Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja

Subkhi Ridho oleh Subkhi Ridho
20 April 2026
A A
Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja MOJOK.CO

Ilustrasi Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sekarang gelar sarjana nggak jadi jaminan mudah cari kerja. Kalaupun ada pekerjaan, upahnya nggak layak. 

Dua dekade lalu, gelar sarjana masih jadi semacam tiket untuk mudah cari kerja bagi kelas menengah. Sekarang, nggak bisa jadi jaminan. Sebagai dosen, ada perasaan sedih ketika melihat mantan mahasiswa saya harus bekerja tidak sesuai jurusannya. 

Saya yakin, mereka sudah berupaya keras untuk mendapatkan pekerjaan yang mereka diinginkan. Namun, dunia kerja di Indonesia ini sangat kejam.

Di Threads banyak berseliweran utas tentang anak-anak muda yang lulus sarjana terpaksa buka usaha kecil, seperti jual mie ayam, fried chicken atau lainnya. Terpaksa, karena lapangan kerja yang idamkan tidak tersedia, atau kalaupun ada tidak memberikan upah layak dan ruang untuk berkembang. 

Buka usaha, tentu tidak salah, tapi bukan hal yang mudah. Sarjana di Indonesia sebagian besar dipersiapkan untuk jadi pekerja, bukan pengusaha.

Data BPS dan Mandiri Institute mencatat bahwa kelas menengah Indonesia menyusut dari 57,33 juta jiwa pada 2019 menjadi hanya 46,7 juta jiwa pada 2025. 

Artinya lebih dari sepuluh juta orang turun dari kelas menengah dalam kurun waktu enam tahun. Bukan karena mereka malas, maupun tidak berpendidikan, tapi karena sistemnya memang tidak cukup menopang dengan kuat.

Gelar sarjana cuma jadi syarat administrasi

Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu punya penjelasan yang relevan tentang gelar sarjana yang tak lagi jadi senjata ampuh untuk cari kerja. Menurutnya, gelar akademik adalah bentuk capital — tepatnya institutionalized cultural capital, yakni modal budaya yang sudah diakui secara resmi oleh negara dan pasar. Fungsinya adalah menjadi alat konversi: ijazah S1 seharusnya bisa ditukar dengan posisi pekerjaan, gaji, dan status sosial yang setimpal.

Akan tetapi Bourdieu sendiri sudah memperingatkan jauh-jauh hari, bahwa nilai konversi modal semacam ini tidak permanen. Ketika ijazah sarjana terlalu banyak beredar di pasar, nilainya justru merosot. Ia menyebutnya qualification inflation: semakin banyak yang menyandang gelar, semakin kecil daya tukarnya. Ini yang terjadi di Indonesia sekarang.

Gelar sarjana tidak cukup lagi memiliki daya magis yang sama seperti dua dekade lalu. Dulu, ijazah S1 adalah bukti kompetensi sekaligus tiket sosial. Saat ini, ia lebih mirip syarat administrasi yang bahkan tidak menjamin gaji sepadan bagi penyandangnya, apapun latar belakang program studinya.

Data menunjukkan semakin banyak lulusan sarjana yang justru terjun ke sektor informal. Ini jelas bukan pilihan ideologis, bukan pula karena ingin “mandiri”, tapi akibat dari sektor formal yang tidak cukup menyerap mereka. 

Proporsi pekerja formal di kalangan kelas menengah merosot dari 62 persen pada 2019 menjadi 59,4 persen pada periode terkini. 

BPS mencatat, per Agustus 2023, mayoritas tenaga kerja Indonesia, (59,11 persen) bekerja di sektor informal. Hingga Februari 2025, tercatat lebih dari satu juta sarjana menganggur, fakta angka yang terus merangkak naik sejak 2022.

Gaji nggak sebanding dengan gelar sarjana yang susah payah didapat 

Ironisnya, ada yang lebih menyakitkan bagi seorang dengan gelar sarjana daripada sekadar tidak memperoleh pekerjaan formal: sudah bekerja, tetapi dengan gaji yang tidak layak. Puluhan ribu sarjana akhirnya meninggalkan karier yang sesuai bidang studi mereka bukan karena tidak kompeten, melainkan karena upah yang ditawarkan tidak sebanding dengan beban hidup. Juga tidak sebanding dengan empat hingga lima tahun pendidikan yang telah mereka investasikan.

Iklan

Di sinilah konsep social capital Bourdieu relevan diterapkan. Ia menegaskan bahwa modal sosial itu penting. Modal sosial seperti jaringan relasi, koneksi, dan keanggotaan dalam kelompok tertentu, bekerja sebagai multiplier: penguat dari modal-modal lain yang dimiliki seseorang. 

