Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Gagal Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat Dihina Bodoh, Malah Dapat Kerjaan “di Atas” ASN Langsung Bungkam Penghina

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
9 April 2026
A A
Gagal seleksi PPPK dan CPNS meski daftar di formasi PNS atau ASN sepi peminat. Malah dapat kerja yang benefitnya bisa bungkam saudara yang sebelumnya menghina MOJOK.CO

Ilustrasi - Gagal seleksi PPPK dan CPNS meski daftar di formasi PNS atau ASN sepi peminat. Malah dapat kerja yang benefitnya bisa bungkam saudara yang sebelumnya menghina. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Orang tua Nihaya (27) memang bukan dari kalangan PNS atau ASN. Hanya pemilik toko perlengkapan sekolah. Akan tetapi, banyak anak-anak saudara yang terbukti berhasil ketika mengikuti seleksi CPNS. Saudara seusia Nihaya pun ada yang sekali coba langsung tembus. 

Lingkungan semacam itu memberi tekanan tersendiri bagi Nihaya. Terutama ketika momen kumpul atau bertemu saudara. Sebab, pertanyaan “Kenapa Nihaya tidak mendaftar CPNS?” akan terus dilayangkan. 

Karena dalam bayangan saudara-saudara Nihaya, PNS atau ASN adalah profesi top tier. Selain perkara seragam dan iming-iming gaji besar,  juga karena jaminan hari tua yang dijanjikan. 

“Kalau orang tua sih nggak maksa. Tapi kalau mulut saudara gitu terus, kan orang tuaku juga kena. Seolah-olah aku ini anak gagal karena setelah dikuliahkan malah cuma gini-ginia aja,” ujar perempuan asal Jawa Barat itu, Rabu (8/4/2026). 

Lulus kuliah nganggur lama, dikira tidak bisa apa-apa

Apalagi sejak lulus kuliah pada 2021, Nihaya sempat merasakan menganggur lama. Saat itu masa transisi dari pandemi Covid-19. Lamaran kerja yang Nihaya kirim ke banyak perusahaan belum ada yang tembus. 

Untuk mengisi waktu, Nihaya pun menyibukkan diri dengan mengajar les untuk anak-anak SMP dan SMA. Di sela-sela itu ia kerap ikut bantu-bantu di toko orang tuanya. 

Situasinya tersebut berlangsung hingga 2022. Tak pelak jika omongan saudara semakin nyelekit saja. Seolah-olah Nihaya tidak bisa apa-apa sehingga mentok hanya bisa ngajar les dan bantu-bantu di toko. 

“Karena tolok ukur orang bisa apa-apa menurut mereka itu kalau bisa menghasilkan uang sendiri dan besar,” kata Nihaya. 

PPPK saja tidak tembus, langsung mempertanyakan kualitas diri

Niat hati mengikuti seleksi CPNS pada tahun berikutnya, eh pemerintah justru tengah memprioritaskan perekrutan untuk PPPK. Alhasil, pada 2022, Nihaya mencoba mengikuti seleksi PPPK. 

Tentu saja persaingannya ketat. Karena banyak orang berpikir akan susah menembus formasi PNS atau ASN. Dengan begitu, PPPK menjadi pilihan, tidak perlu berambisi nunggu seleksi bukaan formasi CPNS tahun berikutnya. 

“Di seleksi PPPK memang aku ngincer formasi yang jadi incaran utama banyak orang. Karena pikirku kan rasanya aku bisa bersaing. Tapi cuma lolos administrasi,” ujar Nihaya. 

Di titik itu, Nihaya sempat overthinking dengan dirinya sendiri. “Maksudku SKD saja aku nggak tembus loh di PPPK,” keluhnya. 

Dari situ Nihaya lantas memutuskan untuk tidak terlalu berharap pada seleksi PPPK atau CPNS berikutnya. Di tahun tersebut, Nihaya mengambil tawaran pekerjaan di sebuah biro umrah.  

Gagal seleksi CPNS padahal di formasi sepi peminat, dihina bodoh

Gaji yang Nihaya terima dari menjadi biro umrah sebenarnya tidak kalah dari gaji PNS atau ASN. Hanya saja, karena masih tersisa sedikit ambisi untuk “membungkam” saudara-saudara yang meremehkannya, ia pun tetap mencoba seleksi CPNS tahun berikutnya. 

Iklan

Bedanya, di tahun 2023 itu, ia mencoba daftar pada formasi yang sepi peminat. Hasilnya, ia memang berhasil melaju hingga SKD. Tapi ia gugur di SKB. 

“Tahu apa respons saudara? Nyindirnya, PPPK saja gagal, seleksi CPNS daftar di formasi sepi peminat juga gagal. Itu karena saking bodohnya apa ya. Begitu-begitu lah,” ujar Nihaya. 

Tidak pelak jika ia sempat nangis sesenggukan. Berhari-hari tidak bergairah untuk beraktivitas. 

Tapi setelah ngobrol dengan sang bapak, ia sadar, kecenderungan manusia itu akan selalu begitu: merasa kurang. Karena, meski gagal PPPK dan seleksi CPNS, tapi Nihaya bisa kerja di biro umrah dengan gaji yang sepadan dengan PNS atau ASN. Harusnya Nihaya merasa cukup. 

