“Ayah, ini arahnya ke mana?” Pertanyaan itu menjadi semacam romantisasi anak muda zaman sekarang yang merasa hidupnya hilang arah tanpa kehadiran sosok ayah, entah karena ayah sudah tiada maupun masih ada tapi tidak berperan semestinya (fatherless)
Namun, bagi dua narasumber laki-laki Mojok, ketidakhadiran sosok ayah tidak dibiarkan membuat mereka merasa hilang arah hidup hingga bertanya: Ayah, ini arahnya ke mana? Menemukan arah sendiri, bagi mereka, begitu lah cara hidup bekerja.
Tanpa sosok ayah, mengambil alih perannya hingga DO kuliah, tapi tidak merasa fatherless
Sejujurnya, sejak kecil Tomin (23), ia minta dipanggil begitu, memang tidak merasakan kedekatan emosional dengan ayahnya. Pemuda asal Bekasi, Jawa Barat, tersebut mengaku cenderung lebih dekat dengan sang ibu.
Lebih dari itu, Tomin merasa sang ayah tidak berperan sebagaimana mestinya kepala keluarga. Itu lah yang memicu rumah tangga orang tua Tomin berpisah di awal-awal masa kuliah Tomin.
“Sebenarnya kalau ibu sih sudah sejak lama ngerasa ngeganjel. Tapi dia pertahanin karena anak-anak kan. Ada gue, adik dua,” ujar Tomin berbagi cerita, Senin (8/6/2026).
“Bapak gue kalau kerja ya kerja. Cuma masih kurang lah. Tapi memang orangnya problematik, keluarga bukan prioritas. Sering pakai duit buat nyenengin diri sendiri: beli alat pancing misalnya, sebelum mastiin nih adik-adik gue biaya sekolahnya udah beres belum,” sambungnya. “Sementara ibu gue juga ikut kerja kan, jadi ART.”
Itu lah kenapa Tomin mengusahakan sendiri biaya kuliah. Sejak SMA toh ia sudah punya tabungan dari kerja paruh waktu sebagai tukang sablon. Ia awalnya kuliah di sebuah PTN di Jakarta. Ia kuliah sambil bekerja freelance di bidang digital printing, selain mengerjakan hal-hal lain yang bisa menghasilkan uang.
Sayangnya, baru mencecap bangku kuliah, kedua orang tuanya memutuskan berpisah. Di titik itu, sebagai anak pertama dengan dua adik yang masih sekolah, ia memutuskan untuk drop out karena rasanya berat baginya untuk kuliah sambil kerja di saat ibu dan dua adiknya butuh penopang.
“Tapi entah kenapa aku ngerasa biasa saja. Pisah ya pisah aja udeh. Terus bukan yang ngerasa, anjing gara-gara bapak gue, gue harus nanggung beban, sementara selama ini gue kayak nggak punya sandaran (sosok ayah),” kata Tomin. “Secara fisik mungkin (fatherless), tapi secara mental, nggak sih.”
Cari arah hidup sendiri
Setelah DO dari kampus, Tomin mengambil pekerjaan penuh waktu di Bekasi, kembali di jasa digital printing. Di luar itu, sesekali online sebagai driver pesan-antar makanan. Itung-itung untuk membantu sang ibu menopang kebutuhan rumah dan adik-adik.
“Gue memang kehilangan masa kuliah. Tapi gue nggak mau terlalu berlarut-larut sampai merasa hilang arah. Kalau arah gue di kampus akhirnya berbelok, ya harus cari arah lain,” ujar Tomin.
Dalam narasi di media sosial yang belakangan ia dapati, banyak anak merasa seharusnya di situ lah fungsi ayah. Selain memastikan kebutuhan keluarga—ekonomi dan emosional—terpenuhi, ayah harus hadir untuk menunjukkan arah yang seharusnya anak-anaknya ambil.
Ketidakhadiran itu lah yang dianggap membuat banyak anak merasa fatherless dan hilang arah. Bingung harus menghadapi hidup bagaimana, apalagi jika situasi hidupnya berat sebagaimana yang dialami oleh Tomin.
