Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

iPhone XR, Bikin Menderita Orang Kota tapi Jadi Standard “Keren” Pemuda di Desa: Rela Gadaikan Barang demi Penuhi Gengsi

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
17 April 2026
A A
Sewa iPhone biar dianggap keren daripada pengguna Android

Ilustrasi - Pengguna iPhone (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saya menyadari, meskipun di kota sudah mulai ketinggalan zaman, iPhone XR malah jadi primadona di desa. Ia jadi standard keren para pemudanya. Sungguh, tidak habis pikir.

*** 

Momen mudik Lebaran lalu menyisakan sebuah cerita yang cukup membuat saya geleng-geleng kepala. Waktu itu, saya pulang kampung hanya sekitar dua hari. 

Selama di desa, saya tidak pergi liburan ke tempat wisata. Saya hanya bertemu dan nongkrong dengan orang-orang terdekat saja. 

Namun, saat kembali ke Jogja, saya terkejut melihat galeri HP saya. Saya harus menghapus nyaris 200 foto orang lain dari sana.

Ya, selama di desa, HP saya “laris manis” dipinjam untuk berfoto. Padahal, menurut saya, alat komunikasi yang saya pakai bukanlah barang mewah. 

Saya menggunakan iPhone 11 yang saya beli sekitar satu setengah tahun lalu seharga lima sampai enam jutaan. Di kota, HP keluaran lama ini sudah bukan hal istimewa. Harganya sekarang bahkan sudah anjlok di bawah tiga juta rupiah. 

Namun, di kampung halaman, saya mendadak “diagungkan” laiknya pekerja sukses cuma gara-gara memakai iPhone 11.

iPhone XR jadi standard keren pemuda desa

Dari kejadian absurd itu, saya menjumpai sebuah fenomena yang sangat menarik. Ternyata, di kalangan pemuda desa, iPhone (bahkan seri lama sekalipun, iPhone XR) telah menjadi standard mutlak untuk disebut anak keren.

Fenomena ini sangat terasa saat saya melihat suasana tongkrongan pemuda kampung. Entah itu saat acara kumpul halal bihalal, kegiatan karang taruna, atau sekadar ngopi santai bersama teman sebaya. 

Di kota, membawa iPhone 11–apalagi iPhone XR–mungkin biasa saja atau bahkan dianggap sudah tertinggal zaman. Tapi begitu ditaruh di atas meja tongkrongan desa, ia jadi terlihat istimewa.

Saya berani bertaruh, kamu coba saja membawa HP Android keluaran terbaru seharga lima jutaan, lengkap dengan “spek dewa”: RAM 12GB, memori super lega, dan kamera dengan resolusi tinggi. Di desa, pamornya akan selalu kalah telak melawan teman lain yang menaruh iPhone XR.

Alasannya memang terdengar sepele, meski sulit dicerna akal sehat: Android tidak memiliki logo apel tergigit.Di mata pemuda desa, logo tersebut adalah simbol kasta pergaulan yang paling tinggi.

Saya mendengar sendiri testimoni ini.

Iklan

Kamera bening adalah kunci!

Saat sedang kumpul-kumpul bareng pemuda desa lainnya, saya coba bertanya, apa yang sebenarnya mereka kejar dari iPhone XR ini? 

Jawabannya lebih kepada “mitos” kamera anti-burik. Di desa, ada anggapan yang sangat kuat di desa bahwa kamera HP Android, sebagus dan semahal apa pun itu, akan selalu terlihat pecah dan buram saat diunggah ke WhatsApp Story atau Instagram Story, apalagi di konten TikTok. 

Alhasil, demi mendapatkan pengakuan sebagai anak gaul yang mengerti tren terkini, mereka merasa wajib menggunakan kamera iPhone agar hasil fotonya terlihat jernih di media sosial.

Belakangan ini, seri iPhone XR memang sedang menjadi primadona di kalangan anak muda desa. Harganya yang terus anjlok membuatnya terasa makin terjangkau. Terakhir kali saya melihat sebuah grup jual beli barang bekas di Facebook, ada yang menawarkan iPhone XR second dengan harga 900 ribu rupiah saja.

Di sinilah puncak ironinya terjadi. Demi bisa membeli iPhone bekas dengan harga di bawah satu juta itu, tidak sedikit pemuda desa yang rela melakukan hal nekat. 

Ada yang mengaku sampai menggadaikan HP Android lamanya, yang sebenarnya kondisinya masih sangat lancar, baterainya awet, dan memorinya lega, hanya demi mendapatkan tambahan uang. Gengsi benar-benar mengalahkan fungsi. 

Padahal, iPhone XR apalagi yang second banyak dikeluhkan

Melihat ada pemuda desa yang rela gadai barang demi menebus iPhone XR bekas, saya sungguh tidak habis pikir. Mengapa? Karena saya memiliki beberapa teman di Jogja yang kebetulan merupakan user iPhone XR. 

Dari mulut teman-teman saya ini, saya jauh lebih sering mendengar keluhan yang membuat stres daripada pujian. Misalnya, bagaimana menderitanya mereka memakai HP yang usianya sudah tua. 