“Kalau kata bapak, omongan jelek orang lain itu bisa jadi karena dua hal. Satu, dia nggak tahu saja soal benefit yang kudapat. Atau dua, mereka tahu, alhasil iri. Karena iri itu akhirnya tetap meremehkan,” kata Nihaya. 

Akhirnya bisa bungkam mulut orang yang meremehkan

Singkat cerita, sejak bekerja pada 2023, Nihaya justru semakin dipercaya oleh CEO biro umrah tempatnya bekerja. Pekerjaannya dianggap bagus. 

Seiring waktu, Nihaya tidak hanya mendapat gaji pokok, tapi juga mendapat komisi. Kalau ditotal dengan komisi, ya bisa di atas gaji PNS atau ASN. Di titik itu, Nihaya sadar kalau ternyata kegagalannya di PPPK atau seleksi CPNS bahkan saat daftar di formasi sepi peminat telah diganti Allah Swt dalam pekerjaan lain yang tidak kalah layak. 

“Itu membuatku lebih percaya diri kalau ketemu keluarga terus disinggung kerjaanku kayak gimana dan gajinya berapa. Ada yang kicep, tapi ada juga yang kayak, “Heleh”, karena kan nggak ada tunjangan hari tua seperti PNS atau ASN. Lucu memang,” kata Nihaya. 

Orang-orang yang pernah meremehkan Nihaya semakin kicep ketika pada 2025 lalu Nihaya dan sejumlah karyawan berprestasi mendapat kesempatan umrah gratis dari CEO biro langsung. 

“Akhirnya banyak juga pengalaman yang kudapat dengan kerja di biro umrah. Skill marketing, hubungan dengan kolega, sampai pengalaman ke Makkah-Madinah lebih dulu ketimbang saudara yang PNS atau ASN,” ujar Nihaya. 

Bahkan kini Nihaya tengah mempersiapkan untuk mengumrahkan orang tuanya. Karena memang, khusus karyawan, apalagi berprestasi, bisa mendapat harga murah jika mengambil paket umrah di sana. Pencapaian itu membuat saudara-saudara yang pernah meremehkan akhirnya tidak lagi sering-sering menyindir.  Karena memang sekalipun anak mereka berstatus PNS atau ASN, tapi belum ada tahap seperti itu. 

Sementara Nihaya berniat menyerap ilmu, modal, dan pengalaman sebanyak-banyaknya dari tempatnya bekerja. Siapa tahu berguna untuk kelak saat ia sudah tidak lagi menjadi karyawan dan merintis biro sendiri. Amin.

Cerita ini Nihaya bagikan bukan untuk keperluan menyombongkan diri atau pencapaian. Tapi sebagai pengingat setidaknya pada dua hal: jangan suka meremehkan jalan hidup orang lain sekaligus jangan pernah berkecil hati pada kegagalan.

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena Diporoti dan Dikira Bisa Jadi Ordal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan



Terakhir diperbarui pada 9 April 2026 oleh

Tags: ASNCpnsformasi cpnsformasi cpns sepi peminatformasi pppkgaji ASNgaji PNSPPPKpsnseleksi CPNSseleksi pppk
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO
Urban

Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi

8 April 2026
Ikuti paksaan orang tua kuliah jurusan paling dicari (Teknik Sipil) di sebuah PTN Semarang biar jadi PNS. Lulus malah jadi sopir hingga bikin ibu kecewa MOJOK.CO
Edumojok

Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

7 April 2026
Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran” MOJOK.CO
Urban

Tiga Kali Gagal Seleksi CPNS, Pas Sudah Diterima Jadi ASN Malah Tersiksa karena Makan “Gaji Buta”

7 April 2026
Kerja WFH untuk ASN bukan solusi. MOJOK.CO
Aktual

WFH 1 Hari dalam Seminggu Cuma Bikin Pekerja Boncos dan Nggak Produktif, Lalu Di Mana Efisiensi Pemakaian Energinya?

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita Pedagang Es Teh Jumbo: Miskin, Disiksa Israel dan Amerika MOJOK.CO

Hari-hari Penuh Perjuangan Pedagang Es Teh Jumbo Menuju Kebangkrutan: Sudah Melarat karena Tipisnya Keuntungan Kini Terancam Mati karena Kenaikan Harga Plastik

9 April 2026
Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah.MOJOK.CO

Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah

5 April 2026
Buka bisnis di desa sengsara, tidak bikin slow living MOJOK.CO

Buka Bisnis di Desa Menggiurkan, Tapi Bukannya Slow Living Malah Dibayangi Sengsara karena Kebiasaan Warga

9 April 2026
Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut MOJOK.CO

Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater

3 April 2026
Anak PNS kuliah di PTN top seperti UGM masih menderita karena UKT nggak masuk akal

Derita Jadi Anak PNS: Baru Bahagia Diterima PTN Top, Malah “Disiksa” Beban UKT Tertinggi Selama Kuliah padahal Total Penghasilan Orang Tua Tak Seberapa

4 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.