Seorang sarjana dengan jaringan alumni yang kuat, akses ke komunitas profesional, atau keluarga yang sudah terlebih dulu mapan, akan jauh lebih mudah mengonversi ijazahnya menjadi karier yang layak. Sementara sarjana yang datang dari keluarga biasa, tanpa koneksi, tanpa network yang mumpuni, modalnya mandek. Ijazah sarjana punya, tapi nggak ada yang menerimanya kerja.

Tak ayal, fenomena seorang sarjana teknik sipil menjadi admin media sosial, sarjana hukum beralih jadi reseller skincare, sarjana pertanian jualan thrift di platform marketplace pun menjadi lumrah. 

Bukan karena mereka nggak mau berusaha cari pekerjaan sesuai dengan jurusan, tapi ini adalah rasionalitas ekonomi yang sangat masuk akal. Dalam bahasa akademik dapat disebut occupational mismatch, tapi dalam bahasa sehari-hari cukup disebut: terpaksa karena keadaan.

Baca halaman selanjutnya

Negara absen saat sarjana susah cari kerja yang layak

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 20 April 2026 oleh

Tags: KampuskuliahMahasiswasarjana
Subkhi Ridho

Subkhi Ridho

Subkhi Ridho, merupakan dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan peneliti pada bidang komunikasi politik, demokrasi dan media digital, islamisme, etnografi digital.

Artikel Terkait

Horor Pendidikan di Jogja: Balita Dianiaya, Mahasiswa Dilecehkan MOJOK.CO
Tajuk

Horor Pendidikan di Jogja: Balita Dianiaya, Mahasiswa Dilecehkan

25 Mei 2026
Harga Kopi dan Ketakutan Dosen Bergelar Doktor pada Portal Error Menjelang Deadline MOJOK.CO
Esai

Harga Kopi dan Ketakutan Dosen Bergelar Doktor pada Portal Error Menjelang Deadline

25 Mei 2026
Catatan Getir Dosen Kalcer: Tampil Keren, tapi Cemas Mahasiswanya Jadi Sarjana Menganggur MOJOK.CO
Esai

Catatan Getir Dosen Kalcer: Tampil Keren, tapi Cemas Mahasiswanya Jadi Sarjana Menganggur

20 Mei 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan

14 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pelatihan keterampilan kerja bagi orang miskin dan disabilitas di Jawa Tengah MOJOK.CO

Sebuah Lembaga Tempat Orang Miskin dan Disabilitas Jateng Dapat Pelatihan Kerja Gratis, Dilatih 10-20 Hari Langsung Jadi Kartap Perusahaan

26 Mei 2026
Jawa Tengah terima berbagai penghargaan pendidikan dari Mendikdasmen, Gubernur Ahmad Luthfi tegaskan pendidikan adalah syarat mutlak meningkat SDM MOJOK.CO

Kualitas Pendidikan Jawa Tengah “Diakui”: Ubah Pola Pikir Lulus SMP Langsung Kerja hingga Sekolah Gratis untuk Warga Miskin

26 Mei 2026
Arca Unfinished Buddha yang ada di Candi Borobudur. MOJOK.CO

Ketika Patung “Cacat” Buddha di Lapangan Kenari Borobudur Justru Jadi Pusat Spiritual dan Magnet Doa Saat Waisak

27 Mei 2026
Pocong Itu Cuma Hantu Kemarin Sore di Jagad Demit Indonesia, tapi Mengapa Ia Paling Menyeramkan.MOJOK.CO

Pocong Itu Cuma Hantu Kemarin Sore di Jagad Demit Indonesia, tapi Mengapa Ia Paling Menyeramkan?

25 Mei 2026
Horor Pendidikan di Jogja: Balita Dianiaya, Mahasiswa Dilecehkan MOJOK.CO

Horor Pendidikan di Jogja: Balita Dianiaya, Mahasiswa Dilecehkan

25 Mei 2026
Gedebage, Bandung.MOJOK.CO

Bandung Kota Overrated dan Penuh Masalah, Anak Mudanya Tetap Waras karena Persib

24 Mei 2026

Video Terbaru

Antara Stabilitas Kerja dan Jalan Berkarya, Cerita Perunggu Menjadi Musisi Penuh Waktu

Antara Stabilitas Kerja dan Jalan Berkarya, Cerita Perunggu Menjadi Musisi Penuh Waktu

14 Mei 2026
Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.