MOJOK.CO Biar nggak kecele dan salah mengira sebuah tulisan satire sebagai sebuah tulisan bodoh biasa, apa yang harus kita lakukan?

Saya pernah mencoba menulis satire—bidang tulisan yang sebelumnya saya yakin betul bahwa tak ada yang bisa menandingi kemampuan Ahmad Khadafi di dalamnya. Percobaan itu berlangsung beberapa kali, tapi yang paling saya ingat adalah soal Super Junior yang menggelar konser di Arab Saudi. Niat hati menyalurkan kekesalan karena selalu saja ada pihak yang menyudutkan Super Junior (dan Kpop secara umum) sebagai ancaman iman, malah berujung tawa dan geleng-geleng kepala gara-gara satire yang gagal sampai.

Netizen di Indonesia—termasuk kita-kita semua—cenderung punya semangat berlebih kalau melihat sesuatu yang tampak bisa didebat. Untuk itulah, para penulis satire harus siap mental dan hatinya kala melihat hasil karyanya digugat sedemikian rupa.  Tenang, nyelekit sedikit aja, kok—masih jauh lebih nyelekit kalau kamu di-ghosting sama gebetan.

Agus Mulyadi, dalam tulisannya soal komentar-komentar di artikel satire, menuturkan kebingungannya soal harus atau tidak harus ikut-ikutan komentar di sebuah artikel yang tampak “bodoh”. Soalnya, siapa tahu artikel itu cuma artikel satire. Bisa-bisa, kalau kita terpancing emosi dan ngomel-ngomel, kitalah yang bakal dicap bodoh dan nggak ngerti satire. Duh, kan malu.

Di lini masa, post di atas menjadi salah satu contoh kasus satire yang berhasil memancing beberapa orang. Iya, seakan-akan di dunia ini nggak cukup ikan yang dipancing, ternyata manusia juga bisa kepancing.

Baca juga:  Tentang Komedi yang Relijius dan Betapa Sialnya Menjadi Perempuan

Dilansir dari Thatcc, satire sendiri terlahir dari orang baik yang tersakiti sejak tahun 1963, yaitu pertama kali digunakan oleh Dave Barry saat menulis untuk Miami Herald Newspaper. Barry semestinya menulis kriminal, tapi lucunya, ia begitu buruknya dalam menyelesaikan pekerjaannya, hingga sang editor merasa sebaiknya tulisan Barry masuk ke dalam rubrik humor.

Sejak saat itu, satire digunakan sebagai senjata untuk menggoda atau menertawakan suatu fenomena oleh beberapa penulis. Dalam perkembangannya, jenis tulisan ini juga pernah mendapat larangan keras beredar, misalnya di Mesir dan Kanada.

Terus, terus, biar nggak kecele dan salah mengira sebuah tulisan satire sebagai sebuah tulisan bodoh biasa, apa yang harus kita lakukan? Biar bisa membedakan candaan murni dan satire, apa yang harus kita tempuh???

Pertama, pastikan kamu mencari tahu apakah ada tanda-tanda tulisan tadi berbau satire, misalnya dengan menemukan kata “satire” disebutkan dalam laman yang kamu buka.

Tak sedikit penulis yang memberikan disclaimer bahwa tulisannya adalah satire belaka—mungkin ia kelewat lelah membaca komentar-komentar yang kian jahat, atau putus asa karena tak seorang pun melihat apa yang sesungguhnya sedang ia maksudkan dalam tulisan. Kasihan 🙁

Kedua, gunakan common sense dengan membandingkan berita yang muncul di situs lain yang (lebih) terpercaya.

Prinsipnya sama kayak kamu kalau lagi belanja baju; pasti mau bandingin harga sama toko sebelah, kan? Nah, daripada langsung kebakaran jenggot atau kebakaran kumis (kalau-kalau kamu nggak punya jenggot), mending kamu mulai membuka situs-situs berita yang lebih tepercaya. Cari berita yang dimaksud—ada nggak? Beneran nggak? Gitu, ya, Jamilah.

Baca juga:  Sarkasme Ahmad Dhani sebagai Sosial Justice Warior

Ketiga, jangan kemakan headline.

Mentang-mentang judul artikelnya mengundang dan heboh, alih-alih mencari tahu kebenarannya, kamu malah memilih untuk langsung memberikan reaksi keras pada artikel yang dimaksud. Padahal, itulah kunci artikel satire; mengundang sejak dalam headline. Menggelitik sejak dalam pikiran. Menertawakan sejak paragraf pertama.

Keempat, kenali penulis atau situs tempat kamu menemukan tulisan tadi.

Sebagai contoh, kalau kamu membaca nama penulis “Joko Widodo” dan “Agus Mulyadi”, tentu kesannya berbeda, kan? Lihat-lihat juga situs tempat tulisan itu dimuat. Apakah situs dan penulis tadi punya riwayat artikel atau tulisan satire? Kalau memang iya, ngapain situ harus repot-repot marah-marah?

Maksud saya, kalau kamu nemu tulisan “bodoh” dan “aneh” itu di laman situs Mojok, ya masa kamu harus terkejut-kejut lagi, sih?!

BACA JUGA Sarkasme dan Satire: Duo Majas Sindiran yang Beda Level atau artikel Aprilia Kumala lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles