Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Nelangsa Orang Tua di Desa: Diabaikan Anak di Masa Renta tapi Warisan Diperebutkan, Ortu Sehat Didoakan Cepat Meninggal

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
3 Februari 2026
A A
Sesi mengerikan kehidupan di desa: orang tua nelangsa karena masih hidup tapi anak-anak (ahli waris) sudah berebut pembagian warisan MOJOK.CO

Ilustrasi - Sesi mengerikan kehidupan di desa: orang tua nelangsa karena masih hidup tapi anak-anak (ahli waris) sudah berebut pembagian warisan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sisi mengerikan kehidupan di desa: ketika anak-anak sudah berebut pembagian warisan padahal orang tua belum meninggal. Anak memang ahli waris. Tapi situasi semacam itu membuat beberapa orang tua akhirnya menjalani sisa hidup dengan hati nelangsa. 

Sebab, niat hati ingin membagi warisan sebagai peninggalan bermanfaat bagi anak-anak, tapi yang terjadi adalah keributan dan kesan berharap agar orang tua lebih cepat terbaring di liang. 

Warisan: cara orang tua di desa jaga anak-anaknya

Semasa muda, orang tua di desa—misalnya di desa saya sendiri di Rembang, Jawa Tengah—memang suka berinvestasi sebesar-besarnya. Umumnya dalam bentuk tanah (sawah, ladang, kebun, atau sekadar rumah). 

Dari hasil mengobrol dengan sejumlah orang tua di desa saya, motif utama mereka hanya dua. Satu, investasi tanah itu mereka gunakan sebagai jaga-jaga. Kalau suatu saat mereka sedang mengalami kesulitan ekonomi, maka ada tanah yang bisa diuangkan (dijual). 

Dua, mereka sengaja membeli luas/banyak karena ingin menjaga anak-anak mereka selepas orang tua meninggal dunia. Siapa tahu, warisan berupa tanah itu bisa sangat berguna. Entah untuk tambahan hidup sehari-hari, membuka usaha, membiayai cucu sekolah, dan lain-lain. 

Tidak terbayang di benak orang tua kalau warisan justru menjadi biang perselisihan antarsaudara kandung. Toh pembagiannya pun sudah diatur sedemikan rupa–dengan adil—melalui hukum fikih faraid kalau dalam syariat Islam. 

Namun, kehidupan di desa nyatanya memberi gambaran berbanding terbalik. Warisan jadi rebutan dan biang permusuhan. 

Ironi melihat kakek yang seperti ditunggu-tunggu kematiannya

Sejak sang kakek mulai membagi jatah warisan petak-petak tanah untuk anak-anaknya, kediaman kakek Nanto (28) di sebuah desa di Wonogiri, Jawa Tengah, nyaris selalu menjadi jujukan anak-anaknya. 

Mereka datang bukan untuk merawat kakek di masa rentanya. Tapi selalu menuntut perubahan pembagian warisan. Merasa apa yang sudah dibagi sangat kurang. Saling klaim siapa yang lebih berhak mendapat lebih banyak. 

“Itu membuatku males kalau pulang. Topiknya itu terus,” ucap Nanto berbagi cerita.  

Nanto juga merasa miris tiap melihat sang kakek. Usianya memang sudah renta. Tapi justru karena itu Nanto melihat banyak saudaranya malah berharap agar kakek Nanto lekas mati, sehingga tanah yang sudah disiapkan itu bisa lekas dibagi-bagi. 

Alasan mereka: Halah, udah tua, tinggal nunggu matinya. Jadi ya pantas-pantas saja kalau mau ngomongin pembagian warisan di hadapan sang kakek. 

Ada yang tiba-tiba ngaku saudara

Yang membuat Nanto bertambah kesal, saudara jauh pun tiba-tiba mendekat saat mendengar kabar tentang pembagian warisan dari sang kakek. Bahkan termasuk jatah untuk ibu Nanto pun turut diperebutkan oleh saudara-saudara yang lain. 

Nanto sebenarnya tidak masalah kalau ia dan orang tuanya tidak kebagian jatah. Ia hanya ngeri saja dengan gambaran kehidupan desa seperti itu: ketika saudara jauh (atau bahkan hanya mengaku-ngaku saudara), yang sebelumnya mungkin sama sekali tidak peduli dengan kakek Nanto, tiba-tiba ikut menuntut hak waris. 

Iklan

Nanto memang tidak paham betul soal ilmu faraid. Namun, dari yang ia baca-baca, urutan pembagian warisan kepada ahli waris itu kan dimulai dari keluarga terdekat terlebih dulu. 

Ahli waris utama

Jika kakek meninggalkan istri atau keturunan, berikut pembagiannya:

 

Ahli Waris Kondisi Porsi
Istri (Nenek) Jika kakek punya anak/cucu 1/8
Jika kakek tidak punya anak/cucu 1/4
Anak Laki-laki Selalu mendapatkan sisa harta Ashabah (sisa dari bagian yang telah dibagikan)
Anak Perempuan Sendirian (tidak ada anak laki-laki) 1/2
Dua orang atau lebih (tidak ada anak laki-laki) 2/3 (bagi rata)
Bersama anak laki-laki 2:1 (Laki-laki:Perempuan)

 

Jika cucu dari jalur anak laki-laki (cucu laki-laki/perempuan) akan naik menjadi ahli waris menggantikan posisi bapak mereka yang sudah meninggal. 

