Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Generasi Milenial kok Golput, Aktif Dikit Kenapa Sih?

Yohanes Baptista Fandis Nggarang oleh Yohanes Baptista Fandis Nggarang
17 Januari 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sikap golput dari generasi milenial kayak abai dengan narasi bahwa kalau kita tidak bisa memilih yang terbaik, paling nggak bisa milih yang paling mending.

Sebagai bagian dari generasi milenial, sejujurnya saya terganggu melihat sekelompok teman menyatakan diri akan Golput di Pemilu 2019 ini. Sekelompok mahasiswa dari berbagai kampus di Jakarta, dengan tagline “Milenial Golput” beberapa waktu silam.

Iklan

Argumentasi mereka, kedua kelompok Paslon Capres dan Cawapres sibuk sebar hoax dan ujaran kebencian. Bahkan, ada yang mengatakan, dua kelompok tersebut malah tidak mengampanyekan programnya.

Hal ini memunculkan sebuah pertanyaan, apa betul kedua kelompok paslon tidak mengampanyekan programnya sama sekali?

Sekelompok golongan muda tersebut merasa kecewa, kok di jagat publik program-program yang mau dijalankan tidak banyak dibicarakan? Mereka merasa risih dengan adanya narasi yang memecah-belah. Pikirannya terkuras pada narasi-narasi seperti itu.

Bahkan, ketika membuka medsos, ada yang merasa tidak nyaman. Bagi saya, ini adalah pengakuan menarik, meski lucu. Kalau dibilang, kelompok muda seperti ini cenderung gampang baper dan kurang tangguh.

Meminjam penjelasan Prof Ariel Heryanto dalam diskusi “Menyapa Kita Membenci?”, hoax dan ujaran kebencian adalah pengganggu yang selalu ada dalam sejarah Indonesia sebagai bangsa.

Sejak periode akhir kolonial Belanda, ujaran kebencian sudah ada—bahkan mungkin sebelum itu. Bedanya pada periode tersebut, pencetus ujaran kebencian hanya dimiliki oleh segelintir orang, tidak seperti sekarang yang setiap orang bisa melakukannya dengan jari lewat media sosial.

Kalau efek sekarang jauh lebih besar, sebenarnya itu terjadi karena akses dan kecepatan distribusi pesan kebencian lebih cepat serta lebih banyak orang yang terlibat saja. Lalu karena merasa putus asa dengan keadaan, ada beberapa generasi milenial memilih apatis.

Padahal yang harusnya dipikirkan adalah bagaimana kekuatan antibodi kita terhadap perkembangan teknologi ini memberi efek berlipat dalam sebaran ujaran kebencian. Kalau ada virus seperti itu lalu generasi milenial—generasi yang paling akrab—saja sudah menyerah dengan tidak mau ikut terlibat, bagaimana dengan generasi yang lain?

Sebab sikap ini tidak bisa benar-benar mengubah keadaan. Marah terhadap hoax memang diperlukan, tapi abai lalu jadi apatis? Hm, sepertinya kok itu bukan solusi.

Dalam dunia digital seperti ini, jangan sekali-kali kita berharap agar keriuhan ini segera hilang tanpa keterlibatan generasi milenial. Karena toh keriuhan seperti ini merupakan sebuah keniscayaan.

Hal yang bisa kita lakukan, bagi yang masih berharap, adalah memutus mata rantai supply dan demand, agar narasi negatif yang menyasar emosi kita bisa berkurang. Lalu cara untuk memutus mata rantai tersebut adalah—justru—jangan diam. Lalu ninggalin gitu saja.

Kalau ada konten yang terverifikasi ya distribusikan. Kalau ada konten bohong, ya nggak usah sebar. Kalau ada konten yang menghina, abaikan—kalau perlu laporkan. Setidaknya, sebagai milenial, berusaha aktif saja lah lebih dulu.