“Bagiku, mungkin karena dipaksa kondisi, udah nggak ada waktu buat bingung. Harus cari arah demi adik-adik,” ungkapnya.
“Aku merasa gue udah nggak dapat sosok ayah, maka gue nggak mau kalau adik-adik ngerasa gitu juga. Jadi gue mencoba menambal itu, mencoba jadi sosok ayah dan kakak sekaligus. Gue nggak pernah bisa belajar menjadi sosok ayah dari bapak gue, tapi gue bisa belajar sendiri, jadi ayah sang seharusnya itu kayak gimana,” lanjutnya.
Dipaksa dewasa sebelum waktunya tapi aku bangga
Sementara Zika (20), ketiadaan sosok ayah usai meninggal karena pandemi Covid-19 membuatnya merasa dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Zika anak terakhir dari tiga bersaudara. Posisinya bisa dibilang sial karena tidak sepenuhnya merasakan masa kejayaan sang ayah sewaktu masih hidup. Berbeda dengan dua kakaknya yang sempat merasakan dalam kondisi aman finansial hingga bisa menuntaskan pendidikan di perguruan tinggi. Bahkan bisa berumah tangga, salah satunya, juga karena support finansial dari sosok ayah.
“Sekolahku berhenti cuma sampai lulus SMA. Aku nggak sampai hati membebani kedua kakakku yang sudah berkeluarga buat mikirin nasibku,” ujar pemuda asal Gresik, Jawa Timur tersebut.
Untungnya, di Gresik ada banyak industri yang mau mempekerjakan lulusan SMA. Di situ lah Zika akhirnya bekerja.
“Sempat terbersit pikiran, Cok dulu kakak-kakakku kalau butuh apa-apa tinggal minta ke bapak, aku kan nggak. Kalau mau sesuatu, ya mengusahakan sendiri. Belum lagi, aku harus sudah mulai ngasih uang ke ibu, padahal ketika seusiaku kakak-kakakku masih minta ke ibu,” kata Zika.
Meski begitu, Zika justru merasa bangga. Karena ketiadaan sosok ayah justru membuatnya menjadi tangguh lebih cepat. Persinggungan dengan realitas kehidupan orang dewasa juga membuat mental dan cara pikirnya perlahan menjadi lebih matang.
Sosok sosok ayah yang membuka jalan, nyatanya bikin iri orang lain karena berdiri di kaki sendiri
Kalau dibilang fatherless, saya sendiri sebenarnya ada di posisi tersebut: ayah saya masih hidup, tapi kami tidak punya ikatan emosional yang begitu kuat karena bertahun-tahun ia berjarak jauh dari saya dan keluarga (kerja di Malaysia). Komunikasi kami pun dingin belaka.
Selain itu, ayah saya juga bukan orang dengan pendidikan bagus. Hanya tamatan SD dan seorang kuli bangunan. Ia tidak terliterasi dengan banyak hal.
Dulu, saya sempat sangat iri dengan teman-teman yang punya sosok ayah yang bisa membukakan jalan untuk anak-anaknya. Misalnya, saat anak sekolah diarahkan untuk mengikuti kegiatan apa, saat anak hendak kuliah ada yang mengarahkan soal jurusan apa yang potensial, bahkan sampai kerja pun ada yang dengan mudah dapat peluang dari relasi sang ayah.
Saya tidak punya kemewahan itu. Kondisi yang awalnya saya rutuki, tapi kemudian saya jalani. Saya mencari arah hidup sendiri, membuka jalan sendiri, dan berusaha berdiri di kaki sendiri.
Hidup saya pada dasarnya tidak enak-enak amat. Namun, lucunya, justru ada beberapa teman—dengan privilege sosok ayah—justru menyatakan iri kepada etos hidup yang saya jalani.
Kata mereka: saya memang hidup dalam posisi fatherless, tapi saya nyatanya tidak kehilangan arah dan mampu berdiri di kaki sendiri. Bagi mereka, kenyataan itu wajib dibanggakan. Karena mereka merasa tidak punya etos dari dalam diri sendiri yang bisa dibanggakan, karena jalan hidup mereka mudah-mudah saja karena memang sudah diarahkan dan dibukakan jalan.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














