Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
18 Maret 2026
A A
Dosen Poltani Kupang sekaligus Ahli Peternakan dapat dana LPDP. MOJOK.CO

ilustrasi - belajar peternakan mulai dari nol dan bantu gembala sapi jadi kaya. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Seorang ahli peternakan dari Politeknik Pertanian Negeri (Poltani), Kupang, Cardial Leo Penu mendapat dana sebesar Rp350 juta dari LPDP untuk melakukan penelitian langsung bersama masyarakat. Dana itu kemudian dipakai bersama para peternak sapi di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mengembangkan pakan ternak.

***

Iklan

Kupang terkenal sebagai salah satu produsen sapi potong utama di Indonesia. Setiap tahunnya, daerah tersebut berhasil memasok sapi sebanyak 50 hingga 80 ribu sapi untuk dikirim ke Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan lainnya. Artinya, Kupang mampu menyumbang 10 persen dari total produksi sapi dalam negeri.

Namun, angka-angka tersebut sebenarnya telah mengalami penurunan drastis dalam satu dekade terakhir. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 mencatat NTT hanya memiliki 593.636 ekor sapi. Padahal, tahun 2016 lalu, mereka mampu memiliki sapi potong sebanyak 984.508 ekor. 

Akibatnya, penurunan jumlah ternak yang dikirim keluar NTT untuk memenuhi kebutuhan daging nasional tidak dapat dihindari. Sementara Indonesia juga masih melakukan impor sapi sebanyak dua juta ekor hingga 2029 mendatang.

Cardial Leo Penu, seorang ahli peternakan dari Poltani menyebut penurunan produksi sapi di NTT bisa terjadi karena banyak faktor. Mulai dari iklim yang memengaruhi pakan ternak, alih fungsi lahan, hingga kebijakan tata niaga yang ada.  

Belum lagi, lebih dari 90 persen sapi berasal dari peternak lokal berskala kecil. Alhasil, sejumlah faktor cara pemeliharaan termasuk sumber pakan menjadi bergantung 100 persen pada kondisi alam, minim alternatif dan inovasi.

“Sapi-sapi Bali yang dipelihara di peternakan rakyat hanya bertambah sekitar 0,4 kilogram per hari,” ujar ahli Fisiologi dan Nutrisi Ternak, Cardial dikutip dari laman resmi LPDP. 

Dengan pertumbuhan seperti itu, peternak biasanya membutuhkan delapan hingga 12 bulan sebelum sapi siap dijual. Tentu bagi keluarga peternak kecil, waktu selama itu menyebabkan perputaran ekonomi menjadi sangat lambat. Hal inilah yang mendorong Cardial bersama timnya melakukan inovasi dengan mengikuti program Berdikari dari LPDP.

Pakai dana LPDP untuk kembangkan pakan sapi

“Inovasi kami adalah membuat Pakan Konsentrat Kaya Pati, sumber energi berbasis putak,” ujar ahli peternakan, Cardial yang sekaligus kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politani Kupang.

Pertengahan tahun 2025, Cardial bersama timnya dari Politani mengunjungi Desa Merbaun. Desa itu terkenal sebagai salah satu pusat penggemukan sapi di Kabupaten Kupang. Umumnya, satu kepala keluarga mampu mengurus (rata-rata) empat hingga lima ekor sapi.

Cardial Leo Penu. MOJOK.CO
Cardial Leo Penu saat di tempat pengolahan Pakan Konsentrat Kaya Pati hasil risetnya di Poltani Kupang. (Sumber: LPDP)

Tiba di sana, Cardial dan timnya tidak serta-merta melakukan penelitian, tapi berkenalan langsung dengan para peternak yang sebelumnya masih menggunakan cara tradisional. Salah satunya, Okto Amnifu yang merupakan ketua kelompok tani ternak Nekmates di Desa Merbaun. 

Okto yang sudah merawat sapi sejak tahun 2004–mewarisi keahlian orang tuanya berujar, selama bertahun-tahun masyarakat di sana memberikan pakan hijauan terutama daun lamtoro yang tumbuh subur di daerahnya.

Namun, sejak adanya inovasi pakan konsentrat berbasis putak dari peneliti, para peternak semakin untung. Pada periode pertama saja, mereka mampu menjual sapi dengan keuntungan yang meningkat.

Iklan

“Pendapatan peternak bisa mencapai sekitar Rp2,3 juta per tiga bulan untuk satu ekor sapi,” ucapnya.

