MOJOK.COMojok Institute melakukan sensus kepada Netizen Twitter, Facebook, dan Instagram untuk mengetahui pendapat mereka mengenai pengalaman mereka menjadi pelaku/korban ghosting.

Coba kamu bayangkan seseorang. Bisa jadi pacarmu (kalau punya) atau gebetanmu (kalau punya) kalau ngggak punya dua-duanya, cari dulu sanaaa, hidup kok tuna asmara wqwq.

Kamu sangat dekat dengan dia. Setiap hari berbalas pesan, tiap minggu diajak jalan, tapi suatu hari pesan mu yang isinya “selamat pagi” atau “kamu lagi apa?” yang biasanya berujung pembicaraan panjang sampai tengah malam, tidak dibalas sama sekali.

Kamu tunggu sejam, dua jam, semalaman, lalu seharian. Awalnya kamu masih berpikiran positif. “Mungkin lagi sibuk” atau “Mungkin hpnya lagi mati”. Tapi setelah berhari-hari kemudian, kamu masih tidak mendapatkan balasan meskipun sudah mengirimkan puluhan pesan khawatir yang isinya pertanyaan apakah dia baik-baik saja.

“Mungkin dia hanya ingin waktu untuk sendirian” Katamu.

Tapi kamu salah. Dia tidak sibuk atau tidak sedang ingin sendirian karena aktivitas di medsosnya ternyata baik-baik saja. Lagipula, alasan “mungkin dia sedang sibuk” adalah alasan yang goblok karena kamu  tahu betul kalau seseorang perduli, dia akan selalu meluangkan waktu untuk setidaknya membalas pesan-pesanmu.

Akhirnya kamu mau-nggak mau-harus menerima kalau kamu sedang jadi korban ghosting—-sesuai namanya, korban hantu! Karena cuman hantu yang bisa mengevaporasi alias menghilang di udara begitu saja tanpa penjelasan apa-apa. Karena hanya orang yang mati yang tidak bisa kembali untuk memberikan penjelasan kenapa dia pergi. Kamu lau sedih sekali karena kamu seperti sedang dihapus dari ingatan orang itu yang membuat seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa di antara kalian.

Seram? Oooo jelas. Tapi ini bukan cerita hantu. Ini cerita betulan. Dan sering terjadi di kota-kota besar huahaha.

Fenomena ghosting alias mengakhiri sebuah hubungan dengan memotong semua komunikasi tanpa penjelasan, dan memberikan silent treatment setelah merasa punya ikatan emosional ternyata dirasakan banyak orang lho. Yha betuul~ Katanya, hampir 25% manusia pernah menjadi pelaku/korban ghosting.

Dibanding ngasih penjelasan, kita (hah, kita??) konon lebih suka ngeghosting aja. Artinya, daripada melakukan konfrontasi terhadap pasangan, kita lebih suka cari aman dengan menghilang dan menunggu orangnya “sadar” dan “menerima” kalau kita ingin meninggalkan dia. Hadehhhhh.

Baca juga:  Curhat Punya Pacar yang Cuek

Tapi apakah benar tujuan dari ngeghosting hanya untuk menghindari konfrontasi aja? Untuk menjawab hal ini, Mojok Institute melakukan sensus kepada Jamaah Mojokiyah di seantero sosmed yang pernah jadi pelaku/korban ghosting. Sebenarnya apa sih yang mereka rasakan sampai-sampai jadi pelaku—dan ngerasa jadi korban ghosting?

Hasil Sensus

Pengakuan Pelaku Ghosting

Saya ngeghosting orang karena pengin menghindari konflik. Kalau saya terang-terangan mengatakan tindak ingin melanjutkan hubungan dengan seseorang, kami bisa jadi bertengkar dan dia akan menyimpan dendam kepada saya apalagi kalau tahu alasan saya pergi adalah bosan. Pacar/gebetan saya seram kalo marah je. (hadehhh, surem).

Saya ngeghosting karena ngerasa nggak nyaman ketika ngomongin perasaan saya yang sebenarnya kepada dia. Jadi ya ngilang lebih gampang. (Terus qm mikirin perasaan pasangan qmu nga??? Hem??).

