Saat gaji Jaksel tidak Cukup untuk dikirimkan ke orang tua
Namun, di balik komedi hidup serba hemat itu, ada satu hal yang diam-diam mengiris hati: mengecek mutasi rekening pada akhir bulan.
Sebagai anak rantau bergelar sarjana yang bekerja di “perusahaan Jaksel”, ekspektasi keluarga terhadap saya tentu cukup tinggi. Ada harapan tersirat bahwa saya sudah hidup mapan dan bisa mengirimkan uang kepada orang tua dengan nominal jutaan rupiah setiap bulan.
Realitasnya jauh berbeda. Jangankan mentransfer jutaan rupiah, menyisihkan beberapa ratus ribu rupiah untuk dikirimkan ke kampung saja terkadang terasa seperti keajaiban finansial.
Gaji hanya mampir sebentar sebelum berpindah tangan untuk membayar kebutuhan hidup. Saya pun harus menelan gengsi bulat-bulat dan menerima kenyataan bahwa predikat “anak startup Jaksel” tidak selalu seindah nominal yang tertera di slip gaji.
Sesekali muncul rasa bersalah. Saya sudah kuliah, mendapat gelar sarjana, lalu pergi ke Jakarta untuk bekerja. Namun, setelah semua pencapaian yang terlihat bagus di atas kertas itu, saya belum juga bisa menjadi anak yang diandalkan secara finansial oleh keluarga.
Hal semacam itu tentu tidak bisa diceritakan dengan mudah kepada saudara saat Lebaran. Jauh lebih praktis untuk tersenyum ketika mereka mengira gaji saya di kerja Jaksel besar daripada menjelaskan bahwa sebagian besar pendapatan saya habis hanya untuk bertahan di kota ini.
Kerja di Jaksel beri banyak pelajaran, setara dengan S2 Jurusan Bertahan Hidup
Saya tidak memungkiri bahwa bekerja di startup dengan ritme keras telah memberi banyak pelajaran. Saya menjadi lebih cekatan, terbiasa mengerjakan banyak hal sekaligus, dan cukup terlatih menghadapi tekanan.
Saya dan teman-teman menganggapnya sebagai kawah candradimuka di kisah Gatotkaca. Ilmu yang saya terima, mental baja yang terbentuk, dan efisiensi kerja yang tertanam di otak rasanya setara dengan mengambil kuliah S2 urusan Bertahan Hidup.
Kemampuan bertahan hidup saya barangkali sudah setara dengan orang yang mengambil kuliah S2, hanya saja tanpa gelar tambahan.
Namun, saya mulai curiga bahwa istilah “kawah candradimuka” terkadang hanya menjadi cara agar penderitaan pekerja terdengar lebih gagah.
Pada akhirnya, menjadi anak rantau di Jaksel atau Jakarta Selatan membuat saya terus menjaga keseimbangan antara gengsi lanyard dan kenyataan saldo rekening.
Saya mungkin belum mampu mentraktir keluarga di restoran mewah atau mengirimkan jutaan rupiah kepada orang tua. Untuk sementara, saya baru bisa pulang membawa cerita tentang kerasnya aspal ibu kota dan rekomendasi ayam geprek miskin.
Sekarang saya juga tahu bahwa lanyard perusahaan bukanlah sertifikat kesejahteraan. Ia hanya menunjukkan tempat saya bekerja, bukan seberapa layak saya dibayar.
Jadi, jika nanti ada saudara yang kembali bertanya apakah gaji saya besar setelah bekerja di startup Jaksel, saya sudah menyiapkan jawaban.
Besar, kok.
Besar keinginan saya untuk segera naik gaji.
Penulis: Dewi Puji Lestari
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Disuruh Pindah Negara, Saya Googling Cara Jadi Warga Selandia Baru dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai














