Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM

Harsa Permata oleh Harsa Permata
29 Juni 2026
A A
Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM MOJOK.CO

Ilustrasi Dikira "Komunis" tapi Fasih Baca Al-Qur'an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Buat mahasiswa baru di Jogja, nggak papa kok belajar komunis atau Karl Marx, yang penting amal dalam kehidupanmu sehari-hari.

Sebelum kaki saya benar-benar menginjakkan kaki di tanah Yogyakarta, yang debu dan pasirnya tebal di siang hari, ayah saya, Marsal Salvina—seorang dokter di RSUD Solok yang sebenarnya cukup terbuka pikirannya—sudah melepas saya dengan sebuah warning yang lebih ngeri daripada diagnosis penyakit kronis: “Hati-hati di Jogja, Nak. Di sana banyak pergaulan bebas dan komunis.”

Iklan

Saya sempat bergidik. Bayangan saya tentang Jogja seketika berubah mirip film propaganda zaman Orde Baru, yaitu film “Pengkhianatan G30/S-PKI”, dengan sosok Aidit yang menghisap rokok Gudang Garam Merah seperti kereta api. 

Padahal, Ayah adalah orang yang sebenarnya memperkenalkan saya pada sosok filosof Jerman brewokan bernama Karl Marx. Beliau suka membaca, tapi agaknya bagi seorang anak aktivis Masyumi, Marx hanya boleh mampir di kepala sebagai pengetahuan, bukan sebagai gaya hidup, apalagi jalan politik. 

Maklum, kakek saya adalah seorang ulama sekaligus propagandis Masyumi di Padang yang dalam sejarahnya memang punya trauma mendalam dengan kelompok berlogo palu arit.

Dulu Ayah pernah bercerita bahwa Kakek (Pak Gaek) itu sudah disuruh menggali lubang oleh “orang PKI”. Ceritanya, beliau akan dieksekusi dan akan dikuburkan di lubang yang sudah digali tersebut. Ternyata tidak jadi, karena komandan mereka memerintahkan untuk membatalkan hal tersebut. 

Setelah kuliah dan membaca sejarah, baru saya paham kalau peristiwa kakek hampir dieksekusi itu terjadi saat masa PRRI. Kakek memang tidak mendukung PRRI, tetapi mungkin karena Masyumi, beliau dianggap pro-PRRI. 

Dugaan saya, sepertinya yang menyuruh kakek gali lubang itu tentara pusat pimpinan Kolonel Ahmad Yani.

Mencari hantu komunis di Jogja, malah ketemu lagu Darah Juang

Setibanya di Bulaksumur, tepatnya saat ospek Fakultas Filsafat UGM pada pertengahan tahun 1999—setahun setelah demo besar-besaran anti-Soeharto di Yogyakarta—saya pasang mata lebar-lebar mencari hantu komunis yang dibilang Ayah. 

Eh, yang saya temukan malah kerumunan mahasiswa yang disuruh mengangkat tangan kiri tinggi-tinggi sambil menyanyikan lagu Darah Juang karya John Tobing. “Oalah, ini toh komunisnya?” pikir saya dalam hati.

Saat itu, memang euforia kiri dan demonstrasi mahasiswa masih terasa hangat. Pernah beberapa kali di awal saya kuliah, demonstran mengetuk ruang-ruang kelas dan mengajak mahasiswa untuk berdemo. 

Kalau tidak salah, saat itu isu RUU PKB (Rancangan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya) yang ditolak keras oleh para mahasiswa karena dianggap akan mengembalikan Indonesia ke zaman Orde Baru.

Dulu, saat masih kuliah di Lampung, saya memang sempat ikut-ikutan demo. Tapi aktivisme saya saat itu masih aktivisme “setengah kopling”. Kalau barisan massa sudah mulai memanas, saya biasanya memilih “belok kiri” bukan demi revolusi, melainkan belok ke gang arah kosan karena perut sudah lapar dan ingin rebahan setelah capek kuliah.

Jogja yang “merusak iman” lewat bacaan

Namun, Jogja punya cara sendiri untuk merusak “iman” kenyamanan saya. Narasi-narasi besar mulai masuk ke kepala. Novel-novel Pramoedya Ananta Toer yang dulu dilarang, buku Pemikiran Karl Marx karya Romo Magnis, hingga Madilog-nya Tan Malaka mulai mengisi rak buku saya. Kesadaran berdemo bukan lagi soal ikut-ikutan, tapi soal ide yang sudah menggelegak di kepala.

Iklan

Masalah muncul saat liburan semester saya membawa tumpukan buku “terlarang” itu pulang ke Solok. Ayah saya, dr. Marsal, meledak. 

Beliau hampir saja menggelar upacara pembakaran buku massal di halaman belakang rumah kami. Bagi beliau, buku-buku itu adalah virus yang bisa merusak akidah dan sejarah keluarga kami yang tegak lurus pada garis Masyumi.

Untungnya buku-buku itu diselamatkan nenek saya. Dibawanya buku-buku itu ke kamarnya. Kamar yang tidak berani ayah saya sentuh.

Tapi ada satu hal yang Ayah—dan mungkin banyak orang—salah kira tentang mahasiswa filsafat UGM yang hobi demo. Membaca Marx tidak lantas membuat saya lupa cara mengambil air wudhu. 

Saya masih percaya Tuhan itu ada, dan saya masih melaksanakan ibadah sebagaimana mestinya. Saya juga masih suka baca buku-bukunya Buya Hamka, seperti Falsafah Hidup, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan lain-lain.

