Iklan

BACA JUGA: Rp40 Juta Ludes demi Bisa Kerja di Jepang, Sekadar Jadi Tukang Ngecat dan Pasang Genteng atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 23 Februari 2026 oleh

Tags: gaji kerja di jepanggaji kerja di luar negeriJepangkerja di jepangpilihan redaksiTKItki di jepang
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Apem ya qowiyyu: kue apem khas Jatinom Klaten berusia 400 tahun. Bukan sekadar warisan kuliner tradisional tapi simbol kesalehan sosial MOJOK.CO
Eksplor

Apem Ya Qowiyyu: Kue Khas Jatinom Klaten Berusia 400 Tahun, Bukan Semata Warisan Kuliner tapi Kesalehan Sosial

10 Agustus 2026
Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO
Catatan

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026
Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO
Eksplor

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026
Karnaval sound horeg getarkan Jawa Timur tiap Agustusan. Dosa jariah di balik gengsi antardesa, dalih selawatan, hingga perputaran ekonomi di bawah MOJOK.CO
Sehari-hari

Jatim Bergetar Tiap Agustusan: Dosa Jariah Sound Horeg di Balik Gengsi Antardesa hingga Selawatan Sambil Berjoget Seksi

3 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Putus pertemanan di lingkungan kantor yang toxic. MOJOK.CO

Putus Pertemanan dengan Rekan Kerja Toxic adalah Jalan Terakhir Saya Hidup Bahagia dari Drama Usia 30-an

5 Agustus 2026
buku siswa sekolah.MOJOK.CO

Jangan Jadikan Pergantian Buku Pelajaran sebagai Proyek Politik Tahunan 

10 Agustus 2026
Ibu Kimpul Mengingatkan Kita bahwa Ketahanan Pangan Bukan Hanya Urusan Beras MOJOK.CO

Ibu Kimpul Mengingatkan Kita bahwa Ketahanan Pangan Bukan Hanya Urusan Beras

10 Agustus 2026
Derita lansia pakai cashless seperti QRIS. MOJOK.CO

Derita Lansia Tak Bisa Beli Roti Hanya karena QRIS yang Menghantui

4 Agustus 2026
Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026
Mahasiswa KKN di desa

Suasana KKN Tak Seindah Konten di TikTok: Banyak Drama Sesama Mahasiswa, hingga Tangis Palsu Saat Perpisahan dengan Warga Desa

5 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.