Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

Khairani Fitri Kananda oleh Khairani Fitri Kananda
18 Maret 2026
A A
Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Surat terbuka untuk KUA dan marketer-nya dari generasi cemas yang selalu dihantui pertanyaan, “Kapan nikah?” setiap momen Lebaran.

Satu-satunya yang membuat saya malas menghadapi momen kumpul keluarga seperti Lebaran adalah teror klasik dari pertanyaan Om dan Tante tentang, “Kapan nikah?”

Sebenarnya, saya punya jawaban yang cukup baik untuk Lebaran tahun ini. Misalnya, “Setelah Donald Trump meninggal,” atau, “Waktu dapur MBG tutup.”

Mungkin terdengar asal bunyi (asbun), tetapi saya tidak berbohong. Saya mulai ragu melihat banyak hal di tengah kondisi negara dan dunia yang kacau saat ini, tidak terkecuali pernikahan.

Maka dari itu, dengan kerendahan hati, saya ingin menuliskan ini, terkhusus untuk Bapak/Ibu KUA (Kantor Urusan Agama). Selain lembaga yang menjadi poros dalam bimbingan pernikahan dan keluarga sakinah, saya lihat belakangan KUA punya reputasi gemilang lewat pemasarannya.

Siapa tahu, ini bisa memantik diskusi agar tren pernikahan yang menurun drastis pada 2025 bisa kita bahas lebih mendalam. Bukan sekadar menyalahkan karakter generasi sekarang yang makin individualistis.

Konten KUA, pernikahan, dan kisah cinta yang paradoks

Sebelumnya, saya ingin mengapresiasi konten-konten menghibur yang dikeluarkan oleh KUA dengan tujuan mengingatkan para “generasi cemas” seperti kami untuk menikah. 

Kami diberi asupan tentang indahnya pernikahan, hidup berpasangan dengan orang yang dicintai. Ini adalah sebuah evolusi besar.

Dahulu, pernikahan punya banyak motif yang mendahuluinya; entah keturunan, ekonomi, martabat keluarga, hingga alienasi politik. Sekarang, pernikahan identik dengan cinta.

Namun, sebagaimana yang dituliskan Eva Illouz dalam Consuming the Romantic Utopia, saya percaya bahwa wacana tentang cinta ini dikonstruksi. Film romantis yang menampilkan kisah cinta tanpa syarat, misalnya, turut menopang bangunan ini—familiar dengan cerita perempuan miskin menikah dengan CEO? Itu contohnya.

Para ahli kesehatan mental juga aktif mengampanyekan kesejahteraan emosional selama menikah. Sehingga tidak aneh jika dalam ekspektasi kami, cinta dalam pernikahan hukumnya fardu.

Namun, saat ini kami sudah terpapar banyaknya informasi yang memperlihatkan pernikahan tidak sehat karena “hanya” mengandalkan cinta. Sebut saja KDRT, perselingkuhan, hingga penghilangan nyawa. Dari sini kami sadar butuh kekuatan logika agar cinta tadi tidak buta dan lupa arah.

Kontrak pranikah dianggap sesangsian pada takdir Tuhan?

Saya ingat dahulu sempat ramai dibahas tentang “kontrak pranikah”. Isinya semacam perjanjian yang mengatur konsekuensi yang terjadi selama pernikahan. Utamanya ini menyangkut harta, meski ada yang menambahkan aspek-aspek nonmaterial lainnya. Namun, pada dasarnya, otoritas individu juga penting meski sudah hidup bersama.

Memang, tidak semua dari kami menganggap perjanjian ini ideal. Masih banyak yang percaya bahwa pernikahan itu sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, termasuk rezeki. Adanya kontrak ini seakan menjadi wujud kesangsian terhadap takdir Tuhan.

Iklan

Namun percayalah, Bapak/Ibu, kami saat ini kebingungan. Saya akan coba menjelaskannya dengan sedikit melebarkan pembahasan kita. Semoga Bapak/Ibu marketer KUA masih sabar membacanya.

