fbpx

MOJOK.COAtma Jaya mengajari kita memanusiakan manusia, lewat program Yes, I Can berwujud Salon Sang Ratu. Aksi mulia mengikis stigma negatif transpuan dan kaum marjinal.

Betapa mengagumkannya kekuatan sebuah kata. Sejak kapan kamu mengenal kata “transpuan”? Saya sendiri baru mengenalnya ketika membaca tentang program Yes, I Can! yang digagas Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) bersama Pusat Penelitian HIV/AIDS (PPH) Unika Atma Jaya mengenai pemberdayaan transpuan, pekerja seks, dan anak jalanan.

Kata “transpuan” sudah bisa kamu gunakan untuk menyebut saudara-saudara kita yang dahulu disebut sebagai waria. Dulu, kata waria digunakan untuk menghaluskan istilah “banci” dan “bencong”. Banci merujuk kepada laki-laki yang bertingkah laku dan berpakaian sebagai perempuan.

Kata “banci” dan “bencong” menjadi simbol keterasingan. Sebuah kata untuk menyingkirkan mereka yang berbeda. Sebuah kata yang sukses mengiringi terbangunnya sebuah sterotip kalau waria itu perlu disingkirkan. Waria tidak sepantasnya mendapatkan tempat di kehidupan sosial. Padahal, mereka sama seperti saya dan kamu, mereka manusia.

Kita, sebagai manusia Indonesia, yang bangga betul dengan Pancasila dan menyembah kata toleransi, ternyata masih sulit melihat perbedaan yang jelas ada di tengah masyarakat. Kata toleransi terlalu melekat kepada perbedaan agama saja. Padahal, mereka dengan preferensi tertentu juga pantas dibagi kemewahan kata “toleransi”.

Oleh sebab itu, saya ingin mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada civitas academia Atma Jaya. (PPH) Unika Atma Jaya berani menggunakan kata “transpuan” untuk lebih menghaluskan lagi perbedaan. Mengajari kita sebuah istilah purba yang berbunyi: memanusiakan manusia.

Program Yes, I Can yang digagas PPH Unika Atma Jaya merupakan cara nyata serta kreatif untuk mengikis perbedaan dan keterasingan. Para transpuan diberi sebuah lingkunga terbaik untuk merasakan nikmatnya “dianggap sebagai manusia”. Cara kreatif itu bernama Salon Sang Ratu.

“Mari kita singkirkan isu negatif tentang transpuan, pekerja seks dan anak jalanan, menjadi manusia yang betul-betul punya kompetensi,” ujar Prof. Irwanto, Ph.D, Psikolog, koordinator program Yes, I Can!

Baca juga:  Memang Kamu Digaji Berapa, Kok Mau-Maunya Ngajar?

Transpuan, pekerja seks, dan anak jalanan menjadi kelompok yang termajinalkan. Mereka sangat sulit diterima dalam kelompok terbesar yang disebut masyarakat. Pekerja seks, misalnya, selalu berposisi sebagai korban, dieksploitasi, tanpa diteliti latar belakang dan kondisi jiwanya.

Tentu kamu masih ingat dengan tingkah anggota DPR yang mencoba menyedot atensi masyarakat dengan “mengorbakan” pekerja seks. Posisi itulah yang disiapkan untuk transpuan, pekerja seks, dan anak jalanan. Posisi terjauh dari hangatnya interaksi sosial. Berada dalam kotak tersendiri. Sebuah kalimat disematkan di atas kotak tersebut. Bunyinya: “Awas, mereka berbeda!”

PPH Unika Atma Jaya memberikan lingkungan terbaik bagi transpuan untuk diterima. Tunggal Pawestri, seorang aktivis gender, membagikan sebuah kabar yang membahagiakan. Tunggal bercerita bahwa berkat program PPH Unika Atma Jaya, transpuan mendapat perlakuan yang baik dari civitas academia, mulai dari mahasiswa, satpam, dan dosen.

Tentu ini kabar baik. Sebuah aksi nyata, kreatif–aksi yang baik–bakal menular. Mengajari kita bahwa mereka juga “manusia” dan punya kompetensi.

