• 1.1K
    Shares

MOJOK.CO – Jangan salah, orang yang paling ingin membunuh Rasulullah dulu hampir semuanya pakai nama Arab juga lho, Sis.

Bahagia sekali rasanya, satu per satu sohibul hijrah sudah menemukan pasangan hidup mereka. Membangun rumah tangga, memiliki buah hati unyu nan menggemaskan. Tapi namanya kehidupan, kebahagiaan selalu hadir bersama kesedihan. Ketika berkenalan dengan anak-anak sohibul hijrah itu, mendadak saya mengalami krisis identitas dan kebingungan geografis.

Lingkar pertemanan saya mungkin kecil, tapi bisa dipastikan 9 dari 10 anak yang lahir di lingkaran teman pengajian saya itu diberi nama dalam Bahasa Arab. Like, 100% in Arabic, bahkan tidak hanya awalan “Muhammad” yang begitu lumrah untuk anak laki-laki. Bukan, bukannya saya anti-Arab, tapi rasanya masih gimana gitu ketika teman-teman yang 100% orang Jawa seolah menanggalkan identitas asal muasal nama anak mereka.

Nama-nama seperti Umar dan Fatih menjadi salah dua terfavorit, meneladani spirit kebangkitan umat yang belakangan makin sering digaungkan. Mewujudkan semangat juang yang diselipkan ke dalam nama anak tentu baik. Tapi jujur saya pun sedikit punya pertanyaan atas fenomena itu, apakah saya sedang tinggal di Arab bagian Indonesia? Atau memang seharusnya nama anak pegiat dakwah ya yang islami macam anak-anak teman saya itu?

Dua teman saya pernah berdebat perihal nama-nama anak semacam ini. Yang satu amat menyukai nama-nama Jawa, yang satu amat menyukai nama-nama Arab. Keduanya sama-sama terlahir dari suku Jawa dan sama-sama beragama Islam. Keduanya juga sama-sama bertikai untuk menamai calon anak yang bahkan belum ada. Benar-benar muslimah yang terlampau visioner.

“Nama adalah doa,” kata teman saya yang Arab-lovers. Maka sebaik-baik doa semestinya dilafalkan dalam Bahasa Arab juga. Bahasa Al-Quran, bahasa umat Islam. Pemilihan nama Arab jelas sudah menunjukkan identitas islam, sehingga membuat seorang anak jadi terlihat lebih islami.

“Allah menerima doa dalam banyak bahasa,” kata teman saya yang Jawa-lovers. Maka baginya, sebagai orang Jawa menitipkan doa pada anak melalui bahasa moyang mereka bukanlah pilihan buruk. Apalagi banyak falsafah Jawa yang sebenarnya berkaitan erat dengan nilai-nilai keislaman.

Baca juga:  Ketika Kucing Naik Haji dan Cerita dari Tanah Suci

Saya bukan Jawa-lovers, tapi saya sedikit kurang sepakat dengan pola pikir teman saya yang Arab-lovers itu. Iya memang Bahasa Arab bahasa Al-Quran. Tapi ya kali nama Arab adalah nama islami. Jangan salah, orang yang paling ingin membunuh Rasulullah dulu namanya pakai Bahasa Arab juga lho, Sis. Maksudnya, perihal nama seharusnya berdasar pada makna dan maksud yang baik, bukan sekadar karena semata-mata harus berasal dari bahasa Arab.

Meski begitu, bukan soal pemberian nama anak menggunakan Bahasa Arab yang mengganggu saya, melainkan karena ada fenomena lain. Belakangan ini umat Islam yang berpikiran seperti teman yang Arab-lovers tadi cukup banyak. Bahkan saking pengennya menjadi islami secara kaffah, beberapa orang mengubah nama kecil mereka dengan “nama Arab” setelah belajar agama untuk kemudian hijrah.

Perubahan nama ini diharapkan bisa menggantikan citraan mereka di masa lalu. Yang paling kita kenal misalnya Sakti Ari Seno mantan gitaris Sheila on 7 yang kini menamai dirinya Salman Al Jugjawy. Atau Peggi Melati Sukma yang kini menamai diri Khadijah SS.

