Bosan dengan rutinitas yang serba cepat dan tekanan kerja yang bikin stres setiap hari, banyak orang kota berkhayal bahwa pindah ke desa adalah jalan pintas menuju kedamaian. Kehidupan desa tergambar sangat sempurna. Ekspektasinya hidup tenang, jauh dari tekanan, tidak ada bos yang cerewet, dan bisa mempraktikkan gaya hidup slow living dengan damai.
Banyak yang merasa bahwa dengan pindah ke tempat yang sepi, semua masalah hidup di kota akan otomatis hilang. Nyatanya, alih-alih mendapat ketenangan yang diidam-idamkan, banyak pendatang dari kota yang malah kena mental dan menderita setelah menetap di desa.
Penyebabnya, dan seringkali dilupakan, adalah anggapan bahwa desa merupakan “panti rehabilitasi” buat healing orang kota yang kelelahan. Padahal desa adalah sebuah ruang hidup yang punya aturan main, ritme sosial, dan hukum tak tertulisnya sendiri.
Jadi, kalau kamu merasa termasuk dalam satu atau beberapa dari empat tipe orang di bawah ini, sebaiknya kubur dalam-dalam niat tersebut daripada ujung-ujungnya malah menderita di tempat baru.
#1 Orang yang introvert, pikir dua kali buat slow living di desa
Di kota besar, kamu bisa saja tinggal di sebuah apartemen atau perumahan selama bertahun-tahun tanpa tahu siapa nama tetangga sebelah rumah. Kamu bisa menutup pintu rapat-rapat setelah pulang kerja, tidak ikut campur urusan warga, dan tidak ada satu pun orang yang peduli. Privasi di kota adalah hal yang lumrah dan dijunjung tinggi.
Namun, di desa, hal itu nyaris mustahil terjadi. Desa adalah tempatnya srawung. Secara sosial, nyaris tidak ada tembok tebal yang membatasi urusan antartetangga. Warga desa punya ikatan kolektif yang sangat kuat, yang berarti kehidupan pribadi kamu mau tidak mau akan bersinggungan dengan warga lain.
Kegiatan sosial di desa itu sangat padat dan menuntut kehadiran fisik. Mulai dari kewajiban ronda malam, kerja bakti, tahlilan, arisan RT, menjenguk tetangga yang sakit, hingga kewajiban rewang.
Kalau kamu adalah tipe orang introvert yang butuh banyak waktu sendiri untuk mengisi ulang energi, rutinitas desa ini akan sangat menyiksa. Tentu saja, kamu bisa memilih untuk tidak memedulikan tetangga, menutup pintu rumah rapat-rapat, dan fokus pada slow living. Namun, siap-siap saja kena mental karena pasti akan dicap sombong dan perlahan dikucilkan dari pergaulan kampung.
Realitas soal benturan kebutuhan privasi dan budaya srawung ini tergambar sangat jelas dalam pengalaman Kevin. Ia adalah seorang pekerja asal Jakarta yang kisahnya diangkat dalam liputan Mojok berjudul “Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung”.
Kevin nekat pindah ke Salatiga demi mempraktikkan slow living. Di sana, ia mencoba mempertahankan kebiasaan orang kota: menutup pintu rumah rapat-rapat saat sedang butuh privasi atau tidak ingin diganggu. Bukannya mendapat ketenangan, ia malah dicurigai macam-macam dan digunjingkan oleh tetangga.
Di desa, pintu yang selalu tertutup rapat dianggap sebagai wujud kesombongan, karena nyawa utama kehidupan mereka adalah srawung alias membaur. Ketenangan yang awalnya dicari Kevin nyatanya hancur berantakan oleh tuntutan sosial yang tidak bisa dihindari.
#2 Orang di usia produktif
Seringkali, anak muda usia 20-an atau awal 30-an merasa burnout dengan pekerjaannya lalu memutuskan ingin hidup santai di desa saja. Pola pikir ini sangat berbahaya. Kalau kamu masih di usia produktif, lebih baik habiskanlah energi di kota.
Secara logika dan hitung-hitungan ekonomi, desa bukanlah tempat utama untuk mencari uang, mengumpulkan aset, atau membangun jenjang karier.
Sebagai orang yang lahir dan besar di Wonogiri, saya bisa mengafirmasi hal ini dengan sangat yakin. Di desa saya, budaya merantau ke kota besar sangatlah kuat. Anak-anak muda berbondong-bondong pergi ke Jakarta atau luar pulau setelah lulus sekolah.
Hal ini terjadi bukan karena kami tidak suka hidup tenang, tapi murni karena susahnya mencari lapangan pekerjaan yang layak di desa. Lapangan pekerjaan formal sangat terbatas dan standar upahnya jauh di bawah standar hidup yang nyaman.
Bertahan di desa pada usia produktif, apalagi tanpa memiliki pekerjaan remote yang gajinya standar ibu kota, sama saja dengan siap hidup susah. Kamu bakalan stuck.
Banyak orang kota yang membantah dengan kalimat, “Lho, kan bisa buka usaha sendiri di desa? Pasti laku.”
