MOJOK.CO “Kalau sekarang gaji guru sedikit, apalagi guru honorer, nikmati saja, nanti masuk surga,” gitu kata Pak Muhadjir.

Sebelum jadi penulis, saya adalah seorang guru SD. Pekerjaan ini, harus diakui, nggak mudah-mudah amat dilakukan, khususnya dalam menghadapi dua hal: omongan orang dan gaji yang—ya gitulah.

Biar saya beri tahu: poin kedua—soal gaji guru—bagi saya, jauh lebih bikin pusing daripada omongan orang. Tapi, sebelum saya kasih tahu kenapa saya pusing, saya ingin menceritakan hal yang lain.

Dikutip dari Detik, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, menyampaikan sebuah pernyataan yang membuat saya flashback ke masa lalu. Dalam sambutannya untuk Peringatan Hari Guru Internasional 2019, beliau menyampaikan bahwa guru adalah golongan yang beruntung karena bisa memiliki amal jariyah berupa ilmu yang bermanfaat. Jika si guru mengajarkan pengetahuan pada murid-muridnya, sementara murid-muridnya kembali mengajarkan ke anak-anaknya kelak, tentu guru bakal mendapatkan pahala.

Lebih lanjut, Muhadjir berkata, “Saya agak yakin, bahwa orang yang pertama masuk surga itu adalah guru. Kalau sekarang gaji guru sedikit, apalagi guru honorer, nikmati saja, nanti masuk surga.”

Wow, wow, wow, tunggu sebentar Pak Muhadjir. Tunggu sebentar.

Pertama, keyakinan Bapak bahwa guru bakal masuk surga mungkin bisa kita artikan sebagai doa. Tapi, bagaimana bisa Bapak meminta para guru yang gajinya sedikit untuk “nikmati saja”???

Baca juga:  Meraih Sukses lewat Stres Bersama Muhadjir Effendy

Dulu, saat menjadi guru SD, saya dibayar per pertemuan setiap kali meng-handle satu kelas di sekolah. Dengan durasi satu setengah jam, saya mendapat 25 ribu rupiah. Alhamdulillah.

Tapi, “Alhamdulillah” saya kadang-kadang berubah jadi “Astagfirullah” waktu keluar dari tempat fotokopian. Mau tahu kenapa?

Anak-anak SD, terutama anak-anak kelas 1B di tempat saya ngajar, hobinya adalah mengikuti kegiatan menyambungkan titik-titik menjadi gambar utuh, untuk kemudian diwarnai. Aktivitas ini serupa obat penenang, soalnya mereka jadi anteng dan manis-manis sekali, ketimbang disuruh ngerjain tugas di buku tulis.

Oh, dan mereka suka sekali saat saya membawa media yang unik, misalnya kue ulang tahun palsu yang saya buat dari kertas, gambar binatang, dan lain sebagainya. Dasar anak-anak kelewat modern, hal-hal sederhana itu justru menjadi apa yang mereka tunggu-tunggu dalam pelajaran bahasa Inggris.

Demi mengikuti mood mereka agar kegiatan belajar mengajar berjalan lancar, sesekali saya menyediakan kertas-kertas aktivitas ini sendiri. Batin saya, ini kan demi generasi masa depan Indonesia!!!!11!!1!!!!

Tapi, tahukah kamu berapa tagihan yang harus saya bayar ke mas-mas fotokopian? Totalnya adalah 27 ribu rupiah.

Iya, saya ingat betul, siang itu saya menghabiskan 27 ribu rupiah, padahal bayaran saya cuma 25 ribu rupiah. Belum lagi, di tempat parkir, saya kudu bayar—berkurang lagi 2 ribu rupiah.

YA TUHAN, SAYA NOMBOK 4 RIBU RUPIAH UNTUK SATU KALI SESI NGAJAR!!!!1!!!!1!!!!!

Baca juga:  Karena Memberi Sumbangan di Jalan Raya adalah Amal yang Membahagiakan

Di titik ini, saya jadi membayangkan kembali kalimat Pak Muhadjir: gimana bisa saya menikmati hidup kalau dalam sehari uang saya langsung ludes, bahkan nombok??? Gimana, Pak???

Seorang guru honorer tak melulu mendapat gaji guru UMR. Kadang, jumlah yang didapat ada di kisaran 300 hingga 500 ribu rupiah, meski ada pula yang “beruntung” memperoleh 1 juta rupiah dalam 1 bulan.

Dengan gaji di bawah UMR, guru-guru ini bukan lantas menolak untuk bersyukur, tapi—ayolah—kalimat “Nikmati saja, nanti masuk surga” itu kan kalimat yang konyol banget, apalagi dikeluarkan oleh orang sekelas menteri. Ini, jujur saja, sama konyolnya dengan berita bulan Januari lalu yang menyebutkan Presiden Jokowi kaget mengetahui gaji guru masih sangat rendah.

Maksud saya, memangnya kalaupun kita dijamin masuk surga meski gaji guru rendah, di Planet Bumi ini kita nggak perlu pontang-panting mikirin tagihan dan tabungan atau gimana, sih???

Tolonglah, sampai kapan sih kita harus berlindung di balik ungkapan “guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa” atau “guru adalah profesi yang bakal mendapatkan amal jariyah”? Mau sampai kapan Pemerintah memuji-muji jasa guru, tapi nggak dibarengi dengan aksi nyata untuk meningkatkan kesejahteraan dan gaji guru?

Heran. Tanpa guru, sekarang situ juga nggak bakalan punya gaji besar, Pak, Bu.

BACA JUGA Guru yang Berjuang, Guru yang Diperjuangkan atau artikel Aprilia Kumala lainnya.