Kalau ini eranya kita, sudah saatnya kita melawan balik. Jangan menyerah seolah dunia ini mau runtuh. Dalam kadar tertentu golput merupakan sikap pengecut, tanda orang yang mengalah, dan merupakan pertanda orang yang sudah putus harapan.

Bagaimana bisa kekecewaan terhadap politik dilawan dengan golput? Sebab sekali pun kita golput, dengan tidak memilih si A dan si B, negara juga harus tetap berjalan bukan?

Kalau memang sistem atau negara harus tetap berjalan, setidaknya pilih saja paslon yang memiliki kelebihan terbanyak atau keburukan tersedikit, sehingga dari keduanya muncul pemimpin yang terbaik—atau yang paling mending.

Bagi saya, ide golput lahir dari pemikiran orang yang menganggap bahwa pemerintahan hanya boleh diurus oleh pemimpin yang sesuai dengan konsep ideal kelompok mereka sendiri—tanpa mau bernegosiasi dengan realitas yang ada.

Iklan

Padahal, dalam konteks demokrasi, masih banyak kelompok masyarakat yang kritis. Masih ada pers yang siap mengawal janji-janji politisi setiap hari. Masih ada lembaga-lembaga sipil independen yang siap mengawal pemerintahan.

Jadi, golput seperti mengabaikan satu fakta bahwa masih ada kelompok masyarakat cerdas lain dalam tatanan demokrasi—selain mereka. Sikap golput seolah-olah melihat tidak ada lagi jalan keluar dan memandang cuma mereka saja yang punya konsepsi ideal. Lalu ketika konsep ideal tersebut tidak bisa diterapkan, terus menyalahkan realitas di lapangan.

Hm, bukankah itu semacam bentuk pengingkaran terhadap keadaan?

Oleh karena itu, untuk memilih pemimpin ter-mending, sebaiknya kita bergerak lebih aktif. Bersama teman-teman, ayo kita mendiskusikan berbagai hal dan cek profil tiap paslon. Lihat rekam jejak dan aktif cek program-programnya.

Tentang program, ini yang membuat saya kecewa pada kelompok milenial yang mengumbar golput. Kepada mereka saya ingin bertanya, sudahkah kalian tahu kalau tiap paslon memiliki program yang tidak kalian setujui?

Sudahkah dokumen setebal puluhan halaman tersebut kamu baca? Atau hanya berhenti karena melihat ada pendukung dari salah satu dari kedua paslon yang menggunakan cara-cara yang menjijikkan seperti sebar hoax saja?

Jangan-jangan, kita mengatakan bahwa kedua paslon tidak mengkampanyekan program, tetapi kita sendiri juga tidak membaca dokumen yang sudah diunggah. Memang benar, di luar sana, seperti di media sosial, terjadi perdebatan yang tidak substantif. Tetapi, ngapain kita tetap tinggal di sana kalau di sana tidak ada percakapan yang substantif?

Baiknya, tinggalkan medium yang riuh tersebut, cari keheninganmu, dan baca semua apa yang telah mereka susun. Bila perlu, bagikan dokumen tersebut kepada milenial lain. Ajak teman-teman untuk duduk dan berdiskusi. Hasilnya, munculkan komentarmu dalam tulisan atau postingan di media sosial agar semua orang tahu apa kelemahan dan kelebihan kedua paslon tersebut.

Selain itu, di TV, ada banyak juga kok acara di mana kedua kelompok paslon memaparkan program-programnya. Selalu, di sela percakapan mereka, hadir pengamat atau analis yang mengkritisi pemaparan mereka.

Memang betul, ada perdebatan yang tidak substantif. Tetapi, tidak sedikit kok diskusi yang bermutu. Kalau pun di situ terjadi perdebatan yang tidak substantif ngapain juga kita harus baper atas perdebatan tersebut?

Kalau tidak percaya TV, hadiri diskusi-diskusi yang diadakan oleh lembaga independen. Terlibatlah dalam prosesnya, beranilah mencatat, dan sepulang dari acara, sebarkan hal yang positif di media sosial.