Manusia yang bukan artis dan berganti nama setelah hijrah pun tidak sedikit, membuat saya curiga bahwa tren berganti nama Arab ini jangan-jangan cuma konspirasi jaringan mahasiswa Sastra Arab, pelaku bisnis terjemahan indonesia-arab yang selama ini selalu kalah job sama anak-anak penerjemahan indonesia-inggris.

Meski begitu tren mengubah nama ini juga merembet ke para sohibul hijrah, bahkan sebelum mereka akhirnya menamai anak-anaknya dengan nama Arab. Tentu saja tradisi”ini bukannya tanpa dalil alias dasar hukum, sehingga tiada bisa disebut sebagai bidah. Para sohibul hijrah melakukan pergantian nama dengan meneladani kebiasaan Nabi mengubah nama beberapa sahabat di masa Islam. Seperti Barroh menjadi Juwairiyah, Zahm menjadi Basyir, atau Ashiyah menjadi Jamilah.

Sebenarnya kalau diamati, pergantian nama para sahabat itu bukan untuk menandakan status baru mereka sebagai muslim baru hijrah. Lebih banyak cerita penggantian nama dilakukan karena nama lama mereka memiliki arti yang tidak baik. Misalnya ketika Nabi mengganti nama Ashiyah (artinya perempuan yang bermaksiat) dengan Jamilah (artinya perempuan yang cantik).

Baca juga:  Ketika Orang Asing Mengencingi Masjid Kampung

Sebagai pelaku hijrah, tentu saja saya juga menjalani prosesi pergantian (atau, dalam kasus saya, penambahan) nama yang ke-arab-arab-an. Saya punya nama hijrah islami yang sangat cantik, dengan doa pemberian dari para ikhwah yang Masya Allah sekali. Tapi kenapa nama baru itu tidak pernah saya publikasi, bahkan sekadar sebagai alter-ego dalam tulisan atau media sosial, misalnya?

Pertama, nama hijrah saya ini terkesan manis banget. Sangat tidak representatif dengan keadaan saya yang hina ini. Iya sih, nama adalah doa. Tapi bahkan Nabi “membatasi” doa baik dalam sebuah nama. Nama Barroh dalam bahasa Arab artinya wanita yang taat (atau jujur). Menurut Nabi nama ini termasuk kategori “menyucikan diri sendiri” atau “merasa diri suci” sehingga tidak disukai Allah sebagaimana firman-Nya di Surat ke 53 ayat 32.

Termasuk juga nama-nama berisi doa baik yang tidak disukai Nabi sebab dianggap berlebihan dan terkesan “menyaingi” Allah. Misalnya seperti; Malikul Amlak (Raja Segala Raja), Hakimul Hakim (Hakim Segala Hakim), apalagi Al Kholiq (Maha Pencipta).

Atas dasar itulah, saya hampir tidak pernah mempublikasikan nama hijrah islami yang saya miliki, karena justru memberi beban moril jauh lebih besar daripada sekadar panggilan becanda ukhti/ustazah dari teman-teman fesbuk. Saya khawatir jangan-jangan pergantian nama islami yang saya miliki dari nama sebelumnya yang tidak buruk sama sekali justru menjadi berlebihan di mata-Nya?

Ofkors, Wallahu a’lam bishawab.

Selain itu, bagi saya, doa dari kedua orang tua yang meskipun dalam bahasa entah ini (FYI akar kata “esty” pada nama saya sebenarnya agak aneh, sebab itu bukanlah “esthi” atau “ester”) adalah ‘sebaik-baik doa’. Mereka sudah memenuhi hak saya sebagai anak untuk mendapatkan nama yang baik, nama yang penuh doa, meskipun tidak dalam Bahasa Arab.

Lagian, dengan merasa cukup pada doa baik non-Arab ini, semoga perjuangan hijrah saya bisa lebih fokus pada hal-hal lain yang lebih fundamental ketimbang sibuk pada persoalan nama. Sebab sebagaimana tidak semua nama Inggris itu modern, tidak semua nama Arab juga serta merta lebih islami.