Puncaknya adalah saat saya hampir lulus dan pulang ke kampung halaman. Saya didapuk menjadi imam salat untuk keluarga besar kami. 

Saat salam terakhir dan memutar wajah, saya melihat Ibu menangis terharu. Mungkin beliau sempat mengira anaknya sudah benar-benar “hilang” di hutan pemikiran kiri Jogja, namun nyatanya sang anak masih fasih memimpin doa di atas sajadah.

Komunis kok lancar baca Qur’an

Ironi ini sebenarnya mencapai puncaknya di ruang kelas Filsafat Islam. Suatu hari, Bu Dosen tampak terperangah saat saya membaca surat Al-Ma’un dengan makhraj dan tajwid yang fasih. 

Beliau tahu betul reputasi saya di kampus: tukang demo, sering orasi, di kelas juga sering mengajak debat mahasiswa lainnya dengan argumentasi kekiri-kirian, dan spesialis penempel pamflet anti-kapitalisme yang garis keras.

Beliau berujar santai, “Wah, ternyata komunis lancar baca Qur’an juga, ya?”

Saya cuma bisa mengelus dada. Ingin rasanya protes dan menjelaskan bahwa membela hak rakyat tidak otomatis membuat saya jadi pengikut Marx dan Lenin. Tapi ya sudahlah, demi menjaga kerukunan (dan demi nilai A yang akhirnya memang saya dapatkan), saya pilih diam. 

Lagipula, apalah arti sebuah label jika Al-Ma’un masih terpatri di kepala dan bakti pada orang tua masih terjaga?

Setelah lulus, saya pun jadi Guru Agama Islam di sebuah Sekolah Internasional di Jakarta. Sehari-harinya malah sering ketemu dengan para guru dan murid yang memiliki sikap pro-Palestina. 

Memang sih, dulu waktu kuliah, organisasi tempat saya bernaung sempat mengadakan demo menyuarakan kemerdekaan Palestina, saat Amerika Serikat menyerang Irak dan Israel menyerang Gaza serta Tepi Barat.

Poinnya, bagi siapa pun, sebaiknya jangan menghakimi seseorang dari apa yang terlihat. Belum tentu minat baca buku kiri akan menjadikan seseorang komunis atau ateis garis keras. 

Karena pikiran seseorang tidak ditentukan oleh apa bacaannya semata, melainkan bagaimana amalnya dalam kehidupan sehari-hari—ceile, pikiran ustaz saya tak sengaja keluar.

Untuk Ayah (Papa) yang sekarang sudah beda alam dengan saya, terima kasih ya Pa, sudah berdialog dan mengenalkan banyak buku serta perspektif ke saya. InsyaAllah semua yang Papa ajarkan sangat berguna bagi saya dalam menjalani kehidupan yang penuh liku ini.

Penulis: Harsa Permata
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung

 

Terakhir diperbarui pada 29 Juni 2026 oleh

Tags: filsafat ugmKarl MarxKomunispilihan redaksi
Harsa Permata

Harsa Permata

Harsa Permata, penikmat lagu-lagu lama yang gelisah melihat musisi zaman sekarang lebih sibuk mengurusi hati yang patah ketimbang perut yang lapar. Sehari-hari bisa ditemukan di antara tumpukan buku dan koleksi lagu lawas.

Artikel Terkait

Coach Jacksen F. Tiago: Pendekatan Psikologis di Sepak Bola Remaja Putri Harus Didahulukan Ketimbang Fisik dan Taktik.MOJOK.CO
Eksplor

Coach Jacksen F. Tiago: Pendekatan Psikologis Pemain Muda Putri Harus Didahulukan Ketimbang Fisik dan Taktik

28 Juni 2026
Piala Dunia, Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib.MOJOK.CO
Fragmen

Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib Pildun

25 Juni 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO
Catatan

Punya WiFi di Rumah Desa Bikin Bocil Tetangga Jadi Kurang Ajar dan Hilang Adab, Saya yang Bayar Tagihan Cuma Dapat Emosinya

25 Juni 2026
Gen Z, membaca, buku.MOJOK.CO
Urban

Gen Z di Indonesia, Generasi Paling Aktif Membaca tetapi Paling Tak “Terliterasi”

24 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gen Z, membaca, buku.MOJOK.CO

Gen Z di Indonesia, Generasi Paling Aktif Membaca tetapi Paling Tak “Terliterasi”

24 Juni 2026
Gojek Hadirkan Kurasi Jalan Jajan di Aplikasi dan Latih 500 Mitra Driver Lewat Program Sadar Wisata Bersama Pemkot Jogja MOJOK.CO

Gojek Hadirkan Kurasi Jalan Jajan di Aplikasi dan Latih 500 Mitra Driver Lewat Program Sadar Wisata Bersama Pemkot Jogja

24 Juni 2026
dosen.MOJOK.CO

Butuh Biaya Puluhan Juta Demi Ijazah S2-S3, tapi Negara Malah “Melegalkan” Dosen Digaji di Bawah UMR

23 Juni 2026
Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal MOJOK.CO

Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal

24 Juni 2026
Gen Z Habiskan Gaji untuk Konser K-Pop. MOJOK.CO

Gen Z Habiskan Gaji demi Konser K-Pop: “Balas Dendam” Terbaik untuk Penuhi Inner Child

25 Juni 2026
Angkringan di Stasiun Lempuyangan Jogja jadi tempat meleram kegelisahan MOJOK.CO

Angkringan Lempuyangan Jogja Berisi Rindu, Kegagalan, dan Beban Finansial Para Pejuang Perantauan

22 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.