Setiap pagi dan sore anak-anak di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur jalan kaki demi mendapatkan air bersih. Sekali jalan ke mata air, mereka memerlukan waktu dua jam, yang artinya empat jam sendiri waktu mereka habis di perjalanan.
Siswa harus jalan kali selama 2 jam di Timor Tengah Selatan
Pagi belum benar-benar rekah di Timor Tengah Selatan (TTS), NTT. Namun, kaki kecil Distin sudah harus beradu dengan jalanan yang tak mulus. Di saat anak-anak seusianya di kota besar masih terlelap atau bersiap di depan meja makan, siswa sekolah dasar ini bersama kawan-kawan dan saudaranya harus menjinjing jeriken.
Targetnya adalah mata air terdekat. Jaraknya tidak main-main, dua jam perjalanan jalan kaki. Rutinitas ini ia lakukan demi bisa mandi serta memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Tak pelak, dia sering kena tegur gurunya karena terlambat datang ke sekolah.
“Sore-sore pun harus ambil air lagi dengan kakak. Makanya, saya ingin punya keran di rumah supaya kalau perlu ambil air, cukup ambil di rumah saja,” kata siswa dari Timor Tengah Selatan itu dikutip dari Wahana Visi Indonesia (WVI), Kamis (18/6/2026).
Sejatinya, Distin hanyalah satu dari sekian banyak siswa yang mengalami kesenjangan akses air bersih dan sanitasi di Timor Tengah Selatan, NTT. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 mencatat bahwa hanya 75,48 persen rumah tangga yang memiliki akses air minum layak di Timor Tengah Selatan, tertinggal signifikan dari rata-rata nasional sebesar 93,22 persen.

Bahkan, menurut Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga, hanya 11,9 persen rumah tangga di Indonesia yang menikmati akses air minum aman alias bebas kontaminasi dan layak konsumsi.
Tantangan ini semakin besar karena wilayah Timor Tengah Selatan memiliki musim kemarau panjang hingga 7–8 bulan setiap tahun. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga menyebut bahwa struktur tanah berbatu karst di sana menyulitkan penyimpanan air.
Mengapa isu kesenjangan air bersih menjadi penting?
Tantangan keterbatasan air bersih tidak dapat dipisahkan dari kondisi sosial ekonomi masyarakat. Tingkat kemiskinan di Timor Tengah Selatan menurut data BPS 2025 masih mencapai 24,5 persen. Artinya, sekitar satu dari empat orang yang ada di Timor Tengah Selatan terdampak oleh terbatasnya akses terhadap layanan dasar, termasuk air bersih dan sanitasi layak.
Selain itu, kondisi ini turut berkontribusi pada tingginya angka stunting yang mencapai 56,8 persen, jauh di atas rata-rata nasional yakni 19,8 persen. Menurut Survei Status Gizi Indonesia 2024, keterbatasan air bersih meningkatkan risiko penyakit infeksi seperti diare, yang menghambat penyerapan nutrisi dan memperburuk kondisi gizi anak.
Situasi ini menjadi tantangan serius yang memerlukan intervensi menyeluruh untuk memutus rantai kemiskinan, termasuk meningkatkan kualitas hidup generasi mendatang.
Air bersih untuk desa dan sekolah di Timor Tengah Selatan
Sebagai organisasi yang bergerak di bidang kemanusiaan, WVI hadir melayani dan berkolaborasi dalam pemberdayaan anak, keluarga, dan masyarakat rentan. Salah satu kegiatannya dengan menghadirkan kampanye Water for Timor (WFT).
Kampanye yang sudah dimulai sejak Maret 2026 ini juga menjadi bagian dari komitmen WVI guna mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG), khususnya pada penyediaan dan pengelolaan berkelanjutan untuk air bersih dan sanitasi bagi semua orang.
National Director WVI, Angelina Theodora menyampaikan akses air bersih adalah hak setiap anak untuk hidup sehat dan layak, termasuk di Timor Tengah Selatan, NTT. Dia berharap kampanye WFT mampu mendekatkan akses air bersih dan sanitasi kepada 2 ribu lebih penerima manfaat di lima desa dan tiga sekolah sasaran.
“Saat ini kami akan mengerjakannya secara bertahap, mulai dari proses asesmen pasokan air, pembangunan fasilitas, hingga peningkatan kapasitas masyarakat untuk mengelola jaringan air,” kata Angelina.

Dia menegaskan hadirnya akses air bersih yang layak turut mendorong kesetaraan gender, karena perempuan tidak perlu menghabiskan waktu untuk mengambil air dan memiliki lebih banyak waktu untuk bermain, mengembangkan diri, dan beristirahat.
WVI juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang sudah turut berdonasi dan berkontribusi menyukseskan kampanye WFT. Donasi yang terkumpul bakal digunakan sebagai dana pembangunan sistem jaringan air bersih yang menjangkau rumah tangga dan sekolah, edukasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat, serta pengelolaan sanitasi yang berkelanjutan.
Dengan adanya akses air yang lebih dekat dan aman, masyarakat dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan lebih baik, membuka peluang yang lebih luas bagi anak-anak untuk belajar, berkembang, dan meraih masa depan yang lebih baik.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Lika-liku Warga Desa Terpencil NTT: Demi Air Bersih Harus ke Lereng Bukit Terjal, Kini Bisa Alirkan ke Rumah Berkat Gotong Royong atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