Saya ngerasa nggak cocok sama pacar/gebetan saya, jadi daripada dilanjutin komunikasi dia malah ge er dan ngerasa kalau saya suka sama dia, jadi ya lebih baik saya ngilang sekalian. (Kalau nga cocok ngapain jadian/deketin sejak awal, Maliiiiih).

Saya ngeghosting biar dia sadar kalau saya bukan yang terbaik buat dia… Dia layak dapat orang yang jauh lebih baik dari saya :’( (betul tuch, yang nga punya rasa percaya diri kayak gini emang nga layak dipertahankan, gaesss).

Saya trauma sama hubungan saya sebelumnya, dan merasa nggak siap buat bikin komitmen baru. Jadinya, lebih baik saya ngilang aja. (yang kaya gini nich, masa lalu terus dibawa-bawa, harusnya move on dong mz/mb melihat ke depan agar supaya…. nggak tau agar supaya apa, yang penting agar supaya dulu aja dech).

Lah, kalau belum jadian ya nggak usah ngasih penjelasan ya nggak apa-apa. Ngomong putus/berpisah/pengin udahan itu ya cuman buat yang resmi pacaran. Kalau masih gebetan ya nggak punya kewajiban. (o gitu.. asem bener, dikiranya perasaan orang itu bisa ditinggal gitu aja… Kalau gitu, masih mending jadi jemuran, dong. Kalau ditinggal/kelupaan kita masih tetap berusaha keras untuk menyelamatkan mereka…)

Baca juga:  Generasi Z Ternyata Lebih Suka Olahraga Ketimbang Generasi Milenial

Pengakuan Korban Ghosting

Ketika saya ditinggalkan begitu saja tanpa penjelasan, saya ngerasa seperti seorang idiot. Atau apalah itu orang yang sangat bodoh. Saya juga merasa sangat tidak dihargai. Ya bayangin aja, ngerasa udah punya hubungan yang kuat, terus tiba-tiba harus bertindak seakan tidak pernah terjadi apa-apa… (emang tuman yang suka ghosting itu :’( )

Pas tahu saya jadi korban gosting, saya ngerasa seperti kena pukulan di dada. Saya sangat marah. Saya mungkin bisa saja move on begitu saja seperti yang dia lakukan kepada saya. Tapi, saya jadi kehilangan kepercayaan terhadap orang lain. Saya juga jadi mempertanyakan apakah saya manusia yang sangat buruk—yang sampai-sampai nggak layak buat dapat penjelasan kenapa saya ditinggalkan. (mb/mz ingatlah kalau kalian dighosting, yang bermasalah itu orangnya, bukan kalian huhu ☹ )

Dari yang asalnya chattingan dan ketemu setiap hari terus tiba-tiba nggak ada kabar apa-apa saya sempat ngerasa sangat sangat hampa. Sampai sekarang saya masih sering terus memikirkan orangnya. Susah sekali untuk move on rasanya ☹ (sedi ☹ tapi harus move on karena orang yang tidak menghargai pesan-pesan dan pertemuan yang kita berikan sebelumnya tidak layak menerima kebaikan kita lagi :’)

***

Jawaban terbaik:

Seperti biasa, ini adalah jawaban terbaik versi Mojok Institute yang berhak mendapatkan hadiah:

CapungsawahhBoro-boro ngilang. Ada yg dateng juga nggak.
Dnr_daughterMuncul dan memberi harapan. Aku bangun pondasi yang kokoh biar gak terlena. Tapi kemudian dia serang dengan serangkaian janji manis dan “cahaya pertolongan”. Lalu pondasi runtuh perlahan, hingga akhirnya pertahanan roboh. Aku katakan iya, saat dia tiba tiba menghilang. Bangke, aing katipu.

Setelah mendengar pengakuan pelaku/korban ghosting, apa kalian masih tetap tega melakukan hal jahat seperti itu? Ya ojok reek. Mesaknee.

Lagian harus inget loh kalau ada karma! Tar kalau suka ghosting bisa-bisa kena azab seumur hidup nggak bisa pesan gofood karena sama bapak gojeknya orderannya dibawa kabur setiap setelah ngechat “Sesuai aplikasi ya, kak? Mohon ditunggu”.



Loading...



No more articles