Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Buka Bisnis di Desa Menggiurkan, Tapi Bukannya Slow Living Malah Dibayangi Sengsara karena Kebiasaan Warga

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
9 April 2026
A A
slow living, desa, warga desa.MOJOK.CO

Ilustrasi - Slow living di desa (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Harga naik jadi persoalan serius, dicap culas

Jangankan persoalan utang-piutang, masalah harga naik saja, kata ibu Vikri, bisa menjadi persoalan serius.

“Warga itu carinya toko yang harganya murah. Nah, masalahnya juga, kata ibuku, nggak sedikit warga di desaku yang nggak update soal situasi pasar. Jadi kalau harga naik, mereka keberatan,” jelas Vikri, menjelaskan ulang paparan sang ibu.

“Kemarin saja harganya nggak semahal ini, kok tiba-tiba naik aja.” Kalimat semacam itu siap-siap saja terlontar kepada si pemilik toko/warung.

Sialnya, tidak akan berhenti di situ. Lagi-lagi narasi miring pun bakal digiring ke warga desa lain. Mencoba menggiring opini kalau si pemilik toko adalah orang culas dan nyari untungnya tidak kira-kira.

“Respons yang umum buat ini: ‘Harga naik terus biar naik haji itu!’. ‘Harga dinaikin terus biar kaya sendiri. Memang kedonyan (terlalu duniawi!’,” ucap Vikri.

Nyoba bisnis baru di desa, tidak bertahan lama karena terbentur “musiman” 

Vikri mencoba berpikir keras, kira-kira bisnis apa yang benar-benar baru yang bisa memikat di desa. Namun, melihat kasus beberapa temannya yang pernah mencoba, opsi ini pun tidak bagus-bagus amat. 

Misalnya, ada teman Vikri yang mencoba membuka bisnis kuliner atau jajanan ala kota yang belum ada di desa. Bayangan si teman, karena banyak anak muda di desa yang sudah mengakses TikTok, harapannya bisnis kuliner baru tersebut bisa sustain. 

“Awalnya emang menjanjikan, Cok. Itu salah satu yang membuatku tergiur buat meninggalkan kota. Karena laris banget. Bayangan slow living benar-benar udah di depan mata lah,” beber Vikri. 

Akan tetapi, laris manis itu hanya bertahan di satu bulan pertama. Selebihnya kering pemasukan. “Ya karena awal-awal ramai itu karena penasaran, setelahnya mengalami kebosanan,” sambung Vikri. 

Ini mirip dengan situasi brand-brand viral yang mencoba masuk ke kabupaten kecil—seperti Mixue, Mie Gacoan, dan sejenisnya. Awal-awal masuk, langsung diserbu pelanggan. Tapi tak lama kemudian langsung sepi sama sekali. Pertama, karena rasa penasaran sudah terjawab. Kedua, daya beli jelas terbatas. Apalagi bagi orang kabupaten–dan desa—dengan uang sekadarnya. Tidak mungkin sering-sering mengalokasikan uang untuk jajanan sebagaimana orang-orang di kota. 

Saat mencoba bisnis baru lagi, polanya pun berulang. Alhasil, ujung-ujungnya si teman memutuskan untuk kembali mencari peruntungan di kota. 

Itu kemudian membuat Vikri berpikir ulang: kayaknya butuh skill lebih kalau mau merintis bisnis di desa. Sehingga, untuk saat ini, keinginannya untuk resign demi slow living masih tertunda karena ketakutan bakal gagal dan sengsara ujungnya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

Iklan

BACA JUGA: Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan


Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 9 April 2026 oleh

Tags: bisnis di desaide bisnis di desaslow livingslow living di desa
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Omong kosong berkebun untuk slow living di desa. Punya kebun di desa justru menderita karena tanaman dirampok warga MOJOK.CO
Catatan

Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki

23 April 2026
Gen Z pilih soft living daripada slow living
Catatan

Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti

22 April 2026
Purwokerto .MOJOK.CO
Urban

Purwokerto Tempat Pensiun Terbaik, tapi Bukan untuk Semua Orang: Kamu Butuh 4 Skill Ini Buat “Survive”

18 April 2026
Punya hard skill yang laku buat kerja di kota tapi tidak berguna buat slow living di desa MOJOK.CO
Catatan

Punya Skill yang Laku buat Kerja di Kota tapi Ternyata Tak Berguna di Desa, Gagal Slow Living Malah Kebingungan Nol Pemasukan

13 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jurusan kuliah di perguruan tinggi yang kerap disepelekan tapi jangan dihapus karena relevan. Ada ilmu komunikasi, sejarah, dakwah, dan manajemen MOJOK.CO

4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun

27 April 2026
Tongkrongan gen Z di coffee shop

Tongkrongan Gen Z Meresahkan, Mengganggu Kenyamanan dari Yang Bisik-bisik sampai Berisik

23 April 2026
Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026
Cerminan pemberdayaan dan kontribusi nyata perempuan di Kota Semarang MOJOK.CO

Kuatnya Peran Perempuan di Kota Semarang, Sampai Diapresiasi California State University

22 April 2026
Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing Mojok.co

Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing

24 April 2026
Sulitnya menjadi orang dengan attachment style avoidant. MOJOK.CO

Sulitnya Menjadi “Avoidant” Menjelang Usia 25, Takut Terlalu Dekat dengan Orang Lain hingga Pesimis Menikah

24 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.