Saya adalah pengguna sosial media kebanyakan, yang responsif bahkan cenderung impulsif saat tahu ada hal yang bodoh dan salah (setidaknya menurut diri saya sendiri) yang dibuat oleh siapa saja yang muncul di temlen.

Kemarin, misalnya, seseorang menulis tentang bobroknya pemilu dengan membandingkan biaya pemilu 2019 dengan pemilu 2014.

Dia menulis pemilu 2014 hanya menghabiskan 7,9 triliun, sedangkan pemilu di tahun 2019, menghabiskan uang 24,9 triliun. Hal tersebut masih ditambah dengan embel-embel penggunaan kotak kardus yang semakin menambah narasi betapa bobroknya pemilu di era Jokowi ini.

Tentu saja saya impulsif dan langsung seperti menemukan medan perang yang baru.

Pernyataannya tentang dana pemilu tentu saja salah besar. Yang ia tulis sebagai 7,9 triliun itu lebih tepatnya bukanlah pemilu 2014, melainkan Pilpres 2014. Sedangkan Pemilu 2014 seharusnya juga menghitung dana Pileg yang juga dilakukan pada tahun yang sama dan hanya selisih tiga bulan.

Padahal uang 24,9 triliun yang ia tulis sebagai biaya pemilu 2019 merupakan gabungan antara Pilpres dan Pileg (karena memang dilaksanakan bersamaan).

Dari perbandingan saja sudah sangat salah.

Jauh sebelumnya, saat masa debat Pilpres, seorang pemilik akun bernama ‘CakKhum’ membagikan sebuah video yang berisi pernyataan Jokowi tentang korupsi.

“Korupsi kita di tahun 1998, itu negara kita terkorup di Asia, indek persepsi korupsi kita saat itu 20, saya ingat betul KPK mengatakan ini” begitu kata Jokowi dalam video tersebut.

Dalam video itu, pernyataan Jokowi dijadikan guyonan dan disebut sebagai kebohongan sebab KPK baru lahir pada tahun 2002.

Sekali lagi, saya kembali menemukan medan pertempuran yang baru.

Menganggap omongan Jokowi sebagai kebohongan hanya karena mengutip pernyataan KPK tentang peristiwa yang terjadi sebelum KPK lahir tentu adalah sebuah hal bodoh tersendiri.

Logikanya begini: Saya punya buku RPUL. Di dalamnya ada daftar juara All-England dari tahun 1900. Padahal RPUL saya itu terbitan 1998. Lalu, apakah kemudian RPUL saya bohong? Tentu saja tidak.

Lebih jauh lagi, saya pernah menemukan postingan dari salah seorang pendukung Jokowi yang benar-benar mengukur ketipisan tempe hanya untuk membuktikan omongan Sandiaga yang mengatakan bahwa ukuran tempe jaman sekarang ada yang setipis ATM.

Sosial media penuh kebodohan. Dan sayangnya, kita terpaksa harus selalu menjadi penontonnya. Lebih buruk lagi, kita berpotensi untuk menjadi pelakunya.

Saking banyaknya kebodohan, sampai-sampai saya bingung membedakan mana kebodohan yang benar-benar bodoh, dan mana kebodohan yang sengaja dibikin satire.

Di facebook kemarin, seorang kawan di twitter membikin guyonan tentang website KPU yang dihack oleh hacker dengan menampilkan tampilan aplikasi MiRC. Tentu saja itu sindiran belaka.

Namun ternyata, postingan kawan saya itu kemudian diposting di Facebook oleh seseorang dan kawan saya dianggap bodoh karena tidak bisa membedakan mana tampilan website yang dihack dengan tampilan MiRC. Padahal jelas-jelas kawan saya (yang saya tahu orang orang cukup kompeten di bidang IT) hanya guyon satire belaka.

Menjadi sangat aneh ketika sebuah konten satire, mendapat komentar yang menyakitkan dari pembacanya, komentar tersebut kemudian dibalas sama orang lain yang memberitahu bahwa itu adalah artikel satir. Orang yang komen pertama yang mungkin malu karena kelihatan bodohnya sebab tidak sadar kalau yang dibaca adalah artikel satir kemudian membalas balasan komentar tersebut dengan “komenku tadi sebenarnya juga satir, kok!”.

Rangkaian peristiwa itu kemudian membuat saya kerap tidak berani mengomentari postingan bodoh, saya takut, postingan bodoh tersebut sebenarnya hanya satire dan nanti justru saya yang dianggap bodoh.

Ah, kebodohan kok bisa rumit begini, ya.