Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Di Tragedi Kanjuruhan, Angin Memang Jahat, Polisi Pasti Benar

Baru-baru ini, polisi yang jadi terdakwa Tragedi Kanjuruhan, divonis bebas. Bravo hukum Indonesia.

Arman Dhani oleh Arman Dhani
17 Maret 2023
A A
Di Tragedi Kanjuruhan, Angin Memang Jahat, Polisi Pasti Benar MOJOK.CO

Ilustrasi Di Tragedi Kanjuruhan, Angin Memang Jahat, Polisi Pasti Benar. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sangat tidak mungkin polisi bersalah di Tragedi Kanjuruhan. Sudah betul adalah angin yang berbuat kejahatan!

Pada 25 Mei 2020, George Floyd, seorang pria kulit hitam berusia 46 tahun, dibunuh di Minneapolis, Minnesota oleh seorang polisi bernama Derek Chauvin. Saat itu almarhum Floyd telah ditangkap karena seorang pegawai toko menuduh bahwa Floyd melakukan pembelian menggunakan uang kertas palsu dengan nilai $20.

Kematian Floyd terjadi karena Derek Chauvin berlutut dan menekan lututnya di leher Floyd selama lebih dari sembilan menit. Derek Chauvin, beserta tiga polisi lain, ditangkap lantas dipenjara. Khusus Derek, dia divonis 22 tahun penjara.

Tidak hanya dipenjara, Polisi yang digugat keluarga Floyd, harus membayar 27 juta dolar atau setara Rp417.058.200.000. Pertanyaan saya, kok bisa polisi dipenjara dan membayar denda? Apa polisi Amerika ini nggak belajar atau studi banding ke Indonesia? Baru-baru ini, polisi yang jadi terdakwa Tragedi Kanjuruhan, divonis bebas. Bravo hukum Indonesia.

Bravo hukum Indonesia

Saya merasa sangat aneh dengan hukum di Amerika. Sangat tidak adil ketika ada satu polisi membunuh kena hukuman penjara selama 22 tahun. Sudah begitu, dia kena denda uang ratusan miliar. Ini wujud ketidakadilan kepada polisi. Amerika harus belajar dari Indonesia. Di sini, polisi yang menyebabkan 135 nyawa meninggal bisa bebas. Ini bukti dari penyelidikan perkara yang sangat tajam dan berimbang.

Para hakim di Amerika juga sepertinya perlu belajar dari hakim-hakim di Indonesia. Khususnya dalam mencari penyebab kematian suporter Arema dalam Tragedi Kanjuruhan. Jangan asal mendengarkan ahli atau percaya sains. Kita harus mampu melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain karena saking anehnya. 

Saya kasih contoh. Dalam pertimbangannya, Ketua Majelis Hakim Abu Achmad Sidqi Amsya mengatakan bahwa tembakan gas air mata yang ditembakkan para personel Samapta Polres Malang waktu Tragedi Kanjuruhan hanya mengarah ke tengah lapangan. Meskipun ada bukti video saat gas air mata mengarah ke tribun penonton, pokoknya jangan asal percaya. Ingat, percaya itu ke Gusti Allah, bukan ke bukti video. Sesat itu namanya.

“Menimbang memperhatikan fakta penembakan gas air mata yang dilakukan anggota Samapta dalam komando terdakwa Bambang saat itu asap yang dihasilkan tembakan gas air kata pasukan terdorong angin ke arah selatan menuju ke tengah lapangan,”

Ya! Saya sangat setuju sekali bahwa biang keladi Tragedi Kanjuruhan adalah angin! Mana mungkin para polisi bersalah. Apalagi dia yang memerintahkan menembakkan gas air mata. Kalau tidak angin, gas air mata nggak mungkin mengarah ke tribun, kan? Logikanya itu tolong dipakai.

Jangan mendengarkan pakar! 

Sebelumnya, berbagai pakar dan ahli didatangkan dan menjelaskan perihal bahaya gas air mata, tata kelola tribun, dan penyegelan pintu masuk. Namun, hakim kita tetap teguh menganggap bahwa kematian para suporter karena angin! Logika para hakim ini sungguh luar biasa masuk akal. 

Sekali lagi, kalau tidak ada angin, mana mungkin asap bisa sampai ke tribun. Pasti si asap gas air mata akan tetap di tengah lapangan dan bikin pedih itu mata para pemain. Pasti tidak akan terjadi kisruh di tribun. Meski berdesak-desakan, para suporter tidak akan sesak karena gas air mata. Tragedi Kanjuruhan pasti bisa dihindari dan polisi tidak perlu sampai dijebloskan ke penjara.

Oleh sebab itu, saya mendukung para hakim untuk tidak perlu mendengarkan pakar. Itu para pakar terlalu pintar dan menguasai masalah. Namun, sekali lagi, percaya itu ke Gusti Allah, jangan ke manusia. Namanya sesat!

Aktor intelektual di balik Tragedi Kanjuruhan

Selain mendukung asap sebagai pihak yang jahat di Tragedi Kanjuruhan, saya juga punya teori sendiri yang wajib kalian dengar. Menurut saya, ada aktor intelektual di balik Tragedi Kanjuruhan. Angin itu hanya agen kejahatan saja yang membuat repot para polisi Indonesia yang sudah sangat baik bekerja.

