Sia-sia berkebun di desa gara-gara murah hati yang disalahpahami
Kondisi serupa sebenarnya juga terjadi di kampung halaman saya sendiri di Rembang, Jawa Tengah. Meski tanahnya tidak sesubur di Jombang, tapi setidaknya masih ada jenis tanaman yang bisa tumbuh di kebun: mangga, sawo, pisang, pepaya, jambu (air maupun biji), jagung, kangkung, jahe, dan cabai.
Beberapa orang di desa saya memang murah hati. Jika ada tetangga minta tanaman dari kebun belakang rumah, pasti akan dikasih secara cuma-cuma. Tapi untuk “tanaman-tanaman kecil” seperti kangkung, cabai, jahe, atau sekadar daun jeruk untuk penyedap masakan.
Masalahnya kemudian, kemurahhatian itu disalahpahami: ambil tanaman di kebun tetangga tanpa bilang-bilang itu tidak masalah. Toh kalau minta pasti dikasih.
Alhasil, amat sering orang-orang desa pemilik kebun mengeluh karena hasil kebunnya lenyap sebelum si pemilik kebun bisa menikmati sepenuhnya. Pepaya matang tiba-tiba lenyap padahal sudah dijadwal akan dipetik. Jumlah sawo yang masak tiba-tiba berkurang. Pisang setandan pun bisa raib padahal matangnya sudah ditunggu si pemilik kebun sejak jauh-jauh hari.
Dia yang maling, dia yang nyolot
Ada seorang warga yang mengaku pernah memergoki tengah menyolong tanaman di kebunnya. Tak pelak jika si warga muntab dan mendamprat si maling yang ternyata warga desa sendiri.
Lucunya, dalam situasi tersebut, si warga desa pemilik kebun malah seolah menjadi pihak yang salah. Karena saat dilabrak, si maling ada-ada saja alasannya.
Alasan paling klasik adalah: bilang baru saat itu saja (pertama kali) ngambil tanaman di kebun. Tentu saja si pemilik kebun mencecar tidak percaya.
Dari situ perdebatan lantas terjadi. Lucu tapi ironis, si maling malah tidak diterima dituduh telah maling. Dia malah berbalik menuduh pemilik kebun sebagai orang pelit.
“Cuma diambil gitu aja nggak terima. Padahal cuma sedikit. Dasar pelit memang!” Begitu kilah si maling. Lah, cuma sedikit katanya. Berkebun juga butuh effort loh. Si pemilik kebun belum sempat menikmati sendiri hasil kebunnya loh!
“Semua kuganti, minta berapa sih? Dikira nggak mampu ganti rugi.” Aneh, benar-benar aneh memang. Dia yang maling, dia yang nyolot.
Jadi WC, tempat sampah umum, dan bebas buang bangkai binatang
Di Rembang, yang memuakkan dari punya kebun di desa ternyata tidak cuma sekadar dicolong saja. Tapi juga harus siap-siap jadi korban ulah-ulah menyebalkan warga.
Sebab, kebun milik orang, di mata beberapa orang lain yang “tidak bernalar”, sudah seperti WC dan tempat sampah umum: jadi tempat orang berak dan buang sampah sembarangan.
Tidak jarang pula jadi tempat orang buang bangkai binatang, seperti kucing, tikus, atau ayam. Sering pula menjadi tempat orang membuang kucing (hidup) yang dianggap nakal dan mengganggu. Itu kalau si pemilik kebun menegur pelaku (jika ketahuan), yang terjadi malah bisa pertengkaran. Si pelaku bisa lebih galak.
Alih-alih bisa menikmati hidup dengan nuansa slow living, punya kebun sendiri di desa akhirnya malah seperti dua mata padang. Merepotkan.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