Tunggu dulu. Berbisnis di desa punya tantangan yang bikin sakit kepala, terutama soal batas profesionalisme. Kamu akan berhadapan dengan warga yang sering meminta “harga teman” bahkan berutang tapi susah ditagih dengan dalih “masa sama tetangga sendiri perhitungan”.
Tak cuma di situ. Kamu juga bakal ketemu dengan pemuda desa yang etos kerjanya buruk. Hal ini persis seperti liputan Mojok soal orang kota yang nekat membuka usaha di desa demi slow living, tapi akhirnya malah dibikin muak oleh etos kerja warga setempat.
Liputannya bisa dibaca di sini: “Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya”
Pemilik usaha bernama Bagus (31), tersiksa karena pemuda lokal yang ia pekerjakan sering bersikap semaunya sendiri, gampang bolos, dan mengabaikan kedisiplinan dengan berlindung di balik alasan “asas kekeluargaan” atau “kan sama tetangga sendiri”.
Sikap warga yang mengaburkan batas profesionalisme ini justru menjadi sumber stres baru. Jadi, selagi tenaga masih kuat, peras keringatlah di kota. Slow living di desa biarlah jadi agenda saat kamu sudah mendekati masa pensiun nanti.
#3 Orang yang belum financial freedom bakal kelabakan hidup di desa
Ada satu kesalahpahaman yang sangat umum dipercaya di kalangan kelas menengah kota: hidup di desa itu pasti murah meriah. Kalau bicara harga makanan, misalnya, harganya jelas lebih miring dibanding di Jakarta. Namun, kalau kamu benar-benar hidup menetap dan membaur di desa, kamu bakal sadar bahwa “biaya sosial” di lingkungan perdesaan itu sangat mahal.
Hampir setiap minggu selalu ada pengeluaran tak terduga yang menuntut untuk merogoh kocek. Nominalnya mungkin sering disebut “seikhlasnya”, tapi di desa ada standard gengsi dan kepantasan yang mau tidak mau harus kamu ikuti agar tidak jadi bahan omongan.
Coba bayangkan saat memasuki “Musim Hajatan”. Dalam tradisi Jawa, bulan-bulan tertentu seperti bulan Besar (Zulhijah) adalah bulan favorit untuk menggelar pernikahan atau sunatan.
Di bulan ini, undangan hajatan bisa datang bertubi-tubi. Dalam satu minggu, kamu bisa saja harus pergi menyumbang ke tiga sampai lima tempat yang berbeda. Kalau satu amplop standarnya diisi Rp50.000 hingga Rp100.000, ya silakan dihitung saja.
Belum lagi biaya sosial lain yang berhubungan dengan kegiatan rukun desa yang bisa kapan saja ditagih. Jadi, kalau kamu nekat pindah ke desa padahal belum financial freedom, atau tabungan belum tebal, ya bakal kelabakan. Alih-alih bisa menikmati slow living dan duduk santai di teras, yang ada malah menderita karena uang gaji terus tergerus habis untuk membayar pajak sosial ini.
#4 Kalau kamu belum punya anak atau menunda punya anak, jangan sok slow living di desa
Di kota, keputusan untuk punya anak, menunda momongan, atau bahkan memilih childfree adalah hak prerogatif pasangan suami istri. Orang di sekeliling tidak akan terlalu peduli atau banyak bertanya.
Namun, bersiaplah menghadapi kalcersok kalau kamu tinggal di desa, karena di sana urusan rahim seringkali dianggap sebagai urusan publik yang bebas dikomentari siapa saja.
Warga desa punya kebiasaan ikut campur urusan privat orang lain, yang biasanya dibungkus dengan nada basa-basi saat bertegur sapa. Kalau kamu adalah pasangan muda yang nekat pindah ke desa tapi tak kunjung punya anak, siap-siap saja dihakimi setiap hari.
Hal ini menimpa Dimas dan istrinya, yang ceritanya bisa dibaca dalam liputan Mojok berjudul “Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa”.
Secara ekonomi, pasangan ini sebenarnya memiliki kehidupan yang sangat makmur di desa karena punya pendapatan besar dari bisnis online dan freelance. Namun, mereka akhirnya menyerah, rela minggat, dan memilih pindah ke perumahan biasa demi menyelamatkan kewarasan.
Pemicunya tidak lain adalah mulut tetangga desa. Istri Dimas stres berat karena terus-terusan diburu-buru, ditanya, dan dihakimi warga sekitar untuk segera punya anak. Parahnya, sampai pada tuduhan-tuduhan halus yang mengarah pada urusan kesuburan, hingga disodor-sodori jamu atau disuruh pijat ke dukun beranak setempat.
Kemapanan finansial yang mereka bawa dari kota nyatanya tidak ada artinya jika mental terus dihancurkan oleh lingkungan sendiri.
Pada akhirnya, meromantisasi kehidupan desa hanya dari tayangan video pendek yang estetik adalah sebuah jebakan ekspektasi. Tak semua orang bisa dan tak semua desa cocok sebagai tempat slow living.
Kamu butuh mental baja untuk bisa berbaur dengan warga, butuh kebebasan finansial untuk menanggung tingginya biaya sosial, dan butuh kematangan usia untuk benar-benar bisa menikmatinya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













