Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja

Subkhi Ridho oleh Subkhi Ridho
20 April 2026
A A
Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja MOJOK.CO

Ilustrasi Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Negara absen saat lulusan perguruan tinggi cari kerja yang layak

Di sini sering kali yang luput dari diskusi publik: pemerintah nyatanya tidak cukup berupaya sungguh-sungguh menyediakan lapangan kerja formal. Padahal di saat yang sama, negara terus menarik pajak dengan rajin. 

Kenaikan PPN menjadi 12 persen yang mulai berlaku awal 2025 adalah ironi yang lengkap bagi kelas menengah yang sedang compang-camping karena diminta menanggung lebih banyak beban fiskal, sementara lapangan kerja yang layak tidak kunjung ditambah oleh kementerian maupun lembaga-lembaga terkait. 

Keberadaan Pasal 27 ayat (2) UUD 1945, yang berbunyi: “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan,” dan Pasal 28D ayat (2): “Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja,” jadi sekadar mantra manis dalam konstitusi namun miskin implementasi.

Menurut saya ini adalah kontradiksi kebijakan dari negara. Saat negara butuh penerimaan pajak yang besar untuk membiayai program pembangunan, tapi lupa bahwa basis pajak yang kuat hanya bisa tumbuh jika kelas menengahnya tidak terus-menerus terkikis. 

Gengsi karena tekanan lingkungan sosial

Ada satu lapisan lagi yang membuat situasi ini makin pelik: gengsi. Bourdieu kembali hadir dengan konsepnya, symbolic capital. Ia menjelaskan bahwa prestise, kehormatan, dan pengakuan sosial adalah bentuk modal yang nyata, bukan sekadar perasaan. 

Gelar sarjana selama ini bukan hanya soal kemampuan intelektual, melainkan juga simbol status yang menjadi penanda bahwa seseorang layak diperhitungkan dalam hierarki sosial.

Maka ketika seorang sarjana bekerja sebagai karyawan kafe, jualan online, atau jadi ojol, yang terasa bukan hanya kehilangan penghasilan yang diharapkan, melainkan kehilangan symbolic capital yang selama bertahun-tahun dibangun. 

Generasi Z yang berbondong-bondong work from café pun tak selalu soal gaya hidup; sebagian dari mereka tidak punya pilihan ruang kerja lain yang terjangkau, namun tetap harus tampak “sesuai ekspektasi” di mata lingkungan sosialnya. 

Masalahnya, sekali lagi bukan mereka tidak mau kerja keras. Namun, akibat standar sosial tentang “pekerjaan yang layak” belum ikut menyesuaikan diri dengan realitas pasar kerja yang sudah jauh berubah.

Seni bertahan hidup yang negaranya nggak bisa membuat kelas menengah tumbuh

Ketika seorang sarjana memilih jalan yang tidak linear atau yang tidak sesuai jurusan, tidak berkantor, pun gajinya tidak bisa dipamerkan di reuni, itu bukan kegagalan. Dalam kerangka Bourdieu, itu adalah strategi bertahan dalam field yang aturan mainnya sudah berubah. Mereka sedang mencari cara baru untuk mengonversi modal yang mereka miliki, di medan yang tidak lagi berpihak kepada mereka.

Inilah adaptasi sesungguhnya. Sebuah kreativitas yang lahir dari ketiadaan pilihan. Tampaknya perlu mengganti narasi usang yang dinormalisasi. Tidak lagi menyebut “sarjana kok kerjanya begitu,” melainkan: luar biasa, mampu bertahan di ekosistem yang tidak ramah ini.

Sebab seni bertahan hidup, di negara yang kelas menengahnya terus menyusut dan lapangan kerja yang layak tidak kunjung tumbuh, adalah keahlian tersendiri. Bourdieu sudah menjelaskan semua ini sejak 1986, kita saja yang memilih tidak mendengar. Lalu mau berharap pada siapa saat negara makin jauh terasa di denyut nadi rakyatnya?! Wallahu alam bisshawab.

Penulis: Subkhi Ridho
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung dan opini menarik lainnya di Esai Mojok.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 20 April 2026 oleh

Tags: KampuskuliahMahasiswasarjana
Subkhi Ridho

Subkhi Ridho

Subkhi Ridho, merupakan dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan peneliti pada bidang komunikasi politik, demokrasi dan media digital, islamisme, etnografi digital.

Artikel Terkait

Sarjana BK Kebingungan Tentukan Arah Masa Depan: Tak Otomatis Jadi Guru BK, Jadi Dosen pun Susah

19 Agustus 2026
Fenomena sarjana jadi pengangguran karena ijazah kuliah memang bulan modal ekonomi dan persoalan ketimpangan kapital MOJOK.CO

Bedah Penyebab Sarjana Pengangguran: Ijazah Kuliah Tak Bisa Jadi Modal Ekonomi, Dapat Kerja Ditentukan Privilege Keluarga

15 Agustus 2026
Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026
Pesan Menohok dari Ibu: Saat Doa Menjadi Satu-satunya Kuliah, Permintaan dan Jangan Sampai Tiang Itu Roboh di Perantauan MOJOK.CO

Ortu Rela Melepas Anaknya Kuliah Mengejar Mimpi, tapi Dihantui Rasa Takut Salah Pergaulan di Perantauan

31 Juli 2026
sarjana muda gusar mencari kerja. MOJOK.CO

Realita Sarjana Muda Gusar Mencari Kerja: 4 Tahun Lamanya Berkutat dengan Buku, Lulus Kuliah Memilih Pasrah

23 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Pesan veteran Indonesia di momen kemerdekaan. MOJOK.CO

Dari Veteran Indonesia ke Generasi Muda yang Pesimis Rayakan Kemerdekaan: Bacalah Buku Sejarah!

19 Agustus 2026
ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026
Saat adik saya jadi korban bullying (perundungan) di sekolah, pihak guru malah menganggapnya masalah biasa MOJOK.CO

Melabrak Guru usai Adik Jadi Korban Bullying di Sekolah hingga Cedera: Saya Justru Menerima Jawaban Memuakkan

18 Agustus 2026

Punya 30 Kamar Kost Putri Ternyata Tidak Seindah yang Dibayangkan

19 Agustus 2026
Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.