Ibu menangis usai saya jadi imam salat
Saya masih percaya Tuhan itu ada, dan saya masih melaksanakan ibadah sebagaimana mestinya. Saya juga masih suka baca buku-bukunya Buya Hamka, seperti Falsafah Hidup, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan lain-lain.
Puncaknya adalah saat saya hampir lulus dan pulang ke kampung halaman. Saya didapuk menjadi imam salat untuk keluarga besar kami.
Saat salam terakhir dan memutar wajah, saya melihat Ibu menangis terharu. Mungkin beliau sempat mengira anaknya sudah benar-benar “hilang” di hutan pemikiran kiri Jogja, namun nyatanya sang anak masih fasih memimpin doa di atas sajadah.
Komunis kok lancar baca Qur’an
Ironi ini sebenarnya mencapai puncaknya di ruang kelas Filsafat Islam. Suatu hari, Bu Dosen tampak terperangah saat saya membaca surat Al-Ma’un dengan makhraj dan tajwid yang fasih.
Beliau tahu betul reputasi saya di kampus: tukang demo, sering orasi, di kelas juga sering mengajak debat mahasiswa lainnya dengan argumentasi kekiri-kirian, dan spesialis penempel pamflet anti-kapitalisme yang garis keras.
Beliau berujar santai, “Wah, ternyata komunis lancar baca Qur’an juga, ya?”
Saya cuma bisa mengelus dada. Ingin rasanya protes dan menjelaskan bahwa membela hak rakyat tidak otomatis membuat saya jadi pengikut Marx dan Lenin. Tapi ya sudahlah, demi menjaga kerukunan (dan demi nilai A yang akhirnya memang saya dapatkan), saya pilih diam.
Lagipula, apalah arti sebuah label jika Al-Ma’un masih terpatri di kepala dan bakti pada orang tua masih terjaga?
Setelah lulus, saya pun jadi Guru Agama Islam di sebuah Sekolah Internasional di Jakarta. Sehari-harinya malah sering ketemu dengan para guru dan murid yang memiliki sikap pro-Palestina.
Memang sih, dulu waktu kuliah, organisasi tempat saya bernaung sempat mengadakan demo menyuarakan kemerdekaan Palestina, saat Amerika Serikat menyerang Irak dan Israel menyerang Gaza serta Tepi Barat.
Poinnya, bagi siapa pun, sebaiknya jangan menghakimi seseorang dari apa yang terlihat. Belum tentu minat baca buku kiri akan menjadikan seseorang komunis atau ateis garis keras.
Karena pikiran seseorang tidak ditentukan oleh apa bacaannya semata, melainkan bagaimana amalnya dalam kehidupan sehari-hari—ceile, pikiran ustaz saya tak sengaja keluar.
Untuk Ayah (Papa) yang sekarang sudah beda alam dengan saya, terima kasih ya Pa, sudah berdialog dan mengenalkan banyak buku serta perspektif ke saya. InsyaAllah semua yang Papa ajarkan sangat berguna bagi saya dalam menjalani kehidupan yang penuh liku ini.
Penulis: Harsa Permata
Editor: Agung Purwandono