Pertama, mereka selalu mengeluhkan soal Battery Health (BH) atau tingkat kesehatan baterai yang sudah merah. Saat sedang asyik nongkrong, matanya selalu sibuk mencari letak colokan listrik. Baterai HP-nya hanya mampu bertahan sekitar satu jam saja. 

Alhasil, mereka harus membawa powerbank ke mana-mana, yang justru menyusahkan dirinya sendiri.

Kedua, teman saya terkena “kutukan” barang bekas. Karena membeli unit bekas dengan harga murah, nomor IMEI HP tersebut sangat rawan diblokir oleh pemerintah.  Hasilnya, HP yang katanya keren itu seringkali kehilangan sinyal secara tiba-tiba atau muncul tulisan “No Service” di bagian atas layarnya. 

Kalau sudah begitu, ia akan kebingungan mencari koneksi Wi-Fi di kafe, atau terpaksa meminta sambungan tethering dari HP Android milik temannya.

Kapasitas memori juga nggak lega-lega amat

Ketiga, soal kapasitas penyimpanan yang sangat terbatas. Dengan memori yang biasanya hanya berkapasitas 64GB, baru diisi beberapa aplikasi belanja dan media sosial saja, HP-nya langsung kepenuhan. 

Setiap kali ia ingin merekam video atau mengambil foto yang bagus, layar HP-nya selalu memunculkan peringatan memori penuh. Alih-alih bisa pamer, ia justru sering merasa malu dan repot sendiri.

Cerita teman saya ini menjadi bukti nyata yang sangat kontras. Di kota, HP keluaran lama itu justru membuat pemakainya stres, repot, dan menderita karena dimakan usia. 

Namun, ketika dibawa ke desa, iPhone XR malah dipuja-puja hingga membuat pemudanya rela berutang atau menggadaikan barang berharga miliknya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Tren “Aneh” Orang Jakarta: Nyicil iPhone Bukan karena Butuh, Alasannya Susah Dipahami Orang Miskin atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 17 April 2026 oleh

Tags: harga iphone 11harga iphone xriPhoneiPhone 11iPhone XRorang desaorang kotapemuda desapilihan redaksi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Purwokerto .MOJOK.CO
Urban

Purwokerto Tempat Pensiun Terbaik, tapi Bukan untuk Semua Orang: Kamu Butuh 4 Skill Ini Buat “Survive”

18 April 2026
Derita orang Jember kerja di Jakarta: teralienasi karena dianggap tertinggal MOJOK.CO
Urban

Orang Jember Kerja di Jakarta: Mencoba Berbaur tapi “Tersisihkan”, Dianggap Tertinggal dan Tak Tersentuh Pendidikan

16 April 2026
Ribetnya punya mobil di desa. Bisa menjadi musuh masyarakat perkara parkir. Rawan jadi korban iseng bocil-bocil nakal MOJOK.CO
Catatan

Repotnya Punya Mobil di Desa: Bisa Jadi “Musuh Masyarakat” Perkara Parkir dan Garasi, Masih Rawan Jadi Korban Kenakalan Bocil-bocil

15 April 2026
kuliah, wisua, sarjana di desa.MOJOK.CO
Edumojok

Jadi Sarjana di Desa, Bangga sekaligus Menderita: Dituntut Bisa Segalanya, tapi Juga Tak Dihargai Tetangga dan Dicap “Beban Keluarga”

15 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan Mau Jadi Trophy Wife, Itu Cara Halus Menjinakkan Perempuan MOJOK.CO

Jangan Mau Jadi Trophy Wife, Itu Cara Halus Menjinakkan Perempuan 

13 April 2026
slow living, jawa tengah, perumahan, desa.MOJOK.CO

4 Tipe Orang yang Tak Cocok Slow Living di Desa: Kalau Kamu Introvert apalagi Usia Produktif, Pikirkan Lagi Sebelum Menyesal

13 April 2026
Ilustrasi pamer pencapaian, keluarga, arisan keluarga, lebaran.MOJOK.CO

Arisan Keluarga, Tradisi Toksik yang Dipertahankan Atas Nama Silaturahmi: Cuma Ajang Pamer dan Penghakiman, Bikin Anak Muda Rugi Mental dan Materi

14 April 2026
Punya hard skill yang laku buat kerja di kota tapi tidak berguna buat slow living di desa MOJOK.CO

Punya Skill yang Laku buat Kerja di Kota tapi Ternyata Tak Berguna di Desa, Gagal Slow Living Malah Kebingungan Nol Pemasukan

13 April 2026
Journaling

Journaling, Ringankan Beban Pikiran dan Perasaan untuk Lebih Berani Menikmati Hidup

13 April 2026
Gaji Jakarta 12 Juta Bikin Gila, 3 Juta di Magelang Hidup Waras MOJOK.CO

Daripada Menyiksa Diri Hidup di Jakarta dengan Gaji 12 Juta Sampai Setengah Gila, Pindah ke Magelang dan Hidup Waras Cukup dengan Gaji 3 Juta

16 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.