Keterangan di atas hanya sebagai simulasi pembagian warisan. Yang ingin Nanto sampaikan, dalam konteks kakeknya, di luar ahli waris utama tiba-tiba saja ikut berebut warisan sang kakek. Itu ironis dan nggatheli sekali bagi Nanto. Alhasil, hubungan antarkeluarga pun merenggang.  

Saat anak lebih mikir mana jatah warisan mereka ketimbang merawat orang tua di masa renta

Cerita lain saya dapat dari sudut pandang orang tua langsung: Sudrajat (60-an), di sebuah desa di Rembang, Jawa Tengah. 

Awalnya ia menasihati saya agar pada masa kelak, saya pulang ke kampung halaman. Melanjutkan kehidupan di desa, agar tidak habis hidup saya di perantauan. 

Namun, tiba-tiba ia bilang, kehidupan di desa memang guyub. Namun, keguyuban itu bisa rusak seketika jika sudah menyangkut persoalan warisan. 

Sudrajat memberi contoh dirinya sendiri. Ia bahkan belum menentukan pembagian warisan untuk dua anaknya. Tapi, dua anaknya yang masing-masing sudah berkeluarga ternyata sudah berseteru lama persoalan harta tersebut. 

“Beberapa kali mereka datang ke rumah. Saya pikir memang mau dolan (jenguk). Tapi ternyata mereka sudah saling kavling, tanah A bagian siapa, tanah B bagian siapa. Lalu saling berebut, saling ngotot dengan alasan (argumen) masing-masing” ucap Sudrajat getir. 

Setelah kedua anaknya pulang, Sudrajat hanya bisa termenung. Batinnya terasa teriris. Istri Sudrajat bahkan sampai menangis terisak. 

“Bapaknya masih sehat, kok mereka malah bertengkar karena warisan, itu kan sama saja mendoakan agar bapaknya cepet mati,” begitu ucap istri yang ditirukan Sudrajat. “Sedih karena mereka mikirnya warisan untuk mereka sendiri, tapi mereka tidak kepikiran, kalau orang tua sakit dan tidak berdaya karena sudah menua nanti siapa yang bakal merawat?”

Saling menolak menanggung orang tua

Sudrajat mengakui, di desanya amat banyak kasus semacam itu. Banyak sekali gambaran: orang tua bisa hidupi dan merawat 11 anak sekaligus, tapi 11 anak bahkan tidak mampu sekadar merawat orang tua mereka. 

“Yang ada saling menolak. Orang tua sudah sepuh, mau ikut salah satu anaknya, tapi anaknya malah lempar-lemparan karena tidak mau direpoti,” ucap Sudrajat. 

“Begitu juga nanti kalau orang tua sudah meninggal. Urusan memulasara jenazah, membuat acara tahlilan, sampai membayar utang orang tua, antaranak mesti lempar-lemparan tanggung jawab. Satu tidak mau, satunya wegah,” sambungnya. 

Anak-anak—sejauh yang Sudrajat lihat dalam bingkai kehidupan di desa asalnya—hanya akan bersemangat berebut warisan. Rebutan yang sering kali berujung perselisihan, saling fitnah, saling tuntut, hingga puncaknya saling memutus ikatan darah satu sama lain: bukan lagi menjadi saudara kandung, tapi musuh bebuyutan sampai mati. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 3 Februari 2026 oleh

Tags: ahli warisahli waris utamailmu faraidilmu wariskehidupan di desapembagian warisanrebutan warisan
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO
Catatan

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Ilustrasi tinggal di desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Bersih Desa, Tradisi Sakral yang Kini Cuma Jadi Ajang Gengsi: Bikin Perantau dan Pemudanya Sengsara, Buang-Buang Waktu dan Uang

20 April 2026
kos eksklusif, jakarta, desa, kos.MOJOK.CO
Urban

Kabur dari Desa dan Memilih Tinggal di Kos Eksklusif Jakarta demi Ketenangan Batin, Malah Makin Kena Mental karena “Bahagia” di Kota Cuma Ilusi

15 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak (Unsplash)

3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya

22 April 2026
Sesal pernah kasar ke bapak karena miskin. Kini sadar setelah ditampar perantauan karena ternyata cari duit sendiri tidak gampang MOJOK.CO

Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!

21 April 2026
mabar game online.MOJOK.CO

Nongkrong Makin Membosankan dan Toksik Semenjak Teman Cuma Sibuk Main Game, Saya Dibilang Spaneng dan “Nggak Asyik” karena Tak Ikut Mabar

23 April 2026
Stigma yang Membuat Saya Menderita: Menikah dengan Bule adalah Jalur Cepat Jadi Seleb Medsos MOJOK.CO

Stigma yang Membuat Saya Menderita: Menikah dengan Bule adalah Jalur Cepat Jadi Seleb Medsos

24 April 2026
Jurusan kuliah di perguruan tinggi yang kerap disepelekan tapi jangan dihapus karena relevan. Ada ilmu komunikasi, sejarah, dakwah, dan manajemen MOJOK.CO

4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun

27 April 2026
Derita guru CLC di Malaysia. MOJOK.CO

WNI Jadi Guru di Luar Negeri Dapat Gaji 2 Digit, Pulang ke Indonesia Malah Sulit Kerja

23 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.