“Intinya melalui program ini merubah kebiasaan orang dari kelompok marjinal (anak jalanan, pekerja seks dan waria) menjadi seorang yang bisa bekerja, dilatih, dan ada sertifikasinya. Yang menjadi tantangan adalah menentukan kriteria targetnya,” ungkap Evi Sukmaningrum, M.Si., PhD., Kepala HIV/ AIDS Unika Atma Jaya.

Cara terbaik untuk memperlakukan transpuan dan kaum marjinal lainnya adalah dengan sebuah pengakuan. Kamu bisa belajar langsung ke Pondok Pesantren Al-Fatah, Kotagede. Ustaz Arif Nuh Safri, pengasuh pondok, transpuan harus dipandang sebagai manusia yang memiliki hak hidup serta beragama. Tak pelak, kehadiran sosok seperti Ustaz Arif pun menjadi oase bagi puluhan waria yang ingin belajar tentang agama.

Pada 2010, saat masih menjadi guru di Sekolah Menengah Akhir Universitas Islam Indonesia (SMA UII), Yogyakarta. Ustaz Arif diajak oleh Murtidjo, rekannya untuk mengunjungi pesantren transpuan. Murtidjo termasuk pendamping pertama sejak pesantren transpuan berdiri pada 2008. Waktu itu, pesantren tersebut masih terletak di kawasan Notoyudan, tepatnya di rumah seorang transpuan bernama Maryani.

Baca juga:  5 Pertolongan Pertama Salah Jurusan Bagi Mahasiswa Baru

Ketika melihat para transpuan yang serius mengaji, Ustaz Arif terenyuh. Beliau langsung menawarkan diri untuk ikut mendampingi belajar agama. Saat itu, sangat sulit mencari ustaz yang mau mengajar transpuan secara sukarela.

Awalnya, Ustaz Arif canggung dan gelisah. Beliau pun mengakui kalau dirinya belum bebas sepenuhnya dari stigma transpuan. Seiring waktu, pria kelahiran Medan, Sumatera Utara, ini bisa memahami.

“Di situ pentingnya lita’arafu, saya memaknai lita’arafu bukan hanya kenal-mengenal saja, tetapi juga memahami. Nah, cara terbaik memahami orang tentu saja dengan berdialog. Kalau sekadar mengenal, saya juga kenal Pak Jokowi dari media. Tapi, kan saya ndak memahami beliau,” katanya.

Selama mengajar, Ustaz Arif menyadari transpuan sulit diterima masyarakat. Mereka sangat susah masuk ruang-ruang sosial. Akibatnya, banyak yang sulit mendapat pekerjaan. Kondisi inilah yang memaksa mereka untuk bekerja di jalanan, seperti mengamen dan nyebong.

Tak hanya soal pekerjaan, bahkan dalam ruang ibadah seperti masjid pun, transpuan kerap memperoleh sikap diskriminatif dari masyarakat. Hal ini yang membuat Ustaz Arif makin menaruh simpati.

Perubahan yang ideal terjadi secara dua arah. Transpuan dan kaum marjinal lainnya juga punya hal diterima masyarakat. Paling tidak, sekali lagi, ini menjadi cara kita bersama untuk mau menerima atau paling tidak “ada” untuk mereka yang marjinal.

Untuk kamu ketahui, Salon Sang Ratu terbuka untuk siapa saja, tidak terbatas kepada civitas academia Atma Jaya saja. Tarif Salon Sang Ratu pun terjangkau. Untuk potong dan cuci rambut, kamu hanya perlu membayar Rp30 ribu. Untuk creambath, cuma Rp40 ribu. Masih sangat terjangkau.

Bagi saya, Salon Sang Ratu bukan alat mencapai kestabilan ekonomi kaum marjinal. Salon Sang Ratu seperti sebuah inkubator sosial. Sebuah alat untuk mengajari kita bahwa sesama manusia sudah selayaknya saling menghargai. Tidak ada yang lebih menyakitkan selain keberadaanmu dianggap tidak ada.

Terima kasih Atma Jaya.

BACA JUGA Mengajar Ngaji dan Santrimu Waria Semua atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.



Tirto.ID
Loading...

No more articles