Kita sudah diberi nampan, namun kita tetap menginginkan agar nampan tersebut ditaruh makanan. Makanan sudah tersedia, namun kita menginginkan agar kita disuap. Ketika keinginan tidak dipenuhi, eh kita malah golput. Jadi milenial aktif dikit kenapa sih?

Yang mau saya katakan, jadilah milenial yang aktif. Alih-alih mengeluh pada situasi politik, beranikan diri untuk mengambil alih media sosial dan pengaruhi percakapan publik. Maka kalau mau situasi ini membaik, seharusnya bukan gerakan golput yang mengemuka.

Kita bisa membuat gerakan yang berbobot, mengawal proses sebelum pemilu, dan memastikan narasi positif diketahui publik. Tidak peduli, kita semua akhirnya memilih siapa, tetapi di atas semua perbedaan tersebut, semangat kita untuk menjadikan diskursus politik yang lebih baik adalah pemersatunya.

Saya tidak tahu apa yang ada di benak teman-teman “milenial golput”. Tetapi, ada satu hal yang mau saya katakan; umur saya masih 20-an tahun dan saya masih punya keyakinan keadaan Indonesia bisa jauh lebih baik.

Dan untuk itu, saya akan menegosiasikan konsep pemimpin ideal versi saya dengan pilihan yang sementara ini tersedia.

Terakhir diperbarui pada 17 Januari 2019 oleh

Tags: apatisariel heryantogolputmilenialpilpres
Yohanes Baptista Fandis Nggarang

Yohanes Baptista Fandis Nggarang

Artikel Terkait

Anak muda alias gen z dan milenial kini tolak kejar jabatan. MOJOK.CO

Anak Muda Tolak Karier Elite dengan Jabatan Tinggi, Pilih Side Job yang Jamin Gaji Stabil di Masa Kini

19 Mei 2026
Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas Mojok.co

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas

18 Mei 2026
Gen Z dihakimi milenial

Nasib Gen Z: Sudah Susah, Malah Serbasalah hingga Dicap “Gila” padahal Hadapi Krisis dan Hanya Mencoba Bertahan Hidup

30 April 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami

22 April 2026
Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif MOJOK.CO

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

9 April 2026
Ibu hamil kondisi mengandung bayi

Hampir Memiliki Anak Sudah Jadi Anugerah, Ibu Tak Apa Berjuang Mati-matian demi “Buah Hati” yang Belum Tentu Lahir ke Dunia

29 Maret 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Ide bisnis sewa HP flagship, ide aneh raup omzet 20 juta per bulan MOJOK.CO

Ide bisnis sewa HP flagship ternyata begitu menguntungkan, modal 3 HP bisa raup omzet 20 juta per bulan

20 Agustus 2026
Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

21 Agustus 2026
Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 MOJOK.CO

Memaknai “LAKU” dalam Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026: Sejauh Mana Bermanfaat dalam Ekosistem Sastra

19 Agustus 2026
Melalui hidangan Buntil Salmon, Sasanti Restaurant menghadirkan telisik gastronomi dan permakultur yang memberi pengalaman mengesankan dalam mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara. (Nusaplant)

Melalui Buntil Salmon, Sasanti Restaurant Tak Hanya Bicara Rasa tapi Pertemuan Kekayaan Pangan dan Flora Nusantara

21 Agustus 2026
Peserta dalam ajang Klaten International Motocross di Sirkuit Bokong Semar, kawasan Rowo Jombor. MOJOK.CO

Anak Muda Asal Jawa Barat Kalahkan Crosser dari Australia di Ajang Klaten International Motocross

25 Agustus 2026
Garuda Pertiwi Diredam Thailand di Final: Satu Langkah Mundur, Seribu Langkah ke Depan

Garuda Pertiwi Diredam Thailand di Final: Satu Langkah Mundur, Seribu Langkah ke Depan

24 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.