Baca juga: Terngiang-ngiang Tepuk Sakinah: Gen Z Malah Jadi Males Menikah, Tapi Manjur Juga Pas Diterapkan di Rumah Tangga

Bapak/Ibu KUA, kondisi kita sedang kacau, bagaimana caranya pernikahan membuatnya stabil?

Sebagai perempuan, saya pernah beranggapan bahwa menikah membuat saya berhak dinafkahi sepenuhnya oleh suami. Namun, belakangan saya melihat ada banyak pernikahan yang mengharuskan kedua belah pihak mencari nafkah bersama. Belum lagi para sandwich generation yang dituntut untuk menghidupi orang tua mereka juga.

Saya coba berefleksi: apakah ini ada hubungannya dengan tingginya angka pengangguran di negara kita?

Di lingkaran terdekat saja, ada banyak teman saya yang masih luntang-lantung mencari pekerjaan yang layak. Termasuk teman-teman saya yang lulusan S-2, harus bertarung dengan kondisi yang menempatkan mereka seakan overqualified karena pendidikan, tetapi juga underqualified karena minim pengalaman.

Membaca fenomena ini membuat saya jadi jauh lebih pintar dalam menyelamatkan diri. Kemandirian dibungkus dalam ambisi mengenali nilai diri, dan bekerja adalah pilihan paling realistis.

Dalam kondisi ini, rasanya sah kalau saya mulai meningkatkan standar dalam memilih pasangan. Saya tidak lagi mencari orang yang memenuhi diri secara materi. Namun, di sisi lain, saya juga tidak mau dengan laki-laki yang memanfaatkan ini untuk ongkang-ongkang kaki di rumah.

Hanya saja, lagi-lagi, ini jadi masalah. Perempuan yang terlalu pemilih ternyata dilihat tidak baik dalam masyarakat kita. Setidaknya itu yang dikatakan Ibu, Tante, Nenek, dan tetangga-tetangga saya.

Kalau boleh jujur, saya juga capek jadi pemilih. Pasti seru kalau bisa tinggal menikah saja dan membiarkan ombak menghantam seperti batu di pantai. Hanya saja, Bapak/Ibu yang terhormat, sayangnya kami hidup di negara yang tidak memberikan kami tempat untuk gagal.

Kami butuh jawaban, bukan sekadar hiburan

Teman saya membagikan cerita di unggahan Instagram. Dia baru saja mendaftarkan anaknya yang baru berumur dua tahun di sekolah dasar (SD) swasta unggulan di daerahnya. Saya juga pernah mendengar ada suatu sekolah di Jogja yang pendaftaran muridnya sudah penuh hingga tiga tahun ke depan.

Persaingan di sektor pendidikan ini bukan tanpa sebab. Kualitas pendidikan yang belum merata membuat orang tua terdorong untuk memasukkan anak-anak ke sekolah terbaik. Bukan tidak mungkin kelak itu juga yang akan kami hadapi.

Akan lebih mudah menyalahkan orang tua yang tidak bisa mendidik anaknya di rumah karena sibuk bekerja. Namun, sedikit yang mau peduli sulitnya mereka bertahan untuk bisa hidup layak saat harga barang semakin mahal.

Entah apa yang terjadi ke depan, entah perang dunia ketiga benar-benar meledak, yang jelas saya tidak merasa aman. Tidak ada lahan warisan yang bisa digarap; yang paling mungkin adalah menggarap KPI (Key Performance Indicator) agar tetap bertahan sebagai pekerja.

Mempercayakan hidup pada belas kasih negara juga terdengar tidak masuk akal. Ada banyak kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat kalangan menengah ke bawah.

Ini terdengar sangat skeptisisme, iya saya paham. Namun, saya harap ini bisa memberi gambaran Bapak/Ibu marketer KUA bagaimana ketakutan terhadap pernikahan ini bisa terbangun.