Padahal dulu, para peternak harus menunggu hampir setahun untuk menjual sapinya. Dengan memberikan pakan konsentrat berbahan dasar putak pada sapi, penggemukan jadi jauh lebih cepat. 

Hasil belajar peternakan dari S1 hingga ke LN

Cardial sendiri merupakan lulusan Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana yang kini menjadi dosen di Poltani sejak 2006. Ketertarikannya pada nutrisi ternak terus ia dalami hingga jenjang pascasarjana di Australia. 

Ia meraih gelar magister bidang Animal Science dari James Cook University pada 2013 melalui beasiswa John Allwright Fellowship dari Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR), sebelum kemudian menyelesaikan doktoralnya di University of Queensland pada 2023. 

Selama hampir dua dekade mengajar dan meneliti, fokus Cardial konsisten pada upaya mencari sumber pakan yang efisien dan sesuai dengan kondisi lokal dengan iklim yang kering. Lewat program Berdikari yang digagas Direktorat Pendidikan Tinggi Vokasi Sains dan Teknologi (Diktisaintek) dan didanai oleh LPDP, Cardial dan timnya mampu memberikan kontribusi khususnya bagi para peternak sapi di Kupang.

“Ini adalah pendanaan yang paling besar yang pernah kami dapat. Kami dapat Rp350 juta, dan ini membuka ruang bagi kami untuk bisa melakukan penelitian langsung on-farm di masyarakat, bukan lagi di lab,” ujar Cardial.

Pendanaan tersebut memungkinkan keterlibatan lebih banyak ternak, lebih banyak mitra, dan skala penelitian yang sebelumnya belum pernah dilakukan oleh timnya.

“Kalau tidak ada pendanaan ini maka hasil yang kita dapat ini mungkin tidak akan kita dapat. Tanpa LPDP tentu capaian ini masih akan sangat jauh, bahkan mungkin tidak akan pernah kami capai,” lanjutnya. 

Cardial memastikan penelitiannya akan terus berlanjut mengingat masih banyak persoalan lain yang perlu dijawab, termasuk bagaimana mengurangi penyusutan bobot sapi selama proses pengiriman antarpulau sehingga bobotnya tetap optimal dan nilai ekonomi tidak menyusut drastis.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Sukses Tuntaskan S1 Peternakan di UGM, Saya Pilih Abdikan Diri “Mengurus” Sapi di Papua dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 18 Maret 2026 oleh

Tags: dana penelitiandana risetgembala sapijurusan peternakanKupangLPDPnttpeternak sapipeternakan
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Lulus dari Universitas Mataram lanjut ke University of Queensland Australia. MOJOK.CO
Sekolahan

Kisah Awardee LPDP yang Tak Ingkar Janji: Dulu Hanya Bocah Penggembala Kuda, Kini Jadi Asisten Gubernur NTB

6 Juli 2026
Mila lulusan Fapet UGM. MOJOK.CO
Sekolahan

Dobrak Keraguan Perempuan Tak Pantas Jadi Peternak, Alumnus Fapet UGM Ini Berhasil Raih Rp700 Juta di Tuban

29 Juni 2026
Cerita awardee Beasiswa LPDP University of Edinburgh, Skotlandia, pilih pulang ke Indonesia untuk bangun bisnis brand tas kerja lokal MOJOK.CO
Sosok

Pulang Kuliah dari Skotlandia Pilih Bisnis Tas Lokal di Indonesia: Buka Lapangan Kerja hingga Terlibat Pemberdayaan Perempuan

29 Juni 2026
Perjalanan Kopikina menjadi kedai kopi populer di Jakarta yang dirintis oleh alumni Beasiswa LPDP MOJOK.CO
Kuliner

Jalan Kopikina dari Kedai Kopi Kecil dan Bukan untuk Bisnis Serius Jadi Brand Besar di Jakarta, Terapkan Ilmu dari Inggris

19 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Konten Kreator Perjalanan dapat pelajaran hidup di Lombok. MOJOK.CO

Konten Kreator Perjalanan Nyaris Luntang-lantung karena Tak Punya Uang, Malah Menangis Saat Meninggalkan Lombok

21 Juli 2026
TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana MOJOK.CO

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana

17 Juli 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026
Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026
Pemuda asal Garut sukses jadi konten kreator perjalanan dengan modal ijazah SD. MOJOK.CO

Nekat Keliling Indonesia Bermodal Ijazah SD, Mantan Pedagang Es Krim Asal Garut Ini Malah Sukses Jadi Konten Kreator Perjalanan

17 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.