Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Komen Versus

Bedanya Nikah dan Kawin: Mana yang Duluan?

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
31 Desember 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Selama ini, kata kawin dianggap bermakna lebih negatif dibandingkan kata nikah. Benarkah hubungan kata nikah dan kawin sesederhana itu?

Kawan saya memulai usaha percetakan undangan pernikahan awal tahun ini. Sebagaimana undangan pernikahan pada umumnya, di katalog produk-produknya kata “Undangan Pernikahan” selalu tercetak rapi dan manis, mengundang celetukan yang menggelitik: “Diundangnya ke acara pernikahan, tapi kok status di KTP jadi kawin, ya, bukan nikah?”

Iklan

Penggunaan kata nikah dan kawin yang seolah-olah bersifat seperti Jono dan Lono—kembar tapi beda (maaf, tapi saya sekalian tes umur)—ini terus memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Samakah nikah dan kawin itu? Apakah kedua kata ini diserap dari bahasa yang sama? Terus, arti sesungguhnya itu apa?

Yang selama ini beredar di masyarakat, kata kawin sering kali dianggap bermakna lebih negatif dibandingkan kata nikah. Ia kerap digambarkan sebagai hubungan biologis laki-laki dan perempuan, sedangkan nikah merupakan upacara resmi terjalinnya tali suami dan istri di hadapan penghulu. Nah, nah, benarkah demikian, Ferguso???

*jeng jeng jeng*

Jika beredar anggapan bahwa kawin harus dilakukan setelah nikah, ada ulasan kebahasaan yang mungkin bisa menambah kekayaan perspektif kita hari ini (halaah!). Dirunut dari segi kebahasaan, jalan cerita kata nikah dan kawin adalah sebagai berikut:

1. Bahasa Sansekerta menjadi garis start

Dalam bahasa Sansekerta, terdapat kata vini JKT48 yang berarti ‘membawa pergi’, ‘melatih kuda’, atau ‘menyiksa’. Setelah diturunkan ke bahasa Jawa Kuno, kata ini berubah menjadi hawin atau awin, yang mekananya adalah ‘membawa’ atau ‘memboyong’. Seiring berjalannya waktu, kata awin mendapat imbuhan ka (ka-awin), dan membuatnya berarti ‘dibawa’ atau ‘diboyong’. Konon, kata vini inilah yang menjadi cikal bakal kata bini di Betawi.

2. Muncul kata serapan dari bahasa Arab

Usut punya usut, kata nikah berasal dari bahasa Arab dan merupakan serapan dari kata benda an nukh yang memiliki kata kerja nakaha. Makna asli kata ini sendiri adalah ‘berkumpul’, ‘berhimpun’, atau ‘berhubungan seksual/menyetubuhi’.

Seorang ahli bahasa Arab juga pernah menyebutkan bahwa an nukh merupakan kata yang merujuk pada organ kemaluan. Soalnya, di Arab, istilah nukah al Mar’atu sendiri bermakna ‘organ kewanitaan’, sehingga nakaha al mar’ata berarti ‘menggauli organ kewanitaan’. Sementara itu, istilah yang ‘lebih halus’ ditunjukkan dengan penggunaan kata zauwj (yang sering kali diterjemahkan sebagai kata kawin) karena berarti ‘berpasangan’ dan ‘menyatu dalam ikatan perkawinan’.

3. Menjadi istilah dalam bahasa Indonesia

Merujuk pada KBBI, definisi kata kawin ternyata lebih banyak daripada kata nikah. Jika kata nikah digambarkan dengan definisi berikut:

ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama,

kata kawin pun dimaknai sebagai berikut:

– membentuk keluarga dengan lawan jenis; bersuami atau beristri

– melakukan hubungan kelamin; berkelamin (untuk hewan)

– bersetubuh

– perkawinan

Hmmm, agak-agak berbeda dengan sejarah kata sebelumnya, ya, gaes-gaesku???

Entah bagaimana, dalam perkembangan di antara kita (hah, kita???) kata kawin justru harus pasrah karena mendapat cap negatif yang seolah-olah hanya bermakna soal persetubuhan saja. Padahal, mungkin, berkat asal-usul kata tadi, kita bisa memahami mengapa UU Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan menggunakan kata perkawinan, bukan pernikahan. Bisa jadi, itu pula sebabnya mengapa status di KTP-mu dituliskan sebagai kawin, alih-alih nikah.

Iklan

Tapi, yah, sekalipun ada salah kaprah dalam perjalanan kata nikah dan kawin, semestinya kita semua sadar: kesalahan memang tak bisa dihindari dari apa dan siapa pun di dunia ini. Kuncinya cuma ada di diri kita sendiri: menolerir rasa sakit akibat kesalahan itu atau tidak.

Loh, loh, loh, ini lagi ngomongin apa, sih???

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2021 oleh

Tags: an nukhawinbedanya nikah dan kawinbiniperkawinanpernikahanUU Nomor 1 Tahun 1974vini
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Penyesalan Saya Menerima Tawaran Bridesmaid dari Mantan Sahabat, Peran Paling Tak Berguna dalam Sebuah Pernikahan MOJOK.CO

Penyesalan Saya Menerima Tawaran Bridesmaid dari Mantan Sahabat, Peran Paling Tak Berguna dalam Sebuah Pernikahan

31 Juli 2026
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO

Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”

8 April 2026
Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Saat banyak teman langsungkan pernikahan, saya pilih tidak menikah demi fokus rawat orang tua MOJOK.CO

Pilih Tidak Menikah demi Fokus Bahagiakan Orang Tua, Justru Merasa Hidup Lebih Lega dan Tak Punya Beban

15 Desember 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

ilustrasi - pekerja (Ega Fansuri/Mojok.co)

Pelarian Laki-laki Burnout usai Dihantam Pekerjaan tapi Dipaksa Kuat karena Tuntutan Kepala Keluarga Ideal

20 Agustus 2026
Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

22 Agustus 2026
JPPI, MBG, buku siswa sekolah.MOJOK.CO

RAPBN 2027: Anggaran Pendidikan Tersandera Rp240 Triliun demi Program yang Tak Penting

17 Agustus 2026
Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

21 Agustus 2026
Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap MOJOK.CO

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap

21 Agustus 2026
Minus punya rumah di sekitar Jalan Tunjungan, Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Jujur Janggal, Saat Orang Lain Bilang Punya Rumah di Pusat Kota Surabaya Itu Menguntungkan

19 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.