MOJOK.CO Bagaimana bisa kalian ini masih saja menyamakan antara sarkasme dan satire? Bolos pelajaran Bahasa Indonesia, ya?

Di tengah-tengah keadaan politik Indonesia yang kian serupa dengan air panas yang umub dan mendidih, tulisan-tulisan kritik berwujud satire pun mulai banyak bermunculan. Jenis tulisan ini sering kali dipahami sebagai bentuk ketidaksetujuan terhadap sesuatu sehingga kerap ditanggapi dengan defensif bagi sebagian pihak.

Tapi, mentang-mentang berbau kritik, tulisan satire sering disebut sebagai bentuk sarkasme—alias sarkas oleh beberapa orang. Loh, loh, loh, tunggu sebentar—sejak kapan sarkasme dan satire itu bermakna sama, mylov???

Jadi, begini, Teman-teman sekalian: hanya karena sarkasme dan satire sama-sama berawalan huruf ‘s’ dan sering diasosiasikan dengan kritik, bukan berarti kedua kata ini saling menggantikan satu sama lain. Bahkan, sadar atau tidak sadar, kita telah mempelajari soal sarkasme dan satire sejak SMP, lebih tepatnya di mata pelajaran Bahasa Indonesia, mengenai jenis-jenis majas.

Benar: baik sarkasme maupun satire adalah nama dari majas yang digunakan untuk menyindir dan mengejek. Setidaknya, ada 5 majas yang digunakan untuk menyindir, dengan sarkasme dan satire menjadi dua di antaranya. Kelima majas sindiran ini adalah:

1. Majas Ironi

Majas ini adalah majas sindiran dengan level paling bawah alias nggak-ngeselin-ngeselin-banget. Ciri-cirinya, ia menggunakan kata-kata yang bertolak belakang dengan makna sebenarnya.

Baca juga:  Sarkasme Ahmad Dhani sebagai Sosial Justice Warior

Contoh: “Wah, kamu rapi banget, ya, orangnya. Kamarmu saja sampai terlihat seperti kapal pecah!”

2. Majas Sinisme

Berniat menyindir sesuatu secara kasar? Gunakan majas yang satu ini. Umumnya, ia dipakai untuk mengkritik suatu keadaan/ide.

Contoh: “Yakin, nih, kamu tanya ke aku? Kukira kamu orang yang tahu segalanya.”

3. Majas Innuendo

Bernama agak nyentrik, majas yang satu ini ternyata merupakan gaya sindir-menyindir yang dilakukan dengan cara mengecilkan fakta yang sebenarnya.

Contoh: “Jangan takut disunat, ya. Sakitnya cuma seperti digigit semut, kok.”

4. Majas Sarkasme

Majas yang satu ini adalah majasnya para majas sindiran (uoppppoooo!) alias majas sindiran dengan level dewa karena secara blak-blakan menunjukkan keengganan terhadap sesuatu.

Contoh: Dasar sok tampan! Kau pikir wanita-wanita itu akan menyukaimu hanya karena kau jadi pemimpin di sini? Bodoh sekali kamu!

5. Majas Satire

Mirip-mirip dengan sarkasme, majas yang satu ini cenderung menggunakan ungkapan untuk menyindir, alih-alih kata-kata kasar dan keras.

Contoh: “Harga gula sedang mahal sekali, ya? Sungguh, deh, kopi ini pahit sekali!”

Lagi pula nih, ya, kalau kita mau bergerak sedikit, minimal membuka KBBI daring yang kini sudah mudah diakses (asalkan punya kuota dan paket data), kita pun bisa melihat betapa definisi kedua kata ini berbeda.

Dikutip dari KBBI, berikut adalah makna yang dikandung kata sarkasme dan satire.

sarkasme: (penggunaan) kata-kata pedas untuk menyakiti hati orang lain; cemoohan atau ejekan kasar

Baca juga:  Sinisme untuk Jogja

satire: gaya bahasa yang dipakai dalam kesusastraan untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang; sindiran atau ejekan

Dari definisinya saja, sudah terlihat bedanya, bukan, Gaes-gaesku? Jika satire merupakan gaya bahasa dalam tulisan yang tujuannya untuk nyindir, sarkasme malah lebih keras dan jahat lagi: terang-terangan digunakan untuk menyakiti hati orang lain. Dengan demikian, bagaimana bisa kalian ini masih saja menyamakan antara sarkasme dan satire? FYI aja nih: di dunia ini, toh tidak ada yang suka disama-samakan oleh sesuatu. Buktinya, kalau ada yang bilang “Semua cowok sama saja!”, situ pasti protes, kan? Hmm?

Ibaratnya, kalau satire adalah ayam geprek dengan kepedasan level 5, sarkasme berada di level 25. Ibaratnya lagi, kalau satire adalah pertengkaran kecil dalam pacaran yang masih bisa dibicarakan baik-baik, sarkasme adalah selingkuh terang-terangan dan tak termaafkan. Pedas!

Komentar
Kirim Artikel
No more articles