Kami tidak ujug-ujug takut menikah karena fomo (fear of missing out) atau terlalu egois karena makin mengerti kesehatan mental. Dunia di sekeliling kami berputar dengan cepat dan kami tidak tahu harus berpegang pada apa.

Sebenarnya, Bapak/Ibu KUA adalah tempat ideal bagi kami untuk mencari jawaban dari semua kegelisahan.

Kami adalah penyintas media sosial yang paham akal bulus pemasaran digital. Jari-jari kami bergerak secepat pikiran. Konten-konten hiburan yang menyentil “remaja tua” untuk menikah hanya menyentuh tombol like, bukan insecurity kami.

Semoga tulisan ini tidak dianggap sekadar yapping dari Gen Z yang belum dewasa. Kami juga menginginkan cinta yang aman dan terbebas dari rasa cemas. Kami juga ingin cerita pernikahan yang membuat kami merasa dirangkul, bukan dikejar-kejar target.

Penulis: Khairani Fitri Kananda
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Lebaran adalah Neraka bagi Pekerja Usia 30 tapi Belum Menikah, Sudah Mapan pun Tetap Kena Mental dan kisah seru lainnya di rubrik ESAI.

 

Terakhir diperbarui pada 20 Maret 2026 oleh

Tags: alasan childfree gen z jogjaGen Zkuamenikahpernikahan
Khairani Fitri Kananda

Khairani Fitri Kananda

Pekerja korporat yang tidak bisa lepas dari menulis dan belajar tentang apa saja. Semenjak merasakan pendidikan Antropologi di S2, jadi makin tekun mengamati isu-isu sosial terutama soal pendidikan, gender, komunitas lokal, dan Gen Z.

Artikel Terkait

Pekerja gen Z matikan centang biru WhatsApp dicap kepribadian buruk
Urban

Pekerja Gen Z Matikan Centang Biru WhatsApp demi Privasi, Malah Dicap Kepribadian dan Etos Kerja Buruk padahal Berusaha Profesional

5 April 2026
Gen Z rela sise hustle
Urban

Tak Cukup Satu Gaji, Gen Z Rela “Side Hustle” dan Kehilangan Kehidupan demi Rasa Aman dan Puas Punya Pekerjaan Sesuai Keinginan

30 Maret 2026
Ibu hamil kondisi mengandung bayi
Catatan

Hampir Memiliki Anak Sudah Jadi Anugerah, Ibu Tak Apa Berjuang Mati-matian demi “Buah Hati” yang Belum Tentu Lahir ke Dunia

29 Maret 2026
Metode Soft Saving ala Gen Z dan Milenial bahaya untuk pensiun. MOJOK.CO
Sehari-hari

Peringatan untuk Gen Z si Paling Soft Saving: Boleh Nabung Sambil Menikmati Hidup di Masa Kini, tapi Masa Tua Jangan Sampai Jadi Beban

28 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Salah jurusan, kuliah PTN.MOJOK.CO

Putus Kuliah dari PTS Elite demi Masuk “Jurusan Buangan” di PTN: Menang di Gengsi, tapi Lulus Jadi “Gelandangan” Dunia Kerja

5 April 2026
Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO

Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal

1 April 2026
User kereta api (KA) ekonomi naik bus Sumber Selamat: sebenarnya kursi lebih nyaman, tapi ogah tersiksa lebih lama MOJOK.CO

User Kereta Ekonomi Naik Bus Sumber Selamat karena Tak Ada Pilihan: Kursi Lebih Nyaman, Tapi Dibuat Hampir Pingsan

2 April 2026
Kerja WFH untuk ASN bukan solusi. MOJOK.CO

WFH 1 Hari dalam Seminggu Cuma Bikin Pekerja Boncos dan Nggak Produktif, Lalu Di Mana Efisiensi Pemakaian Energinya?

6 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026
Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung MOJOK.CO

Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung

6 April 2026

Video Terbaru

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026
Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

31 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.