Jadi, setelah melakukan riset berdasarkan keputusan hakim, saya menemukan bahwa ada aktor intelektual di balik Tragedi Kanjuruhan. Ia yang seharusnya diseret ke pengadilan adalah oksigen!

Iklan

Coba bayangkan. Apa yang akan terjadi jika di Stadion Kanjuruhan tidak ada oksigen. Pasti tidak akan ada pertandingan, suporter tidak datang ke stadion, dan para polisi yang baik tidak perlu jadi korban juga. Semua karena oksigen yang memenuhi stadion dan Kota Malang.

Ingat, asap hanya agen kejahatan. Kelak, ketika angin dibawa ke depan pengadilan, para hakim harus bisa menemukan benang merah dari keterlibatan oksigen. Tahukah kamu bahwa nama lain oksigen adalah “si gas pembakar”? Memang, jahat sekali itu oksigen. Ia adalah konspirator yang menyebabkan Tragedi Kanjuruhan.

Polisi Indonesia adalah inspirasi

Nah, sudah terang, bukan kalau polisi itu tidak mungkin berbuat jahat. Mereka sangat baik mengawal pertandingan sepak bola. Bahkan mereka hanya menembakkan gas air mata ke tengah lapangan. Mereka tidak sampai hati menembak gas ke tribun penonton. Oleh sebab itu, mereka adalah inspirasi sejati.

Akhir kata, polisi Amerika seharusnya mencontoh polisi Indonesia. Polisi Amerika ini kurang lihai memanfaatkan jabatan.Padahal, jika saja mereka mau belajar setahun atau dua tahun di Indonesia, para polisi muda di Amerika pasti jago mengucapkan “Halo, dek” dan mempersunting bidan-bidan atau perawat cantik dari Meksiko atau Kanada.

Bravo kepolisian.

BACA JUGA Tragedi Kanjuruhan: Menormalisasi Hal yang Tidak Normal Adalah Mula Malapetaka dan analisis menarik lainnya di rubrik ESAI.

Penulis: Arman Dhani

Editor: Yamadipati Seno

Terakhir diperbarui pada 17 Maret 2023 oleh

Tags: anginArema FCMalangPolisitragedi kanjuruhan
Arman Dhani

Arman Dhani

Arman Dhani masih berusaha jadi penulis. Saat ini bisa ditemui di IG @armndhani dan Twitter @arman_dhani. Sesekali, racauan, juga kegelisahannya, bisa ditemukan di https://medium.com/@arman-dhani

Artikel Terkait

Efek rutin olahraga gym, dulu dihina gendut dan jelek kini banyak yang mendekat MOJOK.CO
Sehari-hari

Efek Gym: Dari Dihina “Babi” karena Gendut dan Jelek bikin Lawan Jenis Gampang Mendekat, Tapi Tetap Sulit Nemu yang Tulus

11 Mei 2026
Kuliah menjadi mahasiswa di PTN PTS Malang bikin merasa tersesat karena fenomena menginapkan pacar di kos hingga kumpul kebo MOJOK.CO
Urban

Kuliah di Malang karena Label Kota Pelajar: Berujung “Tersesat” karena Menormalkan Perilaku Tak Wajar Mahasiswa

4 Mei 2026
Sigura-gura, Malang, slow living.MOJOK.CO
Urban

Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta

11 April 2026
Sarjana Jurusan Agribisnis jualan keripik buah. MOJOK.CO
Sekolahan

Sibuk Jualan Sambil Kuliah daripada Jadi Mahasiswa “Kura-kura”, Lulusan Agribisnis Ini Sukses Dagang Keripik sampai Luar Negeri

11 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pandeglang, Mati-matian Bertahan di Jogja Buat Apa? MOJOK.CO

5 Tahun Merantau, Sadar Kalau Pandeglang dan Jogja Itu Mirip: Tak Ramah Buat Cari Duit, Masyarakatnya pun Pasrah sama Nasib 

17 Mei 2026
Ironi jadi orang tunawicara (bisu) di desa, disamakan seperti orang gila MOJOK.CO

Ironi Orang Tunawicara (Bisu) di Desa: Dianggap Gila, Punya Otak Cerdas Tetap Dianggap Tak Bisa Mikir Hanya karena Sulit Bicara

15 Mei 2026
Anak muda alias gen z dan milenial kini tolak kejar jabatan. MOJOK.CO

Anak Muda Tolak Karier Elite dengan Jabatan Tinggi, Pilih Side Job yang Jamin Gaji Stabil di Masa Kini

19 Mei 2026
Ujian SIM C. MOJOK.CO

Pelajaran Berharga dari Gagal Ujian SIM C Sebanyak 11 Kali: Diam Bukan Pilihan untuk Melawan Hal yang Janggal

18 Mei 2026
Pesan President Jancukers Sujiwo Tejo untuk Mahasiswa Rojali di Jogja MOJOK.CO

Pesan President Jancukers Sujiwo Tejo untuk Mahasiswa Rojali di Jogja

17 Mei 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.