Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Seni

Gamelan Jogja Dijauhi Anak Muda Daerah Sendiri karena Dianggap Mistis tapi Diminati di 7 Kota Prancis

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
22 April 2024
A A
gamelan jogja di prancis.MOJOK.CO

Ilustrasi gamelan (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di Jogja, anak muda dan orang awam kerap membicarakan gamelan dengan konotasi mistis dan magis. Di sisi lain, gamelan Jogja justru dinanti di Prancis.

Sudaryanto, pegiat komunitas gamelan Jogja Gayam 16, mengungkapkan keresahannya mengenai alat musik tradisional yang sering dikait-kaitkan dengan pengalaman mistis. Baginya, gamelan memang alat musik yang sakral.

“Memang di awal kehadiran gamelan itu sebagai sarana meditasi dan sarana ibadah bukan untuk hiburan. Tapi itu hanya media saja, bukan tujuan utamanya,” katanya kepada Mojok, Minggu (21/4/2024).

Menurutnya banyak mitos yang menyelimuti gamelan Jogja. Seperti halnya cerita seputar suara gamelan tengah malam. Ia sering mendengar bahwa itu dianggap penanda bahwa seseorang sudah diterima untuk tinggal di Jogja Mengenai itu, Mojok pernah membuat liputan Mengungkap Mitos Suara Gamelan Tengah Malam di Jogja.

Hal semacam itu menjadi tantangan lantaran orang kemudian menganggap gamelan menjadi sesuatu yang keramat. Anggapan semacam ini membuat anak muda menjauh dari instrumen musik tradisional ini.

Lelaki yang juga lama berkecimpung di Festival Gamelan Yogyakarta ini mengaku cara memposisikan gamelan sebagai sesuatu yang sakral, jika berlebihan, justru membatasi anak muda untuk menyukainya. “Baik secara organologi maupun secara musikal,” tuturnya.

“Anggapan klenik itu membentuk pikiran seseorang bahwa gamelan itu harus mistis, kudu prihatin, begitu-begitu,” imbuhnya tertawa.

Gamelan Jogja dianggap mistis di tempat sendiri tapi banyak peminat di Prancis

Saat anggapan mistis itu menyelimuti anak muda Jogja, lawatan Sudaryanto dan tim komunitas Gayam 16 ke Paris dan beberapa kota di Prancis pada 3 Maret hingga 5 April 2024 lalu justru mendapat sambutan. Ia melihat bahwa di Prancis, baik komunitas seniman maupun awam punya ketertarikan dengan musik etnik ini.

Sudaryanto bersama lima anggota Gayam 16 mendarat di Barcelona, Spanyol. Lalu melakukan tur dari Prancis Selatan menuju berbagai kota lain di Negeri Mode tersebut.

pementasan gamelan jogja.MOJOK.CO
Komunitas Gayam 16 bersama Koa Art Collective saat pentas di Prancis (Dok. Sudaryanto)

Mereka datang berkat kolaborasi dengan Koa Art Collective, sebuah kolektif seni di Prancis, yang kebetulan beberapa tahun lalu pernah melakukan lawatan ke Indonesia. Tur Gayam 16 membawa gamelan Jogja di Prancis 2024 ini merupakan yang kedua setelah 2021 silam.

“Relasi dengan kolektif Koa dan komunitas seni di Prancis sebenarnya sudah lama terjalin berkat alm Pak Sapto Raharjo (seniman gamelan),” kata Sudaryanto.

Pada kunjungan 2024 ini, Sudaryanto dan rekan-rekannya melakukan workshop dan pementasan di Kota Montpellier, Carcassone, Avignon, Marseille, Paris, hingga Touluse. Saat pementasan, menurut Sudaryanto, audiens yang hadir cukup beragam. Mulai dari kalangan anak sekolah, umum, pegiat seni, hingga komunitas WNI di Prancis.

“Secara umum mereka itu tertarik dengan gamelan. Sambutannya hangat. Mereka tertarik karena mungkin sudah bosan dengan musik western, yang etnik seperti gamelan jadi menarik perhatian,” terangnya.

Suaranya menarik perhatian walaupun banyak yang belum kenal dengan Indonesia

Saat melakukan workshop di berbagai kota, Sudaryanto menemukan fakta menarik. Ia mendapati, banyak anak sekolah di tingkatan dasar hingga menengah yang bahkan belum mengenal Indonesia.

Iklan

Jika bicara negara Asia Tenggara dan sekitarnya, mereka lebih familiar dengan Bangkok Thailand, Vietnam, dan Australia. Sehingga, para anggota komunitas Gayam 16, sebelum mengenalkan gamelan Jogja, lebih dahulu memberikan pemahaman tentang budaya Indonesia.

Selama di Prancis, Sudaryanto juga mengaku menemukan berbagai fakta menarik. Sebenarnya, gamelan sudah eksis lama dibawa oleh komunitas Indonesia yang ada di sana. Namun, sebagian kondisinya tak terawat dengan baik.

“Bahkan, ini boleh tidak percaya, tapi perawatan gamelan di Indonesia dengan di Prancis yang punya empat musim itu berbeda,” terangnya.

Menurutnya, gamelan di Prancis juga perkembangannya belum semasif di beberapa negara lain seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda. Namun, lawatan kedua komunitas Gayam 16 ke Prancis ini baginya menyadarkan bahwa potensi peminat alat musik tradisional ini sebagai hiburan cukup besar. Di Indonesia, salah satu pekerjaan rumah besarnya adalah membongkar sekat kemistisan agar anak muda lebih bisa dekat dengannya.

Penulis: Hammam Izzuddin

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGAPengrawit Mengungkap Misteri Suara Gamelan Tengah Malam yang Didengar Warga dan Pendatang di Jogja

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 22 April 2024 oleh

Tags: gamelangamelang jogjagayam 16Jogjaprancis
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO
Aktual

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO
Pojokan

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

26 April 2026
Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO
Aktual

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026
Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya Mojok.co
Pojokan

Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya

24 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beri tip ke driver ojol. MOJOK.CO

Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau

28 April 2026
Kenaikan harga plastik bikin UMKM menjerit. MOJOK.CO

Ekonom UMM Berikan Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik

30 April 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan

29 April 2026
Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat MOJOK.CO

Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat

27 April 2026
Tidak install game online seperti Mobile Legend (ML) buat mbar di tongkrongan dianggap tidak asyik dan tidak punya hiburan MOJOK.CO

Tak Install Mobile Legend untuk Mabar di Tongkrongan: Dicap “Tak Gaul” dan Kosong Hiburan, Padahal Hiburan Orang Beda-beda

25 April 2026
Romantisasi bunuh diri di Jembatan Cangar Mojokerto harus dihentikan MOJOK.CO

Ironi Jembatan Cangar Mojokerto: Berubah Jadi Titik Bunuh Diri Gara-gara Salah Kaprah Diromantisasi hingga Menginspirasi

24 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.